Satu hari setelah kejadian di hutan, Mala dan Levia pergi ke Alvonlea untuk bertemu dengan Alliona dan Hero. Luna menemukan beberapa memar di punggung dan pipinya. Tapi untungnya Alzhery segera menyembuhkannya dengan sihir dan kini kondisi Alliona sudah membaik.
Disisi lain, semalam Hero tidak pulang ke kastil. Alzhery dan Luna sudah mencarinya menelusuri hutan. Namun pangeran Alvonlea itu tak kunjung ditemukan. Kalura bilang, mungkin Hero sedang ingin menyendiri dan meyakini laki-laki itu pasti akan kembali jika dirinya sudah merasa tenang.
***
"Aku sudah mewaspadai hal ini sejak dulu. Dan sekarang semua kekhawatiran itu terjadi," keluh Alzhery.
"Aku tahu, dampak White Clover memang tidak bisa diabaikan. Bisa menguntungkan, bisa juga membahayakan. Semuanya mempunyai kelebihan dan dan kekurangannya masing-masing," tambah Mala.
"Tapi... bagaimana bisa Black Clover berpindah pada tubuh Pangeran Hero?" tanya Luna.
"Black Clover akan lebih sering mendominasi jiwa pemiliknya jika pemilik itu jarang menggunakan dan melatih sihirnya. Iblisnya bisa berpindah kapan saja melalui sentuhan fisik dengan orang yang ada didekatnya," jawab Al. Pria itu kemudian menunduk. Ingatannya menerawang masa lalu sejenak.
"Sama seperti ibuku dulu. Saat Black Clover dalam dirinya sedang mendominasi, ayahku akan berusaha memeluknya, memindahkan iblis dalam tubuhnya kepada ayahku agar ibu tidak menyerangku dan Alliona."
"Ayahmu bisa mengendalikan iblis Black Clover?" tanya Levia. Alzhery mengangguk.
"Keahlian ayahku adalah mengunci sihir dan mengendalikan amarah, termasuk amarah ibuku,"
"Jadi maksudmu tadi, Alliona harus sering berlatih menggunakan sihirnya agar pengaruh Black Clovernya hilang?" timpal Luna mengulangi.
"Bukan hilang, tapi berkurang. Aku yakin semakin dewasa, Alliona akan bisa mengendalikannya," ujar Al lagi.
****
Sore hari yang dingin itu menyentuh suhu dua puluh dua derajat celsius. Hujan telah reda dua jam lalu dan kini berganti angin berhembus yang cukup kencang. Di rooftop, Alliona tengah duduk di kursi seorang diri.
Ia mengeratkan jaket tebalnya agar tubuhnya bisa lebih hangat. Tak jauh di depannya, terdapat tumpukan kayu bakar yang sudah tak terpakai. Melihat kayu bakar itu Alliona teringat sesuatu.
Gadis kecil itu berdiri mendekati kayu bakar lalu berjongkok dihadapannya. Seketika terlintas dibenaknya, berandai-andai dirinya bisa menciptakan api dari tangannya seperti Alzhery.
Lantas Alliona mencobanya. Ia menyentikkan ibu jari dan jari telunjuknya bersamaan, persis seperti apa yang dilakukan Alzhery. Namun setelah berkali-kali mencoba ia tak berhasil, dan akhirnya menyerah. Tapi tanpa disadari tangannya yang sedang mengibas kebawah tiba-tiba memunculkan bola api berukuran kecil.
Bersamaan dengan munculnya api, kedua iris mata Alliona pun berubah menjadi putih seluruhnya. Alliona memekik karena terkejut melihat api muncul dari telapak tangannya. Spontan gadis kecil itu panik. Ia mengibaskan-ngibas tangannya melenyapkan api, namun gumpalan api tak mau padam.
Bahkan saking paniknya tangan berapinya malah mengenai pakaian Alzhery dan ayahnya yang sedang digantung dijemuran. Dalam hitungan detik, api membakar ujung baju itu. Alliona yang semakin panik merengek memanggil Alzhery.
Sontak Al yang sedang berada dibawah mendengar Alliona memanggilnya. Ia pun bergegas menaiki tangga kearah rooftop dan mendapati Alliona tengah menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasia[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
