Satu bulan sudah Alliona tinggal di istana Avoenus. Diangkat menjadi seorang putri oleh Ratu Keanne dan menggantikan putri sebelumnya, putri Lucy A Litzy Avoenus. Alliona diterima oleh semua penghuni kerajaan dan mulai diperlakukan layaknya seorang putri.
Alliona benar-benar tidak menyangka kedatangannya juga disambut baik oleh penduduk Avoenus. Mereka banyak memuji kecantikan dan keramahan Alliona. Sejak awal kedatangannya juga, tak sedikit pria yang ingin meminang Alliona. Bukan hanya dari kalangan bangasawan Kerajaan, namun juga penduduk di wilayah Avoenus.
Tapi disisi lain, Alliona harus jauh dari Hero. Terakhir kali mereka bertemu pada malam hari, sebelum Alliona berangkat ke istana Avoenus. Alliona menceritakan semua kejadian di siang hari itu pada Hero. Laki-laki itu tentunya senang mendapat kabar bahwa Alliona akan diangkat menjadi putri Ratu Keanne. Tapi justru Alliona sendiri yang merasa berat. Berat rasanya meninggalkan pangeran itu.
Selesai makan malam di ruang makan, Alliona langsung kembali ke kamarnya. Menyisakan perasaan yang sedikit tidak nyaman. Ini sudah satu bulan, Alliona mencoba berbaur dengan para penghuni istana termasuk Raja Lionel. Tapi sejauh ini, hubungan mereka masih jauh dari kata 'akrab'. Yang ada hanya canggung. Bahkan kini tatapan dingin Sang Raja masih terbayang di pikiran Alliona.
TOK TOK TOK!
Alliona terkesiap mendengar ketukan pintu kamarnya. Beberapa saat, pintu terbuka. Ratu Keanne muncul di balik pintu.
"Apa aku mengganggumu?"
Alliona lekas menggeleng. "Tidak Yang Mulia."
Ratu Keanne pun menghampiri Alliona lalu duduk di kursi dekat jendela. Alliona akhirnya ikut duduk disitu berhadapan.
"Aku hanya ingin bicara." Ratu Keanne menghela nafas pelan lalu menatap iris keemasan Alliona. "Aku minta maaf atas perlakuan putraku saat makan malam tadi. Aku tahu itu tentu tidak nyaman bagimu Alliona."
Alliona mengangkat wajahnya lalu tersenyum samar. "Tidak perlu minta maaf Yang Mulia. Saya tidak apa-apa."
Ratu mendengus pelan. "Putraku hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu. Dia masih merasa kehilangan Lucy dan dia belum bisa melupakan adik perempuannya itu."
Alliona mengangguk mengerti. Ia menundukkan kepalanya. "Saya mengerti yang mulia. Saya yang seharusnya minta maaf, karena kehadiran saya disini telah menggantikan posisi putri Lucy."
Ratu Keanne menggeleng. "Tidak Alliona, jangan minta maaf. Aku memang sudah menganggapmu sebagai putriku. Itu artinya kau juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Aku sudah mengangkatmu sebagai seorang putri Keeajaan Avoenus." Ratu menyentuh pundak Alliona lembut, menatapnya tennag. Wanita itu memiliki jiwa keibuan yang baik.
Alliona hanya terdiam menatap wajah Ratu Keanne.
"Sekarang, istirahatlah dan aku harap kau bisa melupakan kejadian tadi ya," ujar Ratu.
Alliona hanya mengangguk. Ratu Keanne kmaudian beranjak dari sana meninggalkan kamar Alliona.
***
Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tak terasa satu tahun berlalu. Alliona hidup dan tinggal di istana Kerajaan Avoenus. Sebuah kerajaan yang Alliona tidak pernah tahu eksistensinya selain Kerajaan Alvonlea. Kehidupannya yang sudah berubah membuat Alliona mulai terbiasa tinggal di istana, sebagai seorang putri.
Kabar baiknya, Raja Lionel sudah benar-benar menerima kehadiran Alliona. Sang Raja mulai menunjukkan sikap ramahnya. Bahkan kini sudah menganggap Alliona sebagai seorang adik. Tentunya para penghuni istana sangat senang dan merasa lega.
Memikirkan Hero? Itu bukan kabar buruk lagi. Setiap gadis itu menyendiri di kamar, bayangan Hero terus muncul, melintas di kepalannya. Alliona sadar akan perasaannya. Ia sangat merindukan lelaki itu.
Tinggal di istana Avoenus membuat Alliona harus berpisah dengan pangeran itu. Ditambah mereka jadi jarang berkomunikasi karena Hero sedang disibukkan dengan pelatihan prajurit-prajurit baru di istananya. Alliona sangat menantikan acara-acara tertentu supaya bisa bertemu dengan Hero. Misalnya acara pesta, atau acara formal kerajaan lainnya.
Jarak antara kerajaan Alvonlea dan Avoenus sangat jauh. Menyeberangi pulau, melintasi dua hutan dan melewati beberapa desa terpencil. Itulah alasan mereka berdua sangat sulit bertemu. Bahkan, saat Ratu Keanne pergi membawanya ke istana, mereka memilih menggunakan portal sihir untuk bisa sampai di Avoenus dengan cepat.
Alliona dikenal sangat pendiam oleh penghuni istana bahkan masyarakat. Alliona hanya merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang hilang. Ia tidak lagi sesemangat dulu. Bahkan Raja Lionel pun sampai menjulukinya putri yang kesepian.
Kembali pada kebiasannya di malam hari, melamun. Alliona sedang mendongak menatap langit malam, membiarkan angin bertiup menghempas rambut panjangnya kebelakang. Walau angin malam menyentuh kulitnya dingin, Alliona tetap menikmatinya. kadang pula Alliona merindukan keheningan. Rindu suasana sunyi yang melingkupinya, sampai Alliona tidak sadar dengan pintu kamarnya yang sudah terbuka.
Helena, pelayan pribadi Alliona muncul dibalik pintu. "Permisi, putri Alliona,"
Alliona mengerjap terkejut lalu menoleh.
"Maaf, jika saya membuat putri Alliona terkejut. Saya sudah mengetuk pintu kamar putri sedari tadi, tapi tidak ada jawaban apapun dari putri." Helena berkata sopan. Kedua tangannya sibuk membawa nampan berisi teh dan biskuit.
"Oh, aku minta maaf Helena. Aku tidak mendengar ada yang mengetuk pintu."
Helena tersenyum. "Tidak apa putri Alliona. Tidak perlu minta maaf. Saya kesini hanya ingin membawakan teh untuk putri. Yang mulia Ratu Keanne bilang, 'supaya putri tidak sering melamun."
Alliona tertegun. Ia jadi sedikit kikuk. Helena mungkin juga tahu bahwa kebiasaan Alliona akhir-akhir ini adalah... melamun.
"Te-terima kasih, Helena."
Helena terkekeh sangat pelan. "Sama-sama, putri Alliona. Kalau begitu saya permisi. "
Alliona mengangguk, menatap punggung Helena sampai keluar dari kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasy[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
