Di dalam sebuah goa yang sunyi.
Seorang pria gundul—Saigon tengah duduk di atas batu besar. Ia menopang dagu dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya bergerak-gerak tak sabar. Goa itu terdiri dari susunan batuan purba, luasnya setara satu rumah besar. Saigon sedang menanti kedatangan seseorang yang sangat penting baginya: Sosok pembawa berita.
Langkah kaki bergema...
Saigon berdiri seakan menyambut—wanita bergaun merah. Cantik, anggun, dan penuh misteri. Dia? Wanita yang menemui Ogan waktu itu. Ada udang di balik batu. Wajahnya sedikit tegang meski seolah tak sudi datang.
"Lematang!"
Saigon memanggilnya dengan sebutan lain. Benar, itulah nama aslinya. Dia sedang menjalankan misi rahasia: Menyamar sebagai warga Kota Lamus. Demi Trah Sriwijaya.
"Aku sudah terlalu lama menunggu, Lematang. Apa saja yang kau kerjakan selama ini?"
Lematang membuang muka, enggan menjawab dengan jujur. Misinya memang rumit. Ia harus mencari seseorang dengan identitas yang tersembunyi untuk mengaktifkan kekuatan inti Kitab Walas—sebuah kitab kuno yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Kitab Walas menyimpan mantra kegelapan yang mampu memberikan kekuatan luar biasa, menjadikan pemiliknya pendekar pilih tanding. Jika berhasil, Saigon akan memperoleh kekuatan itu dan membuka portal ke bangsa Unu—entitas mematikan... menakutkan... tapi tersimpan kekuatan kosmik di luar nalar.
"Pekerjaan ini tidak semudah yang kau bayangkan," sahut Lematang.
"Kau pikir mencari seseorang tanpa petunjuk itu mudah?" tambahnya, kesal.
Saigon mendekat. "Ingat, cepat atau lambat, kau tidak boleh menyerah. Jika kau berhasil, keutuhan keluarga kita akan kembali."
"Kau masih tidak bisa menerima takdir, Kakak," ucap Lematang lirih.
Justru balik badan dan meninggalkan goa. Begitu keluar, mengangkat tangan, seketika tubuhnya terdorong oleh energi ke udara.
Wuuussss...!
Mendarat di gang sempit. Penuh sampah. Bahkan ratusan lalat yang mengerubungi bangkai ayam. Belum sempat melangkah jauh, dua preman menghadangnya.
"Hai, cantik. Main sebentar yuk."
"Jaga mulutmu, ekor kuda," ujar Lematang dingin.
"Kenapa kau begitu cuek. Kami hanya ingin mengajakmu jalan-jalan saja."
Namun...
Salah satu dari mereka justru membangkitkan kemarahan sang wanita. Ketika mencoba melakukan tindakan tak senonoh, Lematang langsung beri pelajaran.
Bug!
Sekali gebrak langsung mencelat ke ujung gang.
Bangkit dengan ketakutan penuh. Namun, temannya tak terima sehingga melayangkan pisau tajam. Serangan dapat ditangkis hingga...
Kelunting!
Tendangan itu melesat hingga orang itu mendapat di tong sampah.
"Aduh!"
Lematang pergi tanpa menoleh. Dua preman itu merintih, saling membantu bangkit.
"Jangan bilang siapa-siapa. Preman Lamus kalah oleh wanita? Memalukan."
"Bodoh! Siapa juga yang mau mempermalukan diri sendiri," gerutu yang lain, menepis lalat yang mengganggu.
***
Lematang menuju ke kedai favoritnya—penjual es alpukat. Minuman itu campuran cendol, kolang-kaling, cincau, santan dan sirup. Dengan santai menenteng plastik yang berisi gelas minuman, sesekali menyeruput dengan puas.
Sempat mampir ke toko kerupuk paling terkenal di Lamus. Kemplang tenggiri dan sambal peda jadi pelipur lara di kala gabut.
"Nenek!" sapa Lematang ceria pada penjaga toko berusia 63 tahun yang ramah.
"Cantik sekali kau hari ini," balas sang nenek. Meski tua, cara bicaranya bisa mengimbangi generasi muda.
"Aku kesal hari ini. Ingin mengunyah kemplang di rumah sampai puas."
"Kau belum pernah membawa pacarmu ke sini, tahu," celetuk si nenek sambil menyusun kerupuk.
Tersipu. Meski malu, ia tahu ucapan itu benar. Lematang belum pernah menggandeng siapa pun, karena misinya belum tuntas.
"Aku beli dua bungkus ya."
"Tumben."
"Aku bilang tadi, hari ini tidak bersahabat."
"Wanita zaman sekarang memang begitu," cetus si nenek.
Setelah melunasi tangihan kerupuknya, Lematang enyah, entah ke mana. Beberapa langkah...
Set...
Bertabrakan dengan seorang lelaki sok sibuk—Kerinci. Matanya meleng karena terlalu tajam menatap ponsel sepanjang jalan.
"Maaf!" ujar Kerinci spontan, menunjukkan kedua tangan.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," sahut Lematang sambil tersenyum.
Kerinci buru-buru memungut kerupuk itu sebelum Lematang membungkuk. Namun... Mereka saling tatap, lama...
Tetap saja, Kerinci mematung seraya melototi cewek tadi hingga...
"Berapa lama kau mau berdiri di situ?"
"Ah, iya! Maaf, Nek!" Kerinci tersadar, lalu menyerahkan kerupuk milik Lematang.
Lematang tersenyum, "Terima kasih." Lantas pergi.
Sementara Kerinci masih terpaku, diam-diam terpukau.
"Kerupuk tenggiri, Nek."
"Sepuluh ribu."
Kerinci menyodorkan lima lembar pecahan dua ribuan. "Receh juga mata uang, kan?"
"Iya, iya, dasar anak zaman sekarang," gerutu si nenek, meletakkan uang ke laci. Kerinci tersenyum, lalu pergi.
Tetapi, bayang-bayang perempuan itu belum juga tamat. Sesekali menoleh ke arah Lematang yang semakin jauh.
Angin sore bertiup pelan. Jalanan Lamus tetap sibuk.
Namun di antara orang-orang yang lalu lalang, dua jiwa tampak mulai ditarik takdir untuk bertaut—entah sebagai musuh, sahabat, atau kekasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficción histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
