[LOEN #2 | Ethan & Olivia]
Bermula dari bermusuhan menjadi selingkuhan. Begitulah hubungan yang terjalin antara Ethan Jasper Loen dengan Olivia Calista Loris. Lalu apakah mereka akan terus mempertahankan hubungan yang tidak jelas itu? Bagaimana cara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⋆༺𓆩☠︎︎𓆪༻⋆
Usia kandungan Olivia kini sudah menginjak delapan bulan. Selama itu pula tak ada yang berhasil menemukan keberadaannya di kota besar ini. Entah karena mereka tidak berusaha, atau memang mereka kesulitan mencarinya, ia tak peduli.
Selain kabar orang tuanya, ia tak tahu menahu tentang apa pun dari kota asalnya—terutama kabar lelaki yang sudah menitipkan benih di rahimnya. Ia hanya sekedar mendengar dari kedua sahabatnya bahwa Ethan sudah lama tak terlihat di universitas seolah menghilang tanpa kabar sejak video mereka tersebar.
Jessica mengatakan bahwa informasi tentang Ethan cukup sulit didapat mengingat perempuan itu merupakan sepupu dari Jovan. Namun, seluruh sahabat atau orang-orang yang mengenali Ethan dibuat tutup mulut membuat kedua sahabatnya itu curiga, sedangkan dirinya sama sekali tak peduli.
"Satu bulan lagi, ya?" monolognya sambil mengusap perutnya yang buncit. "Aku harap aku bisa menjadi ibu yang baik bagimu."
Tak sadar, air matanya mengalir di pipi karena merasa tak siap untuk menyambut hadirnya sang putri. Bukan tanpa alasan, ia sering sekali merasa ketakutan saat memikirkan bahwa dirinya akan menjadi single parent dan harus bersembunyi dari keluarga sendiri entah sampai kapan.
Tak mau berlarut dalam kesedihan, ia menghapus jejak air matanya dengan cepat kemudian segera melakukan aktivitas ringan yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan pikiran. Ia pun memilih menyibukkan diri dengan mengemas barang dan pakaian untuk dibawanya nanti ke rumah sakit saat melahirkan.
Hari perkiraan lahirnya memang masih lama, tapi lebih baik ia berantisipasi karena tak ada yang tahu akan masa depan. Bahkan Oliver pun ia perhatikan selalu berada di rumah sejak bulan kedelapan ini karena menghawatirkan dirinya yang mungkin saja tiba-tiba melahirkan.
Ceklek.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka menampilkan seorang lelaki yang sempat terlintas di otaknya. Saudara kembarnya itu terlihat memakai celemek bersiap untuk memasak makan siang.
"Apakah keponakanku yang sebentar lagi akan lahir sedang menginginkan sesuatu?" tanya Oliver dengan nada yang dibuat-buat membuat Olivia terkekeh pelan.
"Aku tidak menginginkan sesuatu yang spesifik sebenarnya, tapi ... hindari daging ayam, ya. Aku sedang tidak berselera memakannya."
"Bagaimana dengan ikan? Tidak masalah?" tanya Oliver dijawab Olivia dengan anggukan kepala.
"Baccalà alla Vicentina?"
"Jangan lupa penutupnya puding."
Oliver mengangguk kemudian menutup pintu, meninggalkan Olivia yang kembali fokus pada aktivitas mengemas barang.
Ting tong!
Bel rumah terdengar berbunyi tiga puluh menit kemudian. Oliver yang sedang memasak pun terpaksa menghentikan aktivitasnya karena tak mau menyuruh Olivia yang tengah hamil besar untuk menyambut tamu.