27. He's Back

45 2 0
                                        

if death could end this agony, i would choose it. But if I continue to live without being with you, I can't either.
~ Alliona.


Kalura nampak bingung dan cemas setelah mengetahui Alliona kini disekap di kastil Arten. Ia berusaha menggunakan sihirnya yang tersisa untuk menyamar sebagai penjaga penjara agar bisa melihat kondisi gadis malang itu.

Tapi seiring berjalannya hari, kekuatan sihir Kalura semakin melemah. Ia tidak bisa leluasa melakukan sihirnya dan menyamar dalam waktu yang lama. Tentu jika ia memaksakan melakukan penyamaran, para penjaga akan mengetahuinya.

Kalura mendudukkan dirinya di ranjang. Sejak mengetahui Hero masih hidup, perasannya begitu lega. Kalura ingin sekali bertemu dengan adiknya itu. Sesekali terbesit di pikirannya ingin berkomunikasi dengan Hero lewat sihir nalurinya. Namun Kalura tidak tahu apa dirinya masih bisa melakukan itu, setelah sihirnya hampir habis karena Alexus menyerapnya.

Kalura yang semakin khawatir pun memutuskan untuk ke dapur mengambil segelas air. Ia ingin membasahi kerongkongannya yang sudah berjam-jam tidak dialiri air. Namun saat tiba disana, Kalura berpapasan dengan Beatrix. Ia pun menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat.

"Tidak perlu seperti itu padaku, Kalura. Kau juga seorang putri. Derajatmu sama denganku," ujar Beatrix dengan nada santainya.

Kalura menegakkan kepalanya lagi. Terdiam.

Beatrix menghela nafas. Netra hijaunya menatap Kalura. "Kau pasti sedang mencemaskan gadis itu kan?"

Kalura menatapnya, masih diam.

"Tidak usah khawatir calon kakak ipar. Dia akan baik-baik saja selama ayahku sedang mempersiapkan ritual itu."

Calon kakak ipar? Ritual? Apa maksud semua itu?

Kalura membenak sejenak. Ia kembali teringat bahwa sampai sekarang, Beatrix pasti masih mencintai Hero.

Saat Beatrix hendak pergi melaluinya, Kalura menyentuh lengan wanita itu.

"Tolong putri Beatrix, jangan sakiti Alliona. Aku mohon,"

Mendengar itu Beatrix sedikit terkejut. Ia menepis pelan lengan Kalura dan menatapnya. "Kenapa putri begitu memperdulikannya?" Beatrix mendecak pelan. "Kenapa semua orang peduli padanya?"

Namun dengan cepat raut wajah Beatrix yang nampak sedih berubah. Dia tersenyum tenang.
"Aku sudah bilang kau tidak usah khawatir,"

Setelah mengatakan itu Beatrix pergi. Sementara Kalura terdiam di tempat.

Apa ritual itu akan dipercepat?

***

Sudah tiga hari Alliona tinggal di kastil Arten. Alliona merasa dirinya diasingkan di dalam kastil yang mirip dengan bangunan marcusuar itu. Di sebuah kamar yang berada di puncak menara itu, kedua kaki Alliona dirantai sehingga ia tidak bisa pergi kemana pun. Alliona hanya sendiri disana, terpuruk dengan kondisinya sekarang.

Bahkan Alliona nyaris depresi, ketika ia juga harus memendam rindu yang terasa seperti racun. Rindu pada dua orang yang sangat Alliona sayangi. Rindu itu benar-benar seperti racun yang membuatnya sulit tidur dan makan. Bayang-bayang Hero dan kakaknya Alzhery selalu memenuhi pikirannya. Alliona sering berkata dalam hati. 'Jika mati adalah yang terbaik, Alliona ingin mati saat itu juga.

Di tengah lamunannya itu, Alliona baru menyadari ada sebuah foto yang tergeletak dibawah kolong meja dan berada cukup jauh di depan tempat tidurnya. Alliona mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat foto itu lebih jelas. Dan yang dilihatnya adalah foto beberapa orang dengan pakaian yang seragam, hitam.

Never Forget YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang