Chpater 34

8 0 0
                                        


"Rasakan ini, bajingan!"

Suara Mauli menggema memecah hiruk medan. Kilatan cahaya memancar dari tangan, menusuk mata seekor Unu yang mengaum kesakitan. Mata kirinya membara, seolah meleleh terbakar panas. Cakar menggosok wajah sendiri, panik, kehilangan penglihatan.

Tiba-tiba...

Unu lain menyerang cepat seperti anak panah dilepas busur. Gigi tajamnya menggigit Mauli dan membantingnya ke tanah—ke kanan, ke kiri, seperti anjing bermain kasar dengan tikus kecil. Tubuh Mauli terlempar jauh, membentur tanah keras. Tapi tangannya tetap menggenggam Walas, erat, seperti bayi mempertahankan selimut kesayangan.

Makhluk itu menampakkan gigi, senyum mengerikan penuh ancaman. Namun sekejap, Mauli memercikkan sinar dari ujung jari, langsung membutakan Unu tersebut. Ia menjerit seperti anjing kesakitan, berputar-putar, buta dan tak berdaya.

Tak membuang waktu, Mauli menghantam yang lain. Cahaya menari dari tubuhnya, meliuk bak ular petir—membakar, menebas, memukul.

Dari belakang, terdengar suara langkah. Bram datang dengan wajah penuh tekad.

"Kami tidak akan tinggal diam," ucapnya tegas sambil mengangkat senjata ke langit.

"Sampai kapan pun, aku tidak akan pergi dari sini," balas Mauli, senyumnya mengembang meski tubuhnya penuh luka.

Mereka pernah berjuang bersama—melawan Profesor Garung, menyelamatkan negeri dari kehancuran. Persahabatan mereka bukan sekadar ikatan pertempuran, tapi darah juang yang sama.

"Jangan biarkan kami menganggur," ujar Bram, menatap langit yang mulai gelap oleh bayangan.

Entah dari mana...

Tiga pria muncul dari debu dan asap. Mauli menyipitkan mata. Dua di antaranya ia kenal, yang satu lagi... asing. Tapi wajah mereka mirip, seperti diukir dari cetakan yang sama.

"Aku dengar Lamus butuh bantuan," ujar pria pertama dengan rompi anti-peluru dan sederet alat tempur di tubuhnya.

"Karot?" Mauli terperangah.

"Sangkut?"

"Lalu... siapa dia?" tunjuk Mauli ke pria yang tubuhnya menjulang, lebih tinggi dari keduanya.

"Pengot."

"Aku Pengot, saudaranya Sangkut," jawabnya dengan suara berat.

"Pengot? Penjual pempek itu?" Ogan muncul dengan napas terengah, menyela dengan nada heran.

"Iya. Kau pasti belum pernah coba kan?"

"Sejujurnya aku pengen sekali makan Pempek Kapal Terbang milikmu. Katanya lebih enak dari kapal selam."

"Iya, itu varian baru yang aku ciptakan sendiri, paduan dari pempek kulit dan daging sapi."

"Setelah itu, aku akan datang ke kedaimu."

Ternyata, keluarga ini tak hanya jago berdagang, mereka juga petarung yang telah lama mempersiapkan diri. Jauh dari bayangan orang lain.

"Maaf, Bos," ucap Sangkut, "Tapi kami tidak akan diam melihat negeri ini punah."

Ogan mengangguk. Meski sebelumnya sebelum bisa bicara lebih jauh, matanya menatap seekor Unu besar yang hendak menerkam.

DUAK!

Tanpa ragu, Ogan menghantam hingga tak bergerak, kakinya menekan kepala makhluk itu.

Ketiga keluarga itu bersiap, mengeluarkan senjata lama yang pernah digunakan saat melawan pasukan Bodem. Kini telah dimodifikasi—berbentuk lebih kecil, dilengkapi listrik yang lebih besar.

Karot menyelinap di antara para Unu, menancapkan senjatanya ke tubuh Unu. Seketika, listrik menjalar, dan makhluk itu kejang, mengaum, lalu runtuh. Sangkut menghujani peluru listrik dari senapan modifikasi. Unu berguguran satu demi satu. Tubuh mereka bergetar, roboh seperti pohon disambar petir.

Namun...

Gelombang Unu tak henti datang. Seperti hujan badai yang tak mengenal musim, mereka datang dari segala arah. Bahkan Jira mulai kehilangan kendali, matanya penuh ketakutan. "Ini... gila. Dari mana mereka muncul?"

"Seperti semut mengerubungi gula," gumam Singkarak, suaranya getir.

Sementara.

Pengot bersiap dengan busur listrik warisan Karot. Satu tarikan, satu Unu tumbang. Meski hanya seorang penjual pempek, kini tampil seperti ksatria di tengah perang abad dunia.

"Makhluk ini berkembang biak saat perutnya kenyang," jelas Sangkut, lirih.

Di tengah kekacauan, Ogan berdiri di depan Mauli, melindunginya dengan tubuh tegap.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Mauli tajam, mengerutkan dahi.

"Aku melindungimu."

Mauli bersedekap, wajahnya sengak. "Kau pikir aku tak bisa melindungi diriku sendiri?"

"Astaga!'

"Jangan mulai lagi... ini medan perang, bukan ruang debat!" Ogan menoleh, bingung sendiri.

Namun belum sempat kata lanjut, seekor Unu menggigit Ogan dan melemparkannya sejauh belasan meter.

Refleks, Mauli menghentakkan tangan—kilatan mengenai dagu Unu dan membuat makhluk itu jungkir balik. Dengan angkuh, Mauli berdiri tegap. Sekali lirikan ke arah Ogan yang tengah bangkit sambil tersenyum, membuat darahnya mendidih.

Mauli memukul tanah. Getaran menyebar dari titik telapak hingga radius sepuluh meter. Ironisnya, tubuhnya ikut terlempar akibat kekuatannya sendiri.

Ogan segera menghampiri, menahan tubuh Mauli yang terbanting.

"Kau tidak apa-apa?" Mengunci ke dalam mata Mauli.

Saat itu... dunia seolah hening.

Mauli terpaku, wajah Ogan begitu dekat, begitu lembut—kontras dari kekacauan yang sedang berlangsung. Tangan mereka bersentuhan. Sentuhan kecil, tapi membakar, membangkitkan rasa yang selama ini hanya disimpan di dalam hati.

"Kau tidak boleh begini... Aku tidak bisa kehilangan separuh nyawaku," bisik Ogan lirih.

Mauli menunduk, hatinya mencair seperti lilin yang disundut nyala cinta. Tapi ia segera sadar—medan perang bukan tempat untuk perasaan manis.

"Kita sedang berperang, bukan berbulan madu!" katanya tajam, lalu membuang tangan Ogan dan berdiri dengan cemberut.

Dia membelakangi.

Memasang wajah jutek, sifat alami wanita—drama. Tetapi dari ujung bibir, terselip senyum yang tak bisa disembunyikan.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang