Di puncak Gunung Bitang.
Saigon berdiri tegak. Dia... sang pengendali bau, kini bukan lagi anak manja yang selalu berlindung di balik pelukan orang tuanya. Sejak kematian mereka, hidupnya berubah menjadi jurang dendam dan penyangkalan.
"Ayah... Ibu... Aku akan membuka Portal Kematian. Kalian akan hidup kembali. Aku bersumpah." Suaranya gemetar, tapi tekadnya mengeras.
Tiba-tiba, dari balik kabut muncul sosok. Suaranya lembut, tapi tajam menusuk hati.
"Saigon... relakan mereka. Biarkan tenang di alam sana. Itu adalah takdir," ucap lelaki itu pelan.
Saigon menoleh. Pandangannya sayu. Lelaki itu adalah Idaba, sesosok yang bijak.
"Sejak kepergian mereka, aku mengerti... dunia ini hanyalah singgah, dan kematian adalah perjalanan."
"Cukup, Idaba!" Saigon menahan amarah. "Kau tidak akan pernah mengerti... Kau bukan aku!"
"Benar. Aku bukan kau, Saigon. Tetapi setidaknya kau tahu takdir tidak bisa dirubah."
"Sebaiknya kau diam," kata Saigon.
Puncak Bitang sunyi, kecuali bisikan angin dan denyut amarah. Idaba menyilangkan tangan di belakang. Ia tahu, Saigon—sahabatnya sejak kecil adalah pribadi keras kepala. Kini dia yakin, Saigon tidak hanya ingin membuka portal.
"Aku hidup bahagia bersama orang tuaku sampai mereka... direbut! Kebahagiaanku dihancurkan! Aku ingin mereka kembali! Aku ingin bahagia lagi!" Saigon meraung.
"Pikiranmu telah dikaburkan. Kau menembus semesta demi kebodohan ini! Mereka sudah tiada, Saigon. Terimalah. Itu takdir," ujar Idaba, matanya penuh iba.
"Kau bilang bodoh? Kau pikir mudah bagiku? Mendapatkan kasih sayang lalu direnggut begitu saja?! AKU TIDAK BISA, IDABA!" Saigon menunjuk dadanya dengan mata membara.
"Jangan lanjutkan ini..."
Namun terlambat.
Saigon justru manipulasi udara, memanggil aroma paling busuk untuk menyerang Idaba. SEKETIKA! Idaba jatuh berlutut, muntah, tubuhnya menggigil. Darah dan lendir mengalir. Ia kejang, tubuhnya memerah, dan...
Hening.
Idaba lemas dalam pelukan aroma busuk. Wajahnya pucat, dingin, sepi.
"Kematian adalah perjalanan, kan? Semoga kau temui ayah ibumuu di sana... Sahabatku."
***
Di kaki Gunung Bitang, empat sosok tengah menapaki perjalanan berat menuju puncak. Lematang berdiri terengah, menahan detak jantung yang tak beraturan. Di sampingnya, Kerinci.
"Cairan itu telah mengubahku," ujarnya.
"Kau sekarang... aneh," gumam Lematang, sambil menatap ke atas.
"Dia ada di sana, di puncak. Aku melihat... mayat," ungkap Kerinci, penuh kepastian.
Ogan, melompat ke atas batu, menatap puncak gunung yang diselimuti pohon-pohon berdaun merah bata. "Kita harus terbang ke sana," ujarnya sambil menoleh pada Mauli. Senyum manis menghiasi wajahnya. "Kau selalu bisa," balas Mauli sambil merapat di sampingnya.
Kerinci mengangkat tangan, canggung. "Kau harus menggendongku," katanya pada Lematang, sedikit malu.
"Manja sekali... tidak malu minta gendong pada perempuan?" goda Lematang sambil tersenyum miring.
"Kau harus terbiasa," jawab Kerinci.
Energi mengelilingi tubuh mereka lalu melesat ke langit.
Ogan dan Mauli berbicara—percakapan yang seharusnya hanya milik mereka berdua.
"Hangat sekali badanmu..." ucap Mauli.
"Kau pikir aku mayat?"
"Detak jantungmu... pasti berdebar karena aku."
"Kalau kau terus bicara soal Wadari, aku bisa naik pitam," balas Mauli tajam—mengingat ciuman Ogan dengan Lematang, dan kedekatannya dengan wanita lain.
"Aku sudah jujur... Mana mungkin aku berpaling, Mauli."
Lematang menghela napas. "Mereka bertengkar," gumamnya.
"Setelah ini, kau janji ajak aku jalan-jalan. Aku muak hanya berkelahi. Aku ingin dimanja, dicintai..." ucap Lematang, lirih namun penuh perasaan.
Namun tiba-tiba, Kerinci kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya meluncur turun, cepat dan tak terkendali. Seperti durian runtuh di tengah akar-akar merah.
BUG!
Saigon terkejut.
Pandangannya terganggu.
Portal Kematian telah terbuka.
Aura gelap mulai merayap ke langit, namun kehadiran orang-orang ini—dan kejatuhan Kerinci—mengubah segalanya.
Kerinci menggeliat, berdiri pelan. Rambutnya kusut, napasnya berat.
"Gawat..." gumamnya lemah.
Saigon menyipitkan mata. "Kalian... datang terlalu cepat..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
