62. The Validation of Fear

9.8K 374 11
                                        

⋆༺𓆩☠︎︎𓆪༻⋆

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

𓆩☠︎︎𓆪

Olivia membuka pintu utama kediamannya kemudian mendapati kehadiran Ethan tengah berdiri sambil menunjukan senyum manis yang terkesan ... lelah? Ia mengamati Ethan dari atas sampai bawah lalu menyadari bahwa lelaki itu terlihat kacau. Bukan karena pakaiannya yang tidak rapi atau compang-camping, tetapi karena terdapat luka baru di sudut bibirnya.

"Selamat siang, Bunda."

Lamunan Olivia terbuyarkan oleh suara Ethan yang menyapa Sarah. Tidak ingin berlama-lama, keduanya berpamitan lalu memasuki mobil yang akan mengantarkan mereka ke tempat di mana dulu menghabiskan waktu.

Karena suasana hening, Olivia mencuri pandang ke arah Ethan yang tidak seaktif biasanya. "Mau aku yang menyetir?" celetuknya membuat Ethan mengerjap seolah terlempar ke realita.

"Maaf, sayang. Aku tadi tidak fokus." Ethan menyalakan radio mobil untuk memecah keheningan di antara mereka. Namun, keduanya tetap tak ada yang bersuara sampai mobil berhenti di area parkir apartemen.

"Kenapa?" tanya Ethan ketika mendapati Olivia hanya diam di depan pintu unit apartemen seolah berpikir panjang untuk masuk.

"Oh, tidak apa." Olivia hanya menyiapkan diri karena tempat ini memiliki banyak kenangan mereka berdua.

Saat kakinya mulai membawa masuk, matanya mengamati seluruh penjuru unit apartemen yang tak memiliki banyak perubahan.

"Jangan takut padaku, ya. Aku tidak akan menerkammu. Aku hanya ingin ditemani," ucap Ethan sambil menggenggam tangan Olivia untuk dibawanya ke kamar utama.

"Kita mau apa ke sini? Sesuatu telah terjadi?" tanya Olivia dengan suara gemetar karena sejujurnya merasa takut.

"Apakah kau masih suka meminum alkohol?" Bukannya menjawab pertanyaan Olivia, Ethan malah bertanya balik di luar konteks.

"Terakhir aku minum adalah empat tahun yang lalu."

Ethan mengangguk sambil membuka sebuah mini bar yang berisikan beberapa minuman beralkohol. "Tidak masalah jika sekarang menemaniku minum?"

Tidak ada balasan dari Olivia membuat ia melirik ke arah sofa kamar yang diduduki sang pujaan hati. Namun, belum saja ia berbalik badan, sebuah tangan terulur menyentuh lengannya.

"Jangan minum alkohol lagi, ya. Waktu juga masih siang," ucap Olivia begitu lembut membuat jantung Ethan berdebar cepat.

"Tapi, aku sedang membutuhkannya. Biasanya aku akan meminumnya sampai tak sadarkan diri agar bisa melupakan seluruh masalahku walau sesaat."

ScandalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang