Chapter 22

4 0 0
                                        


Kemunculan Mauli justru membuat suasana restoran kian kacau.

Apa yang tadinya sudah janggal, kini menjadi tontonan penuh teka-teki. Para pengunjung melirik ke arah mereka, menyaksikan drama yang dari tadi tak bisa mereka tafsirkan.

"Kau tenang dulu. Aku bisa jelaskan semuanya," ujar Lematang, berusaha meredakan badai sebelum benar-benar pecah.

Lematang mendekat, mencoba menggandeng Mauli agar menyingkir. Namun belum sempat melangkah, suara Kerinci memecah udara.

"Tunggu!" serunya.

Sorot matanya tak bisa menyembunyikan luka yang baru saja ditorehkan oleh ucapan Mauli.

"Apa yang kupikirkan selama ini ternyata benar. Kau memang menyukai Ogan... lelaki berotot yang tampak sempurna di matamu, bukan?"

"Aku bisa jelaskan, Kerinci."

Kali ini, Lematang menggandeng keduanya keluar. Seperti menyeret kambing menuju kandang, Kerinci pasrah tapi mulutnya terus bergerak, mengomel bak ibu-ibu marah karena harga minyak goreng naik.

Dan akhirnya...

"Aku mendekati Ogan hanya untuk satu alasan: misi. Aku tidak punya perasaan padanya. Semua itu... hanya demi menemukan Mauli. Kau!" Lematang menunjuk Mauli dengan keyakinan.

Ia menatap Mauli dalam-dalam seolah ingin mengirimkan keyakinan lewat sorot matanya.

"Dengar! Aku ingin memperbaiki semuanya. Termasuk hubunganku dengan kalian. Aku tahu, aku telah membuat kekacauan. Tapi berikan aku kesempatan untuk memperbaiki."

Suara Lematang mulai bergetar, tetapi sorot matanya tetap kokoh.

"Sekarang aku berdiri di pihak kalian. Tapi... apakah kalian mempercaya?"

Lematang menatap Mauli dan Kerinci bergantian.

"Aku butuh kalian untuk menyelamatkan Lamus. Jika tidak... bangsa Unu akan menghancurkan negeri ini."

"Apa yang membuatmu begitu yakin?" tanya Mauli, suara lembut namun menyimpan keraguan.

"Sejak kemunculan mereka, aku bisa merasakan bencana besar. Mereka lapar... dan manusia adalah santapan utama mereka. Unu adalah maserba, pemangsa daging, pemburu tanpa nurani."

Wajah Lematang berubah murung, tetapi kuat. Ia menoleh pada Kerinci, laki-laki pertama yang berani mencintai makhluk seperti dirinya.

"Tapi kau harus ingat, Kerinci... aku ini monster. Aku bisa membakar wajahmu hanya dengan sekali tarikan napas."

Dia mendekat, suaranya rendah, tetapi tajam.

Namun Kerinci tetap berdiri tegak. Baginya, cinta bukan tentang logika, melainkan keberanian menerima tanpa syarat.

Selama ini, manusia biasa tak mampu menambatkan hati. Terlalu banyak wanita yang hanya ingin hartanya, tubuhnya, atau statusnya. Tapi Lematang? Makhluk dari dunia lain, justru membuatnya ingin tinggal lebih lama di Bumi ini.

"Tolong dengarkan aku!" Kerinci memegang kedua bahu Lematang.

Mata mereka bertemu, dan dunia seolah diam.

"Aku ingin mencintaimu. Jika semua yang kau katakan benar, maka mari kita berjuang bersama. Kita perbaiki yang rusak, kita benahi yang kacau. Karena bukan cuma kau yang butuh perubahan. Aku juga."

"Kalau memang kau ingin membakarku, bakarlah sekarang. Aku siap."

Kata-kata itu menembus dinding pertahanan Lematang. Ia terdiam, menatap pria itu dengan penuh haru. Dan dalam keheningan yang menggantung, akhirnya memeluk Kerinci—erat, hangat, dan penuh rasa takut kehilangan.

"Jika suatu hari nanti kau pindah ke perempuan lain, aku tidak akan membakar wajahmu, Kerinci..."

Lematang berbisik di telinganya.

"Aku akan membakar seluruh tubuhmu."

Pelukan mereka mengukuhkan satu hal: kini mereka adalah pasangan. Evolus dan manusia, menyatu dalam perjanjian tak tertulis—cinta yang melawan hukum semesta.

"Aku berasal dari Semesta Bit. Tempat di mana para evolus dilahirkan."

"Apa pun itu... aku terima," jawab Kerinci.

Namun Mauli masih tampak ragu. Mencoba percaya walau hatinya belum sepenuhnya luluh. Ia mencoba menerima keberadaan Lematang, walau jejak luka masih tertinggal di relungnya.

Tiba-tiba—dari kejauhan, sekitar 300 meter dari tempat mereka berdiri—terdengar keributan. Orang-orang berlarian, wajah-wajah panik bermunculan. Pekik ketakutan mulai menggema.

Sesuatu... telah datang.

Sesuatu... yang mengerikan.

Momen haru mereka terhenti. Mata mereka kini terpaku pada sosok besar yang mulai tampak di kejauhan, mengoyak ketenangan sore itu.

"Gawat..." bisik Kerinci.

"Ini... sungguh tidak baik."

"Yang benar saja?"

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang