48. The Heir

10.8K 360 10
                                        

⋆༺𓆩☠︎︎𓆪༻⋆

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

𓆩☠︎︎𓆪

Seorang anak perempuan berusia tiga tahun terlihat menangis sambil berlari masuk ke dalam rumah. Setelah menemukan ibunya yang sedang sibuk merajut, ia bersimpuh di lantai kemudian memeluk kaki sang ibu.

"Ada apa, sayang?" Sambil memasang wajah khawatir, sang ibu mengusap surai anaknya.

"Max dan Felicia tidak mau berteman denganku karena tidak punya papa, hiks."

Olivia tidak bisa merespon apa pun, ia hanya bisa menenangkan putrinya dengan mengusap-usap kepala. Jika boleh jujur, dirinya selalu merasa gagal menjadi seorang ibu setiap kali mendengar anaknya mengeluh tak punya teman hanya karena tak memiliki seorang ayah.

"Aku ingin punya papa."

"Ada Uncle Oliv yang bisa menjadi papamu."

Oliv yang dimaksud Olivia adalah kembarannya, Oliver. Itu adalah panggilan kesayangan dari Anya sang keponakan tercinta.

"Tapi Uncle Oliv memiliki wajah yang sama dengan Mama, berbeda dengan papa dan mama mereka. Aku tidak mau!"

Olivia kembali melanjutkan aksi merajutnya karena sudah muak mendengar keluhan anaknya yang sangat ingin memiliki seorang ayah.

"Mama!" panggil Anya karena diabaikan oleh sang ibu.

"Hm."

"Aku mau papa!"

Anya mencebikkan bibir melihat sang ibu tetap mengabaikannya. Ia merasa sedih karena setiap ia meminta kehadiran seorang ayah, sikap ibunya selalu berubah dingin padanya.

"Aku mau papa, hiks, hiks, huaaa!"

Tangisan Anya semakin kencang membuat Olivia kesal sebenarnya, tetapi ia hanya mampu menghela napas sambil tetap menyibukkan diri dengan merajut baju hangat.

"Anya, Mama akan membuat boneka untukmu jika kau berhenti menangis."

"Tidak mau, aku mau papa!"

"Ya sudah, tidak ada papa dan boneka."

"Mama jahat!" Anak kecil itu berlari menuju kamar dan menutup pintu cukup kasar.

Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu utama rumah dibuka menampilkan sesosok lelaki dewasa dengan wajah semringah.

"Aku pulang."

Olivia hanya melirik sekilas kemudian mengangguk.

ScandalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang