[LOEN #2 | Ethan & Olivia]
Bermula dari bermusuhan menjadi selingkuhan. Begitulah hubungan yang terjalin antara Ethan Jasper Loen dengan Olivia Calista Loris. Lalu apakah mereka akan terus mempertahankan hubungan yang tidak jelas itu? Bagaimana cara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⋆༺𓆩☠︎︎𓆪༻⋆
Pagi ini, setelah melakukan ritual membersihkan diri, Ethan menemukan dua perempuan yang dicintainya sudah berada di ruang makan untuk memulai sarapan.
"Selamat pagi, sayang," sapanya pada sang anak sambil melabuhkan kecupan di pipi. "Kau masih terlihat mengantuk."
Cubitan pelan tanda gemas ia berikan pada pipi sang anak. Setelahnya, ia mengamati meja makan yang sudah tersedia frittata sebagai menu utama sarapan dan biscotti sebagai camilan penutup.
"Bukan mengantuk, dia masygul karena tak mendapatimu ketika bangun tidur," bisik Olivia pada Ethan agar tak terdengar sang anak yang bermuka masam.
Memang, sehabis berciuman dengan Olivia, Ethan pergi keluar karena bosan. Awalnya hanya berjalan-jalan di halaman rumah, pada akhirnya ia berjalan hampir satu kilometer karena penasaran dengan lingkungan tempat tinggal sang anak dan pujaan hatinya. Setelahnya, ia pergi ke hotel untuk mengambil barang-barang yang ditinggalkan di sana karena harus segera check out sebelum jam dua belas siang.
Pantas saja Anya merasa khawatir ditinggal pergi olehnya saat tidur, 'kan?
"Mau Papa suapi?" Ia membujuk Anya dengan menawarkan diri untuk menyuapi makan. Beruntungnya sang anak bukanlah tipe yang suka marah terlalu lama, Anya menerima tawaran dan segera duduk di pangkuannya.
Mereka bertiga menikmati sarapan dengan khidmat. Sesekali Sunny si kucing akan mengganggu, dan Anya akan meladeninya dengan cara memberi biskuit membuat Olivia kesal.
"Anya, sudah Mama bilang jangan beri makan Sunny sembarangan." Olivia menegur sambil menghampiri Sunny dan memasukannya ke dalam kandang. Hal itu membuat Anya semakin murung karena merasa kedua orang tuanya sudah tak menyayanginya.
Ethan yang peka pun inisiatif mengajak sang putri berbicara. "Anya, besok adalah hari ulang tahunmu. Mau hadiah apa dari Papa?"
Anya pun seketika berbinar lalu mengetuk dagu tanda berpikir. "Aku ingin adik!" serunya membuat Ethan tersedak, sedangkan Olivia langsung melotot tak percaya. "Kata Mama adik bisa dibuat jika ada Papa."
Setelah meminum air putih yang banyak dan mengelap mulut menggunakan tisu, Ethan tersenyum canggung ke arah Olivia.
"Ehm ...." Perempuan dewasa itu terlihat gelagapan lalu mengeluarkan suara yang sangat gugup. "Anya, tapi membuat adik itu tidak mudah. Membutuhkan waktu yang lama sekali."
"Berapa lama?"
"Bisa sampai berbulan-bulan dan berpuluh-puluh tahun."
"Lama sekali," keluh Anya membuat sang ibu tersenyum kemudian mengusap-usap surainya.