Ogan menjadi sosok yang lebih baik dan bijaksana. Sejak tragedi yang mengguncang Lamus dua tahun silam, ia memutuskan untuk menata hidup secara mandiri dan tidak ingin lagi merepotkan kekasihnya. Perubahan besar ini muncul seiring dengan kesadaran akan pentingnya hidup penuh tanggung jawab.
Setelah kekacauan yang ditimbulkan oleh Profesor Garung, polisi akhirnya membebaskannya. Bukan tanpa alasan—Profesor bertindak di luar kesadaran akibat pengaruh benda misterius. Meski demikian, kerusakan yang ditimbulkan begitu besar, meninggalkan luka dalam yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan. Lamus kini perlahan kembali bangkit menjadi kota yang indah dan makmur. Kerlap-kerlip lampu kota yang berpadu dengan semilir angin menjadi panorama yang kerap menenangkan hati Ogan.
Sementara Profesor Garung, Mauli, dan Kerinci kembali ke dunia arkeologi dan melanjutkan penelitian tentang situs megalitikum. Justru Ogan menapaki jalan hidup berbeda. Ia memilih menjadi pedagang Batu Mulia. Ide itu muncul saat ia menatap Akuadron dan Aguilar—dua liontin bersejarah yang dahulu saling bertolak belakang. Keduanya berasal dari permata, namun Aguilar, yang berasal dari batu Jamus, dikenal sangat berbahaya dan kini disimpan dengan penjagaan ketat.
Ogan bertempat tinggal beberapa blok dari rumah Mauli. Di sanalah ia membuka toko kerajinan permata—satu-satunya di Lamus yang menjual perhiasan dan benda hias seperti patung kecil yang berharga. Batu-batu yang digunakan beragam jenisnya: giok, kalimaya, bacan, black jade, oniks, dan batu lain yang warnanya seindah pelangi selepas hujan. Ia juga pernah mendengar bahwa tren batu mulia sempat viral pada tahun 2013. Fakta itu makin menguatkan tekadnya untuk membuka lembaran baru.
Perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, dan anting menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Lamus. Meski tak seramai masa kejayaannya dulu, daya tarik keindahan alami tetap memikat hati, terlebih karena harganya cukup bersahabat. Modal usaha ini berasal dari tabungan Mauli yang dipinjamkan cukup berarti. Dalam dua tahun, pinjaman itu berhasil dilunasi seutuhnya.
Usaha Ogan tumbuh seiring dengan masa pemulihan kota. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, begitu pula perjuangan Ogan yang menimba banyak ilmu dari nol. Bahkan telah mempekerjakan dua orang karyawan yang sangat membantunya—saran dari Mauli, yang tahu betul bagaimana sibuknya toko saat pelanggan membludak.
Kedua karyawan itu adalah Jira dan Sangkut. Jira bertugas di bagian kasir: perempuan tangguh, cekatan, dan penuh dedikasi. Sedangkan Sangkut, pria bertubuh kurus dan berhati jenaka, membantu Ogan dalam proses pembuatan karya di ruang khusus. Mereka bukan hanya pekerja keras, tetapi juga penghibur ulung. Di tangan mereka, toko Ogan bukan sekadar tempat jual beli, melainkan juga ruang penuh tawa.
"Boleh lihat cincin warna hijau ini?"
Seorang pria bertubuh gempal, berkulit gelap dengan rambut ikal, menghampiri etalase toko. Matanya berbinar melihat deretan cincin berkilau. Jira, dengan sigap mengambil cincin yang dimaksud kemudian menyerahkannya.
"Yang nomor tujuh ada nggak? Aku suka modelnya," tanyanya sembari menatap wajah Jira.
"Tentu ada, Kak!" jawab Jira ramah, lalu mengeluarkan cincin serupa dengan label angka tujuh.
Dengan senyum ringan, tangan Jira bertumpu di atas kaca etalase, menanti keputusan pembeli.
"Baik, aku beli yang ini," kata si pria mantap.
"Baik, untuk pembayaran bisa ke sebelah sini, ya."
Jira membungkus cincin dalam kotak hitam elegan, kemudian memasukkannya ke dalam kantong kertas. Saat ia sibuk mengetik di komputer kasir, pria itu menatapnya dengan pandangan aneh, senyum tersungging di bibir.
Meski merasa risih, Jira tetap profesional. Dia paham betul, dunia kerja menuntut sikap santun, bukan sekadar senyum manis.
"Totalnya enam ratus lima puluh ribu rupiah," ujar Jira.
Si pria menyerahkan uang pas—enam lembar merah dan satu biru—sambil tetap menebar pesona. Jira menerima dan menghitungnya dengan tenang.
"Terima kasih."
"Terima kasih, Mbak," balasnya, lalu melangkah pergi. Namun sebelum keluar, sempat ia menoleh ke belakang, berharap mendapat lirikan terakhir. Jira langsung memalingkan wajah ke samping kiri.
Tanpa sengaja, di sana berdiri Sangkut dengan patung Budha dari batu giok di tangan.
"Wah, ada yang curi perhatian, nih!" ledek Sangkut, menahan tawa.
"Sekali lagi kau bilang begitu, ku hajar juga!" hardik Jira sambil mengepal tangan. Alisnya terangkat, matanya membelalak.
"Halah, sekarang Ayuk Jira jadi galak, ya," Sangkut tertawa lalu meletakkan patung ke lemari krem. Sudah biasa baginya mendengar amarah kecil seperti itu—di pasar pun tak seramai suara Jira.
Dengan santai, ia mulai mengelap patung sambil terus mengumbar senyum puas. Jira mendengus, lalu menjatuhkan tubuh ke kursi kasir. Mengeluarkan toples bening berisi keripik pisang dan mulai mengunyah pelan. Bagi Jira, camilan adalah pelipur lara. Untungnya, walau doyan makan, tubuhnya tetap ideal.
"Huh, bisa-bisanya dia bilang begitu..." gumamnya. Menatap Sangkut yang pura-pura tak dengar.
Sangkut justru makin senang. Melihat Jira kesal membuat harinya terasa lebih berwarna.
"Semakin kau marah, semakin manis kau dilihat," bisik Sangkut. Ia tertawa pelan, seolah baru saja mencuri setangkai senyum dari bunga yang sedang mekar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
