Chapter 4

13 0 0
                                        


Mauli muncul dengan tas cokelat tersampir di bahu, senyum manis mengembang di wajahnya. "Kalian jaga tempat ini baik-baik, ya!" pesannya pada Jira dan Sangkut. Keduanya mengangguk patuh, meski dalam hati tak bisa menahan gejolak—antara lega dan geli melihat ekspresi Mauli yang baru saja berubah 180 derajat.

Dengan langkah ringan dan hati yang kembali berbunga, Mauli menggamit lengan Ogan. Senyumnya tak bisa disembunyikan, seolah kecemburuan yang tadi menyelimuti lenyap bersama desir angin sore. Jira dan Sangkut hanya saling pandang kemudian merapatkan posisi, seperti dua pengamat setia drama kantor yang tengah berjalan langsung di depan mata.

Begitu keduanya menghilang, Sangkut diam-diam mengambil kotak cincin merah dari etalase. Ia menuju ke belakang sambil membawa kain lap lalu mengelap salah satu cincin permata dengan hati-hati.

Di sisi lain, Jira mulai menggerutu.

"Jangan sok tahu soal perempuan, ya!" sentaknya tajam.

Sangkut menoleh bingung, tak merasa menyulut api. Tapi wajah Jira tampak membara. "Laki-laki mana pun tak akan pernah benar-benar tahu rasanya jadi perempuan—datang bulan, hamil, melahirkan... semuanya tidak mudah!"

Jira menepuk meja. Suaranya meledak seperti petasan di pagi sunyi. Sekilas, ia tampak seperti seseorang yang telah berkeluarga dan berpengalaman, padahal kenyataannya ia masih gadis.

"M-maaf... Aku cuma bercanda," ucap Sangkut canggung, wajahnya salah tingkah, tatapannya lari ke mana-mana.

"Kalau ngomong tuh pakai otak!" semprot Jira.

"Memangnya aku punya otak?" balas Sangkut pelan. "Aku gak punya otak, Jira."

Ucapannya seketika menghentikan emosi Jira. Sekujur tubuhnya menggigil, menahan tawa yang mulai mendesak keluar. Dan akhirnya—

"Bwahaha! Hahaha!" tawa Jira meledak tanpa bisa dibendung. Tubuhnya berguncang, mulut menganga lebar seperti hendak menelan semangka. Tawa lepas itu bergulir hingga air mata menetes dari sudut matanya.

"Emang, aku gak ada otak," gumam Sangkut santai, tetap fokus dengan lap di tangan, tak peduli dengan Jira yang tertawa seperti baru mendengar lelucon dari jagat raya.

Tawa Jira makin menjadi-jadi. Kursi yang ia duduki ikut terguncang, dan akhirnya bersandar sambil menekan perut. "Aduh... perutku sakit gara-gara kau!"

Sangkut hanya melirik, kembali fokus pada cincin di tangannya. Masa bodoh seperti kerbau mandi lumpur.

***

Mauli dan Ogan berjalan bergandengan seperti sepasang Romeo dan Juliet versi Lamus. Mereka melangkah di trotoar, di antara hiruk-pikuk kota yang mulai padat menjelang sore.

"Tuh, lihat! Aku pengin beli balon itu!" seru Mauli riang, menunjuk ke arah seorang kakek tua yang duduk menjajakan balon warna-warni. Balon merah muda, biru, hijau, putih—semuanya menggoda mata.

Ogan mengangguk dan mereka pun menghampiri. "Pak, saya beli dua. Yang pink dan merah," ucap Mauli mantap.

Senyum sang kakek merekah. Ia berdiri pelan, menyerahkan dua balon kepada Mauli. Ogan menyerahkan selembar uang tanpa meminta kembalian.

"Ambil saja kembaliannya, Pak."

Sang kakek menatap uang itu lama. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Nak... Kau sangat membantu."

Mauli berjalan penuh ceria. Mereka melangkah ke arah barat, menyusuri jalur pejalan kaki. Namun langkah mereka terhenti saat suara tangisan bocah kecil terdengar dari sisi jalan.

Melihat anak kecil menangis sembari menunjuk balon yang dipegangnya. Tanpa ragu, ia berjongkok dan memberikan kedua balon itu kepada sang anak.

"Terima kasih," ucap ibu anak itu sambil membetulkan baju anaknya.

Ogan hanya tersenyum, memperhatikan tingkah Mauli yang tulus. "Itu cuma balon," ucapnya pelan.

"Tapi bisa membuat seseorang tersenyum," jawab Mauli, menggamit lengan Ogan lagi.

Mereka tiba di alun-alun kota Lamus. Di salah satu sudutnya, sebuah tenda makan berdiri, bertuliskan "Sate Lamus" dengan latar hijau muda dan tulisan hitam tebal.

"Pak, sate dua ya!" seru Ogan setelah duduk.

Pemilik warung, seorang pria paruh baya bercelemek putih, mengangguk dan mulai menyiapkan pesanan.

"Kau sudah menjelma jadi orang Lamus, rupanya," ujar si pemilik sambil meracik sambal.

"Aku jatuh cinta pada Lamus bahkan sebelum tragedi dua tahun lalu," balas Ogan.

"Bukan hanya Lamus, kan? Kau juga pasti mencintai seseorang yang membangunkanmu dari masa lalu," sahut pemilik itu dengan senyum penuh makna.

"Lagipula, bangkai Pasukan Bodem 'kan sudah terkubur di Aguilar, bukan?"

"Hem, kau tahu dari mana?" Ogan terkejut.

Pemilik hanya tertawa kecil sambil menyerahkan dua porsi nasi. Tak lama kemudian, dua piring sate lengkap dengan topingnya.

"Silakan!"

"Terima kasih."

"Tak ada lontong, nasi pun jadi," seru Ogan dengan wajah berbinar, seperti anak kecil yang menemukan permen favoritnya di sela rak dapur. Suaranya ringan, tapi penuh semangat, seolah sepiring nasi mampu menebus rindu pada kenangan lama.

Ogan langsung menyuap nasi, menggigit sepotong sate yang sudah dilumuri bumbu hitam manis pedas khas Lamus. Aroma arang yang melekat di daging menari di indera penciumannya. "Hemm... Besok kau harus bisa masak seperti ini!" serunya puas, seolah baru menemukan kenikmatan dunia yang lama hilang.

"Ini makanan favoritmu?" tanya Mauli, ikut mencicipi satu tusuk sambil tersenyum kecil.

"Makan pakai tangan itu nikmatnya beda. Rasanya lebih jujur," jawab Ogan santai, seperti seorang filsuf kuliner kampung.

Mauli tersenyum geli. "Kau memang norak waktu pertama kali ke sini. Pakai sendok saja seperti orang baru belajar makan," godanya sambil menutup mulut agar tawanya tak pecah terlalu keras.

Ogan terkekeh, lalu melahap mentimun segar. Kress! Suara garing itu menggema sejenak, menambah semarak meja makan sederhana mereka.

"Daun kemangi bagus untuk mengurangi bau keringat!" celetuk Mauli sembari terkikik, matanya bersinar geli.

Ogan tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia menatap Mauli dengan mata membulat, seolah tak percaya ucapan itu keluar dari bibir yang biasanya lembut. Tapi tawanya pecah juga, mengalir deras seperti sungai yang lama tertahan bendungan. Dalam tawa dan canda yang mengambang di udara malam, perut kenyang dan hati pun terasa lapang.

Tetapi, setelahnya seseorang telah menunggu...

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang