Kuda mereka terus berlari menelusuri hutan. Sebagian anggota terus berupaya melepaskan anak panah kearah prajurit yang sedang mengejar mereka. Kuda Alzhery, Hero dan Silva berada paling depan dan tercepat. Semakin jauh melintasi hutan itu, semakin sulit medan jalan yang mereka lewati.
"Pegangan yang kuat Alliona!" titah Alzhery. Alliona menurut mengeratkan pegangannya. Sebentar lagi, mereka akan menyebrangi jembatan kayu yang rusak karena terputus. Maka dari itu, Alzhery mulai memberi aba-aba pada anggotanya untuk bersiap dan saat kuda mereka melewatinya.
"Siap?"
Alliona mengintip sekilas jalan yang ada di depan mereka dan cukup terkejut. Ia pun memejamkan matanya dan mengangguk. Alzhery menghitung mundur dalam hati. Kudanya mulai melengking keras saat mulai melompati jembatan tersebut dan akhirnya berhasil disusul kuda-kuda lainnya.
Alliona membuka mata, cukup lega mereka berhasil. Ia menoleh kebelakang. Sebagian kuda prajurit Nepthenis terjatuh saat mereka melewati jembatan.
"Kemana kita akan pergi Al?"
"Gua Slytherin," jawab Alzhery.
Alliona terdiam ketika mengingat nama gua itu. Dimana gua itu tempat Hero bermeditasi. Beberapa lama kemudian, Alliona merasakan adanya perbedaan suasana dalam hutan yang baru saja dimasuki mereka. Hutan yang tadinya terasa gelap dan mencekam kini menjadi terang. Mereka disambut oleh pemandangan yang indah.
Cahaya matahari masuk menyelubungi celah-celah pepohonan, banyak bunga-bunga dan tanaman langka penuh warna menghiasi sepanjang hutan itu. Di depan merema sebenatar lagi adalah sebuah gua. Kuda Alzhery berjalan pelan memasuki mulut gua yang ditutupi semak-semak dan tumbuhan lebat. Mereka berdua pun turun dari kuda, setelah itu, barulah kuda-kuda anggota yang lain termasuk Hero dan Silva sampai disana.
Alzhery segera menarik lengan Alliona memasuki gua lebih dalam lagi.
"Kenapa kita kesini?" tanya Alliona penasaran.
"Kau akan tau nanti," jawab Al. Langkah mereka terhenti saat seekor jaguar menghadang mereka. Alliona nyaris terjungkal karena terkejut melihat hewan yang warna kulitnya tak biasa itu.
"Jangan takut Putri, dia akan menghormatimu," suara lembut seorang laki-laki menggema di ujung gua. Dan benar, jaguar itu menggeram halus, seakan tunduk pada Alliona. Ia malah merebahkan tubuhnya dengan santai.
Setelah itu, mereka lanjut berjalan diarahi Bitrace. Di depan sana Luna sudah menunggu mereka. Kaum Elf Bintang itu menundukkan kepalanya dalam lalu tersenyum pada Alliona. Luna pun seketika memeluk Alliona. Perasaannya lega melihat Alliona dan yang lainnya baik-baik saja.
"Kau tidak apa-apa Alliona? Apa kau terluka?" tanya Luna memastikan.
"Aku baik-baik saja Luna," balas Alliona tersenyum. Ia pun menoleh ke samping saat Eros, Silva dan Hero tiba disana.
Namun Alliona mengernyit sekaligus terkejut saat melihat kondisi Hero. Tubuhnya kembali tembus pandang seperti saat mereka bertemu dulu. Kali ini nyaris tak terlihat.
"Hero... tubuhmu..?"
Hero hanya menoleh lalu tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Alliona serak.
Laki-laki itu kemudian mendekat, berdiri dihadapan Alliona. "Aku kan sudah pernah bilang, bahwa sihirku kembali hanya sementara."
Saat Alliona hendak melangkah mendekati Hero, Alzhery memegangi lengannya, membuatnya seketika menoleh.
"Dengarkan aku, Alliona. Kita semua tidak punya banyak waktu lagi. Sekarang kau harus segera masuk ke dimensi lain agar bisa terhindar dari ritual Alexus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasy[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
