Chapter 9

13 0 0
                                        

Keramaian kota membuatnya limbung. Matanya menyapu kiri kanan, gelisah, seperti bocah baru keluar dari hutan dan wajahnya menyimpan kesan asing.

Ia berdiri kikuk di trotoar, memperhatikan mobil berlalu-lalang. Bising klakson, asap kendaraan, dan tatapan heran orang-orang membuatnya tidak nyaman.

Dari seberang jalan.

Seorang preman bermuka garang mendekat. Tubuhnya besar seperti raksasa pasar malam. Di pipi kanannya terpatri tato wajah perempuan. Gigi kuning, satu gigi besi tampak mencolok saat menyeringai. Kumis panjang nyaris bisa dijalin.

Menatap dari ujung kepala hingga kaki...

"Eh, botak!" serunya, tertawa kasar. "Kulit merah, seperti Saigon aja!"

Saigon memandang datar. "Memang itu namaku. Saigon."

Preman itu terdiam sejenak, lalu...

"Buahahaha...."

"Kau lucu sekali..."

Tertawa makin keras. Bahkan tak segan-segan menyentuh kepala Saigon dengan mudah.

"Dengar semua!" teriaknya kepada orang-orang yang mulai berkumpul. "Orang ini hanya orang asing yang tersesat. Pecundang!"

"Hahaha..."

Tanpa aba-aba... Preman itu melempar pukulan.

Duk!

Namun wajah Saigon tak berubah. Ia malah menyeringai. Senyumnya tajam, menyeramkan. Preman itu terkejut.

"A—apa..."

Saigon dengan ringan memelintir tangannya.

"Aduh! Lepaskan, botak!"

Saigon melepaskan tapi...

Bruak!

Alih-alih melayangkan satu tinju.

Tubuhnya terpental, menghantam ruko—jual-beli hewan. Kotoran burung menempel di sekujur tubuh, bak toping lezat donat mahal.

Aroma busuknya membuat mual.

"Aduh! H-Huwekkk...."

Puluhan burung beterbangan...

Beberapa kucing lari terbirit-birit...

Bahkan seekor kura-kura terlihat mencoba kabur dengan susah payah.

Tahu-tahu...

Seekora angsa besar justru menyerang. Suara nyosor, ciapan, dan jeritan bercampur jadi satu.

"Aaaaak! Sakit! Lepas! Ampun!!"

Ia kabur tunggang langgang, dikejar angsa kelaparan.

Warga yang menonton bersorak. "Horeee!" "Mantap, botak!" "Kasih pelajaran!"

Di sisi lain.

"Ya ampun... daganganku hancur. Siapa yang akan mengganti kerugian ini."

Seorang pemilik terisak di depan rukonya yang berantakan. Tangis peluh menjadi satu, lemas bak kehilangan masa depan.

"Tenang, Pak Tua! Aku akan mengganti semua kerugian semua ini. Sebutkan saja, berapa?" Seorang seragam kantoran, rambut hilang separuh, percaya diri hendak membayar.

"Tiga juta."

"Baik. Aku bayar lima juta. Kau tidak usah menagis lagi. Tidak juga menyalahkan pahlawan kami," katanya menyerahkan segepok uang.

Riuh.

Sorak-sorak pemberian apresiasi warga terhadap Saigon. Tercengang. Tangannya ditos beberapa warga, bahkan ada yang memeluk.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang