Singkarak duduk santai di meja makan. Di hadapannya terhidang sepiring nasi, tumis kangkung segar, semangkuk kecil sambal tempoyak yang menyengat harum, serta empat potong ayam goreng keemasan. Selain itu, empat buah jengkol muda ikut melengkapi sebagai lalapan favorit.
Kreeek...
Suara pintu terbuka. Kerinci masuk sambil meletakkan sebungkus kemplang di atas meja, tepat di depan Singkarak.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Singkarak sambil membuka bungkus kerupuk.
Kerinci tampak canggung. "Aku tadi bertemu seorang perempuan..."
Singkarak yang sedang mengunyah langsung menghentikan gerak mulutnya. "Perempuan? Angin apa yang membawamu bertemu dengan seorang perempuan?"
Saking terkejutnya, nasi yang masih separuh dikunyah menyembur dari mulutnya. Bercampur air liur, nasi itu jatuh ke lantai dan langsung dimakan Jalu. Kerinci hanya mengernyit, geli sekaligus jijik.
"Dia pelanggan Nenek Sowah juga. Cantik, tampak anggun. Tapi anehnya, ada yang berbeda darinya," kata Kerinci lirih sambil mengaduk nasi di piring.
"Kalau kau bertemu dia lagi, dekati dia!" ujar Singkarak sambil menambahkan jengkol ke piring. Ia memang pecinta jengkol—muda dijadikan lalapan, tua disemur atau disambal. Berbeda dengan Kerinci yang lebih menyukai kemplang dan tak pernah sudi menyentuh jengkol meski dia asli Lamus.
Tiba-tiba, suara bel rumah berbunyi.
Tungting!
"Siapa itu?" Singkarak mengangkat alis, mulutnya penuh makanan. "Biar aku yang lihat," ujar Kerinci.
Ia membuka pintu, tampak Ogan dan Mauli berdiri di ambang. Ini adalah kunjungan pertama mereka sejak Singkarak membuka praktik di rumah barunya.
"Hei! Wah-wah, angin apa yang membawa kalian kemari?" seru Kerinci.
"Ogan ingin lihat tempat praktik Singkarak, jadi aku ajak ke sini," jawab Mauli ramah.
"Masuklah, ayo!"
"Hoho! Lihat siapa yang datang. Prajurit terakhir Sriwijaya!" sambut Singkarak sambil berdiri.
"Kami sudah makan di alun-alun, terima kasih," kata Mauli. Tapi Ogan sudah mengambil sepotong ayam goreng.
"Tapi ayam goreng masih bisa diatasi," katanya sambil tersenyum lebar.
Tawa mereka pecah seperti petasan di malam sunyi, membahana memenuhi ruang percakapan yang tak begitu serius. Suasana menjadi cair, meskipun tidak semua larut dalam canda yang dilemparkan. Di sisi lain, Mauli hanya tersenyum kaku, hatinya terasa geli yang tertahan. Ada ganjalan dalam pikirannya—selera humor para lelaki itu terasa aneh, nyaris seperti menari di batas antara jenaka dan janggal.
Meski Mauli berusaha menghargai kebersamaan, perasaan tak nyaman perlahan tumbuh seperti embun yang diam-diam membasahi dedaunan di pagi buta. Mauli memilih diam, membiarkan tawa yang tak sejalan itu berlalu seperti angin lalu yang hanya menyapa, lalu pergi.
Mauli?
Hanya mencari kesibukan di tengah-tengah suasana aneh. Melangkah pelan menuju lemari yang dipenuhi buku... Jari-jarinya menyusuri punggung-punggung buku seolah tengah membaca jejak waktu yang tertata rapi.
Sementara itu, terdengar suara kunyahan Ogan yang santai seperti orang yang menikmati dunia dalam gigitan. Tanpa perlu menoleh, Mauli berujar pelan namun tegas, "Tidak, terima kasih." Nada suaranya tenang, namun mengandung makna yang tak bisa diabaikan. Seolah tahu persis, tanpa melihat pun, bahwa Ogan tengah menyodorkan sesuatu—mungkin makanan, mungkin ajakan, siapa yang tahu. Seperti air yang menolak gelas terlalu penuh, Mauli menolak dengan cara yang halus, tapi jelas.
"Itu buku apa saja? Banyak sekali," tanya Mauli.
"Banyak. Kau bisa membacanya satu-satu," jawab Singkarak singkat.
"Dulu aku suka sekali membaca, bahkan pernah mengambil buku dari tempat sampah. Sepuluh buku lebih, sampai sekarang masih kusimpan," tutur Singkarak.
"Kau telaten sekali," ucap Mauli, senyum.
Di tengah percakapan...
Ada hal ganjil yang mungkin membuat Ogan merasa aneh.
Perhatian justru teralih oleh pemandangan tak biasa. Di sudut, seekor ayam jantan tampak duduk berdampingan dengan seekor anjing seolah dua makhluk berbeda dunia itu sedang menikmati pagi dalam damai. Ayam itu mengangkat kepalanya dengan angkuh, sementara si anjing hanya mengibaskan ekor, tampak tenang seperti penjaga gerbang waktu.
Pemandangan itu membuat Ogan tercenung sejenak—alam seperti sedang berbisik, bahwa persahabatan bisa tumbuh dari dua hati yang berbeda selama keduanya memilih untuk tidak saling menggonggong atau mematuk.
"Apakah kau pawang ayam, Singkarak?" tanyanya heran.
"Maksudmu?"
"Ayam dan anjing bisa akur, seperti sahabat sejati."
Singkarak tertawa. "Mereka peliharaanku. Dogi si anjing dan Jalu si ayam hutan. Waktu kami melawan Profesor Garung, aku lupa membawa Dogi, ketika aku pulang ternyata dia sudah berteman dengan Jalu. Akhirnya aku mengadopsi Jalu agar menjadi teman Dogi, mereka sangat akrab."
Ogan mendekat, mengelus kepala Dogi. Ayam itu hanya melirik ke kiri dan kanan seolah pikun. Ogan melempar sisa ayam goreng ke depan Jalu. Ayam itu langsung mematuk lalu Dogi datang berusaha merebut. Mereka makan seperti dua anak kecil yang tak mau berbagi permen.
"Ayam makan ayam!" ucap Ogan, heran.
"Lihat, dia sudah pantas jadi pak tua penyayang binatang," celetuk Singkarak sambil tertawa kecil, menunjuk Ogan yang masih terpaku.
Di sisi lain.
Mauli terulur mengambil sebuah buku tebal berwarna hijau tua dari rak kayu yang mulai berdebu. Ia membuka halaman demi halaman dengan pelan, seolah tengah menyelami isi laut kata yang luas.
"Aku cuma iseng," ucapnya ringan, walau matanya tak lepas dari tulisan-tulisan di buku itu.
"Itu buku yang kupungut dari tempat sampah belakang pasar. Karya Jagat Aripin, tentang kisah hidupnya," jelas Singkarak sambil menyandarkan tubuh ke kursi rotan yang berderit pelan.
"Benarkah?" Mauli menoleh, kali ini dengan tatapan serius, seolah menemukan harta karun yang selama ini tersembunyi di balik debu dan takdir.
"Iyah, aku hidup dari sampah, makan terong, jengkol, bekasam... tempoyak dan semua makanan."
"Aku mengagumimu, Singkarak," tutup Mauli.
Ayam mematuk lantai...
Anjing menggonggong...
Seakan ingin menyisipkan pendapat dalam percakapan hangat di rumah yang sederhana, namun penuh cerita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficción histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
