49. The Latent Trigger

9.8K 379 11
                                        

Entah bagaimana lagi cara aku meminta kalian agar memberikan vote dan komen. Setidaknya itu bayaran untuk waktu yang terbuang ketika menulis cerita ini.

 Setidaknya itu bayaran untuk waktu yang terbuang ketika menulis cerita ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

𓆩☠︎︎𓆪

Kejadian di taman tadi membuat Anya mengeluarkan tangisan kencangnya ketika sudah sampai di rumah. Sarah sang nenek pun dengan sabar menenangkan sang cucu dengan cara memeluk dan menepuk-nepuk punggung kecil yang terlihat rapuh itu.

"Sudah kubilang jangan bermain di luar lagi," celetuk Olivia terdengar dingin membuat Sarah kesal bukan main.

"Dia bosan jika terus bermain di rumah. Lagipula diam di rumah pun kau sama sekali tak menemaninya." Untuk pertama kali dalam beberapa tahun, Sarah akhirnya bertutur kata sinis pada sang putri. Ia bahkan melupakan kehadiran Anya yang bisa mendengar perdebatan mereka.

"Bunda, kau tahu sendiri aku harus bekerja."

"Tidak mungkin kau tidak memiliki waktu untuk putrimu sendiri. Kau bahkan beruntung bisa bekerja di rumah sambil mengawasi Anya. Sesekali ajaklah dia mengenali kota ini."

Setelah melihat Anya dijauhi oleh beberapa anak, Sarah merasa khawatir akan kehidupan sosial sang cucu. Ia takut suatu saat nanti Anya tidak ingin memiliki teman atau sekedar melihat dunia luar seperti Olivia saat ini.

"Iya, nanti jika Oliver kemari."

"Apa hubungannya dengan Oliver? Kau adalah ibunya, kau harus melakukan sesuatu."

Sarah hanya ingin Olivia selalu menemani atau mengobrol dengan Anya. Ia tidak kuat melihat interaksi dingin antara pasangan anak dan ibu itu.

"Kau tidak mengerti aku, Bunda. Kau memiliki suami dan hanya diam di rumah tanpa memikirkan pekerjaan."

Oh, itu adalah kata-kata menyakitkan yang Sarah dapatkan pertama kali dari putrinya sendiri. Bahkan Olivia terlihat mulai beranjak pergi, tak memedulikan dirinya dan Anya yang menangis semakin kencang.

"Anya, maukah kau ikut denganku bertemu Grandpa?"

Langkah Olivia seketika terhenti ketika mendengar Sarah ingin membawa anaknya menuju kota yang dibencinya.

"Aku ingin bertemu Papa, Grandma ... tolong bawa aku bertemu dengan Papa."

"Iya, nanti—"

"Jangan! Kau tidak boleh ke mana-mana, Anya!" ucap Olivia dengan suara yang kencang tanda panik membuat Anya dan Sarah kaget bukan main. "Kau adalah milikku, Anya. Jangan berani meninggalkanku."

Perempuan itu merebut Anya dari pelukan Sarah, tak peduli dengan gerakan kasar yang berhasil menyakiti putrinya sendiri.

"Olivia ...." Sarah menangis kencang melihat kemarahan sang putri. Itu membuatnya takut untuk meninggalkan Anya tinggal di sini bersama Olivia.

ScandalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang