Langit Lamus mulai meredup, menyisakan siluet gedung-gedung yang porak-poranda. Di tengah kerusakan itu, Ogan melangkah gagah menghampiri Mauli. Namun, bukannya sambutan hangat yang diterima, kekasihnya justru bersikap dingin. Wajah Mauli keras, langkahnya cepat dan penuh kesal bak ingin masuk ke liang lahat.
Tatapan Ogan konyol—melirik sekeliling, merasa malu dengan sikap yang tidak dimengerti.
"Pukulanmu sangat luar biasa," ujar Kerinci, datang bersama Lematang.
"Maaf, aku terlambat."
Lematang menyeringai kecil.
"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara. Mungkin dia masih marah."
Ogan mengangguk lemah.
"Ya... Aku pikir begitu. Aku memang tak cukup pintar memahami isi hati perempuan. Hubungan kami—selalu rumit."
Saat itu, Komandan Bram mendekat, suaranya mantap.
"Lamus selalu butuh pahlawan."
"Justru kau pahlawan sejati, Bram. Lamus adalah kotamu. Dua tahun lalu kau berdiri di garis depan melawan pasukan besi dengan kekuatan sihir. Itu tidak akan dilupakan."
Namun, kalimat itu tidak mendapat balasan. Bram hanya menatap, kemudian berbalik. Sementara Ogan melangkah pergi, disusul oleh dua rekannya.
***
Langkah pelan melintasi bayang-bayang reruntuhan.
Saigon berjalan menyusuri tempat yang pernah menjadi panggung pertarungannya. Ia kembali bukan untuk menyerah, tetapi untuk menyelesaikan urusan yang belum rampung. Ia adalah bayangan yang belum reda, kekuatan kematian menjadi tujuannya.
"Aku telah melangkah jauh. Tidak mungkin aku menyerah sekarang," gumamnya lirih, seolah bicara pada langit.
Ia membuka kembali celah antar dimensi. Portal bangsa Unu mulai merekah, cahaya aneh melesat menembus langit. Perlahan, energi murni dari semesta lain terserap ke dalam tubuhnya. Unu demi Unu bermunculan—mengendap, menyelinap, dan menyebar ke pelosok Lamus.
Keberhasilan Saigon adalah ketenangan palsu. Tanpa disadari penjaga kota, langkahnya kian jauh. Ia berhenti, menatap ke atas.
"Ibu... Ayah... aku tidak rela kalian mati sia-sia. Kalian tidak bersalah, kalian harus kembali."
Kedua tangan terentang, senyum harapan di wajah kelamnya. Kemenangan tampak tinggal selangkah lagi.
Di tempat lain...
Mauli menunduk di depan wastafel. Air dingin membasuh wajahnya yang penuh resah. Tetesan jatuh seperti hujan kecil di tengah emosi. Cermin memantulkan bayangan seorang wanita yang tidak lagi tenang—wajah lelah, napas berat, hati yang belum damai.
Di belakang, Ogan muncul. Diam.
Mauli mengelap wajahnya dengan handuk, tak peduli Ogan berdiri di sana.
"Mauli, bisakah kita bicara? Kau selalu dingin padaku... ada apa sebenarnya?"
Mauli hanya membuka kulkas. Mengambil sebotol air kemudian meneguknya dengan gerakan kasar. Glek... glek...
"Kau pikir enak jadi wanita, apalagi jika tidak tahu letak salahmu. Lebih baik kau pergi saja," ucapnya, tanpa menoleh.
Ogan menelan ludah.
"Kalau kau tidak bilang di mana salahku, bagaimana aku bisa tahu?"
Ia mengangkat kedua tangan, mimik wajahnya bingung.
"Dasar laki-laki! Semua lelaki itu brengsek."
"Jadi aku dan Bapak Presiden brengsek?" goda Ogan, mencoba mencairkan suasana.
"Bukan! Lelaki yang kutemui!"
"Jadi... aku dan ayahmu brengsek?"
"Bukan anggota keluargaku!"
"Aku dan Kerinci brengsek?"
"Ih! Dasar kau! Tidak peka sama sekali! Menyebalkan!" bentak Mauli, lalu berjalan keluar rumah.
Tinggallah Ogan—diam, menggaruk kepala yang tak gatal. Dunia perempuan terlalu rumit baginya.
"Seandainya aku hidup di zaman Sriwijaya... mungkin tidak serumit ini," keluhnya.
Ia duduk di meja, memandangi langit-langit. Dari luar, terdengar suara kaki. Singkarak muncul, ditemani dua hewan peliharaannya.
"Sejak kapan kau di sana?"
"Sejak kalian bertengkar," jawab Singkarak datar, tangannya mengelus kepala Dogi. Di sebelahnya, Jalu.
"Maaf kalau aku ikut campur. Tapi begitulah wanita. Mereka tampak keras, tapi itu semua karena mereka terlalu menyayangimu."
Singkarak disambut oleh Akuadron. Dogi dan Jalu langsung bermain. Dogi melompat-lompat mengejar ekornya, Jalu mematuk-matuk udara, seolah Akuadron adalah serangga bercahaya.
"Mauli belum pernah punya kekasih. Wajar jika dia jadi terlalu protektif."
Ogan mengangguk pelan.
"Aku hanya tidak paham pola pikir wanita modern. Seandainya dia mau bicara... aku pun siap mendengarkan."
"Maka rendahkan egomu. Kadang cinta tidak butuh logika, hanya butuh ruang untuk merasa. Wanita itu istimewa... dan sering kali hanya ingin dimengerti."
Ogan hanya menghela napas, menatap tingkah lucu hewan-hewan yang bermain. Akuadron berputar-putar di udara, membuat Dogi mengejar, Jalu melompat.
Untuk sesaat...
Hanya tawa kecil yang mengisi ruangan. Namun di luar sana, badai berikutnya tengah mengintai.
Dan tidak ada yang tahu... siapa yang akan kembali lebih dulu: cinta atau kehancuran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
