"Hai!"
Suaranya pelan, cukup bagi laki-laki untuk melupakan dunianya.
Lematang menyipitkan mata, seolah tak percaya. Ada cahaya yang menyilaukan dalam benaknya saat mengenali sosok itu.
"Ogan?"
Ia tersenyum, samar tapi tulus seperti mentari sore yang enggan tenggelam.
Pucak cinta, ulam pun tiba.
"Hai, Cika. Aku baru saja mau pulang. Tetapi aku melihat dari jauh seperti aku mengenal seseorang, ternyata kau."
"Oke. Tetapi pertemuan ini pasti ada alasannya bukan. Aku rasa aku banyak waktu hari ini."
Kalimat pancingan, tetapi Ogan adalah orang tua yang tidak mengerti. "Hah?"
"Tak jauh dari sini ada warung bakso paling enak," ujar Lematang dengan penuh semangat.
"Mau makan bareng, nanti Aku traktir?"
"Oh ya! Tentu, kebetulan aku tahu dengan bakso itu," ujar Ogan.
***
Mereka menyusuri trotoar yang basah oleh embun malam. Di ujung sana, terdapat sebuah restoran besar dengan papan nama mencolok bertuliskan: Bakso Pak Camat. Tempat itu terkenal, khusus menjajakan aneka ragam: bakso biasa, bakso urat, bakso telor, bakso daging, bakso beranak, bakso mangko, bakso lava, dll.
Di meja nomor 11.
"Mbak, saya pesan bakso beranak dua dan es teh manis dua," kata Lematang sambil tersenyum.
Delapan menit berselang... pesanan pun datang.
Pelayan menyuguhkan dua mangkuk besar bergambar ayam jago dan dua gelas tinggi berisi es teh manis.
Aroma uap daging menguar, menggoda indera.
Ogan menggosok-gosok kedua tangan, tanda lapar tak bisa ditunda. Sementara Lematang, mula-mula menghirup aroma kuah, lalu tersenyum.
Kerinci... Tak sengaka lewat namun, menangkap sepasang manusia sedang menikmati bangso.
Di balik kaca jendela.
Kerinci nyaris tak habis pikir jika wanita itu—mengenal Ogan.
Tuuttt!
Nada dering ponsel membuyarkan lamunannya. Kerinci merogoh kantong.
"Halo, ya? Baik, aku sedang di jalan, tunggu sebentar."
Tuut... tuutt!
Telepon terputus.
Sebelum hengkang, Kerinci sempat menoleh ke arah restoran. Wajahnya tampak sendu seperti langit mendung yang tak jadi hujan. Ada sesal yang menggantung di matanya. Namun tetap melangkah pergi, perlahan, menyisakan langkah yang berat.
"Enak, bukan?" tanya Lematang sembari memotong bakso besar yang di dalamnya menyembul bola-bola kecil.
"Asal kau tahu, selain Sate Lamus, pempek, model, model, bakso ini menjadi salah satu favoritku," jelas Ogan.
Tempat itu makin padat, satu keluarga datang berbondong-bondong, dua bus wisata berhenti, para pasangan muda duduk berdempetan seperti burung merpati.
"Lihat saja! Ramainya bukan main. Bakso Pak Camat ini baru buka tahun lalu, setelah kejadian Profesor Garung," kata Lematang, suaranya sedikit lirih.
Ucapan itu menggelitik rasa ingin tahu.
"Kau sudah lama tinggal di Lamus?"
"Baru tiga bulan. Tapi aku banyak mendengar cerita dari warga sekitar, termasuk soal Profesor Garung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
