Senyumnya tampak hangat, tapi justru itulah awal dari malapetaka. Wajah yang seolah bersahabat malah memancarkan aura mencekam, lebih menyeramkan daripada hantu yang keluar dari liang lahat. Ia membalik badan, berdiri membelakangi medan pertempuran, sementara portal yang menganga di hadapannya makin besar, memutar seperti pusaran langit neraka. Tenang... seolah semua sudah dalam kendalinya.
"Saigon!"
Suara itu meledak seperti petir.
Tatapan matanya kosong tapi tajam. Menunggu.
"Kau harus mengganti nyawa pamanku! Karena ulah bangsa Unu yang kau bangkitkan, dia... mati ditelan makhluk busuk itu! Kau harus bayar!"
Kerinci muncul seperti banjir dendam. Dua pedangnya bersimbah darah. Mata menatap Saigon seperti ingin menelannya hidup-hidup. Ia tak peduli lagi pada rasa takut—hanya ingin balas dendam. Di depan matanya sendiri, tubuh pamannya terpotong tanpa ampun. Kini, dia datang untuk menuntut balas.
Enam makhluk Unu bergerak menghadang. Raksasa-raksasa menjijikkan itu adalah pelindung Saigon—pengawal sang pembangkit. Tapi Kerinci tak gentar. Dua mata pedang berkilau, menari di udara. Dengan ayunan presisi, dia memotong kaki depan Unu kemudian memotong lehernya. Darah hitam menyemprot liar. Dia melompat, lutut menghantam dada lawan berikutnya. Empat kaki terputus, lantas menarik isi perut Unu hingga makhluk itu meraung—mati.
"Kau tidak akan bisa menghentikanku, Kerinci." sahut Saigon ringan, dengan senyum setipis silet.
"LIHAT AKU!" seru Kerinci.
Tubuhnya mulai gemetar.
Ada yang aneh...
Kerinci mendadak memegangi perut dan hidung. Matanya merah. "Huwek!" Ia muntah-muntah hebat. Aroma itu—busuk, menyengat, menjijikkan—menghantui paru-parunya. Senjatanya terlepas. Tiba-tiba, dari sisi buta, seekor Unu menyeruduk tubuhnya hingga terpental keras ke tanah.
Kerinci tergeletak. Tak bergerak.
"KERINCI!"
Jeritan sang kekasih pecah. Lematang melesat bagaikan meteor menuju Saigon. DUG! Terlempar. Menghantam pohon besar lalu menggelinding ke bebatuan. Tapi tawa selalu bersamanya. Tertawa pelan.
Portal makin terbuka. Ogan panik. Sosok hitam mulai muncul dari dalam celah neraka itu. Mata sosok itu menyala merah. Napasnya menggetarkan tanah. Lebih gelap, lebih keji, lebih mengerikan daripada Saigon sendiri.
"Bagaimana cara menutup ini?"
Tangan Ogan gemetar, tapi jiwanya masih menyala.
Sementara itu... dua saudara berdiri berhadapan.
"Aku tak punya pilihan, Saigon. Kau harus dihentikan!"
"Harusnya kau mendukungku. Ini demi keluarga kita."
"Keluarga? Kau sudah dirasuki iblis!"
Lematang menghantamkan gas metana ke arah Saigon. Tapi Saigon membalas—dengan aroma pekat lada. Sengak. Tapi terlalu tajam dan menusuk. Lematang bersin. Berkali-kali. Ia terguncang. Ternyata... itulah kelemahannya.
"Keparat! Kau tahu aku alergi lada."
Partikel hitam menyerbu tubuh Lematang, menyusup ke pori-pori. Napasnya tersendat. Tapi dari arah lain, seberkas sinar menyambar pelipis Saigon.
Mauli datang!
"Kau tidak akan menyentuh saudara kami!" Sinar neon itu membuat kepala Saigon tersentak ke belakang.
Mauli berlari menghampiri Lematang yang mulai lemas.
"Kau tidak apa-apa?"
"Kau percaya padaku, kan Mauli? Aku dan Ogan... tidak ada apa-apa. Hanya teman. Hanya kau yang dia cintai."
"Diam! Jangan banyak bicara!"
Tubuh Lematang melemas. Sisa-sisa partikel jahat masih menggrogoti tubuhnya. Kini, hanya Ogan dan Mauli yang berdiri.
Saigon bangkit. Hanya kemarahan dan dendam. "Kalian hanyalah debu yang menghalangi rencana besarku!"
Tapi Ogan sudah bersiap. Tubuhnya berpendar dua warna seperti kilat petir yang menyatu. Tongkatnya bergetar, mustika menyala dari dalam, dan ayunan pusaka itu menyalurkan energi.
Mauli mencoba menahan Saigon dengan sinar neon meski tak cukup.
Lematang menguatkan diri. Meski nyaris lumpuh, ia berdiri, lalu melepaskan gelombang metana terakhir untuk menahan Saigon. Dua wanita, satu tujuan. Saigon tertahan. Tapi niatnya terlalu kuat: membangkitkan orang tua mereka dari kematian.
"Kalian tak akan bisa menghentikanku!"
Wajah Saigon kembali menyeringai. Kali ini senyum yang menyebalkan—senyum yang mendahului kematian.
Tiba-tiba...
Seekor Unu melompat dari bayangan, mencoba menggigit tubuh Mauli. Dicengkram lalu dibanting keras ke tanah, berulang-ulang. Genggaman pada Walas terlepas. Tubuhnya tak bergerak, bersimbah darah.
"MAULI!!!"
Lematang berteriak histeris. Tapi Unu berikutnya datang hendak melahapnya.
Lematang melawan dengan metana terakhir, tapi kemudian... Saigon memukulnya.
Bugh! Tamparan telak menghantam Lematang. Sekali lagi. Dan lagi. Bajunya dicabik, darah menetes dari bibir dan hidung.
"Kau penghalang yang menjijikkan." desis Saigon. Puas telah mencelakai saudarinya sendiri.
Tubuh Lematang jatuh, lemas, terpuruk. Tapi tiba-tiba...
BOOOOMMM!
Angin dahsyat menyapu sekeliling. Hembusannya seperti suara sangkakala.
Saigon terhuyung. Matanya membelalak.
"Tidak... tidak mungkin..."
Dari balik cahaya...
OGAN MELANGKAH MAJU.
Tubuhnya membara oleh dua kekuatan kuno. Di belakangnya, portal mulai bergetar... seperti hendak runtuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
