Chapter 44

9 1 0
                                        

Hidup di Lamus adalah ujian ketabahan, bukan hanya karena perihal cuaca atau ladang yang keras—tetapi karena kehilangan dan harapan selalu bersisian. Di tanah ini, Ogan kini berdiri, menatap sisa-sisa yang dulu disebut "usaha." Toko kecilnya luluh lantak. Puing-puing berserakan, dagangan hangus terbakar, dan hanya angin yang bersiul menyanyikan lagu Gending Sriwijaya.

Namun, dari reruntuhan itu, muncul cahaya. Mauli, si wanita dengan semesta di matanya, datang membawa kabar baik.

"Kau bisa bekerja sebagai arkeolog, bukan?" tanyanya, pakaian nyentrik dan aroma tanah masih melekat padanya.

"Apakah itu sulit?" Ogan membalik badan, menahan getir.

"Biar aku yang urus... asal kau bersedia belajar."

"Akan aku pikir-pikir, tetapi di sini duniaku."

Dan begitulah...

Tawaran emas itu ditolak dan tetap memaksa untuk bangkit. Ogan—jiwanya pada dunia ukir, batu kali dan hiasan klasik yang telah melekat sejak zaman dulu.

***

Mereka mengangkat sebuah patung Budha kecil yang berselimut tanah dan waktu. Di antara reruntuhan artefak, Ogan terpaku menatap patung dirinya sendiri. Retakan telah diperbaiki, rongga diisi, dan kini berdiri megah—sang prajurit legenda dari Sriwijaya.

"Aku masih sulit percaya bahwa aku... bagian dari legenda," bisik Ogan lirih.

Profesor Garung menepuk pundaknya. "Kau akan jadi bagian dari museum. Pahlawan Lamus dua kali. Aku sudah bicara pada Walikota. Kita akan menyebutnya: Galeri Ogan."

Ogan hanya tersenyum tipis, menyembunyikan keharuan yang menghantam jiwanya.

***

Malam itu... Ada sesuatu yang ganjal.

Rasa penasaran membawa Ogan ke ruang penyimpanan. Di sana, Walas tergeletak sunyi seperti memanggil-manggil. Ia membuka lembar pertamanya, lalu lembar demi lembar, hingga matanya terpaku pada satu: mantra kuno bernama "Kalagama." Ajian untuk menjelajah waktu.

Dengan suara lirih, dia mengucapkannya...

Jreng!

Dunia berubah. Ia berada di balik jerami, menyaksikan prajurit Belanda membentak seorang petani. Di kejauhan, sepasang suami istri bertengkar.

"Ini gara-gara kau karena minta ke surga. Mungkin kita sudah mati," cetus sang wanita.

"Mana mungkin ini kematian. Tempat ini seperti Bumi," balas suaminya.

"Lihat di sekelilingmu! Kita berada di tempat yang berbeda."

"Entahlah. Hidupku terlalu rumit."

"Sebaiknya kita pergi!" Keduanya melangkah.

Ogan mengerutkan dahi. "Masa penjajahan..." bisiknya.

Lagi—konsentrasi penuh. Dan dunia kembali pecah.

Kini justru berada di padang perang. Sorak prajurit, denting senjata, debu-debu pertempuran mengabur pandangan. Ini bukan Sriwijaya—ini Majapahit.

"Aku tak boleh mengganggu linimasa. Satu kesalahan bisa mengubah segalanya."

Sekali lagi membaca mantra. Dunia runtuh, dunia terbangun.

Kali ini...

Alih-alih berada di era jauh sebelum manusia: zaman dinosaurus. Tanahnya subur, langit biru menyala. Ia menyaksikan kawanan Diplodocus dan Stegosaurus merumput damai. Brachiosaurus menjulang seperti menara hidup.

Namun langit menjadi gelap ketika seekor T-Rex menerobos semak belukar—mata merah, rahang menganga.

"T-Rex..."

Ogan tak punya Akuadron, tak punya Aguilar. Tampak seperti manusia di tengah kebingungan. Lari tunggang langgang tak tentu arah.

Dan... Zip!

Ia kembali. Napasnya memburu, keringat dingin menetes di kening. Walas ditutup rapat. Tapi.. Tok-tok-tok!

Seseorang tengah mengetuk pintu. Perasaan menegangkan belum sepenuhnya hilang, Ogan terpaksa membuka pintu dan...

"T-T-Rex!"

Seekor makhluk aneh sebesar sapi muncul seolah-olah merindukan majikannya.

"OGAN! Tenang... Dia cuma Dogi."

"Apa?"

Mata Ogan masih membulat. Wujud Dogi jauh dari normal. Suara salaknya berat, ekornya seperti cambuk naga. Di belakang—Jalu, berdiri seperti burung unta.

"Apa yang terjadi padanya? Kenapa mereka jadi besar?"

Kerinci tersenyum misterius, lalu berbisik di telinga Ogan:

"Mereka menghirup Napas Dewa."

Dunia Ogan seperti berhenti.

Deg!

Napas Dewa—zat langka, kekuatan purba yang bahkan hanya jadi dongeng di lidah para tetua. Jika benar Dogi dan Jalu menghirupnya, berarti mereka bukan sekadar peliharaan. Mereka adalah penjaga warisan terakhir dari seorang Singkarak.

Dan saat Dogi menjatuhkan tubuh Ogan ke lantai—bukan sebagai ancaman, tapi dalam pelukan makhluk yang mengenal majikannya—Ogan hanya tertahan seolah tertimpa sapi.

Di sudut mata, ada air bening yang hampir jatuh. Mungkin karena lelah. Mungkin karena rindu.

Atau mungkin karena sadar, bahwa hidupnya baru saja berubah... lagi.

Tapi yang tak Ogan tahu adalah ini:

Walas belum selesai bicara.

Ada satu cerita lain... yang belum terbaca.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang