Chapter 42

7 0 0
                                        


Ayunan pusaka Ogan seperti menyayat dimensi itu sendiri. Sinar biru dan merah berpilin di sekeliling tubuhnya, membentuk pusaran kekuatan yang menabrak portal dengan kekuatan mustika yang belum pernah dilepaskan sebelumnya.

BOOMMM!!!

Suara ledakan mengguncang tanah. Portal Kematian hancur seketika. Hanya tersisa wajah mengerikan yang sempat menatap dari dalam sebelum lenyap dalam ledakan yang melelehkan dimensi. Tanah tempat portal itu berdiri morat-marit, terbelah, dan hancur seperti bekas letusan gunung purba.

Saigon terdiam. Matanya membelalak. Harapannya musnah. Cita-cita menyatukan keluarganya pupus bersama runtuhnya gerbang yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Wajahnya berubah. Senyum licik lenyap, berganti murka membara. Tubuhnya gemetar.

"TIDAAAKKK!"

Jeritnya menyaingi petir di langit.

"Berani sekali kau menggagalkan rencanaku!"

Suara Saigon berubah—bergetar oleh amarah, namun juga oleh luka dalam yang tak bisa dijahit oleh kekuatan mana pun.

Ogan yang baru saja mendarat dan tersungkur di tanah, belum sempat menarik napas, disambar oleh partikel hitam yang membentuk tangan raksasa. Tubuhnya terpental keras, menghantam bongkahan batu. Dada Ogan terhentak. Lengan kanannya nyaris tak bisa digerakkan.

"Kau telah memupus harapanku... CITA-CITAKU! Kau monster, kau lebih kejam dari monster karena merusak kebahagian orang."

Saigon melangkah mendekat. Langkah berat. Tanah bergemuruh di bawah kakinya.

"Saigon, dengar aku! Di balik portal itu... aku melihat iblis. Bukan orang tuamu! Mereka menipumu!" seru Ogan lirih, mencoba menyadarkan.

"Kau berbicara seolah kau bijak. Padahal kau makhluk mitos, produk kerajaan yang sudah hancur!"

"Saigon!"

Langit berubah muram. Saigon mengangkat tangannya. Partikel hitam mengumpul di udara seperti badai yang siap meledak. Layaknya awan pembunuh.

Dia hendak mengakhiri semuanya.

Ogan terpaksa meminjam kekuatan Aguilar untuk menciptakan perisai merah berbentuk payung energi. Sambaran petir hitam menyambar—membelah langit—menabrak perisai tersebut.

CRAAAAK!

Perisai bergetar. Retak. Pecah sebagian.

Ogan melesat, menyerang balik. Ayunan pusaka menabrak kepala Saigon.

DUAAK!

Tubuh Saigon terpental, kepala menghantam tanah, menciptakan jejak luka berbentuk lingkaran di dahi. Namun Saigon berdiri. Gundulnya berasap.

Dia menyeka wajahnya. Buang ludah. Tatapannya seperti binatang terluka.

"Bedebah kau, Ogan..."

Tiba-tiba—

Serangan datang dari kiri!

Lematang menabrak Saigon dengan semburan metana.

Dari kanan, sinar neon Mauli menahan gerakannya.

Dari depan, Ogan menyerang lagi.

Tiga sisi tekanan.

Tubuh Saigon menggeliat. Energinya terkuras. Dia meraung. Tubuhnya mulai menguap partikel energi bangsa Unu, juga dari Walas. Perlahan, tubuhnya menyusut. Energi jahat itu keluar seperti asap terbakar dari dalam tubuhnya.

Beberapa menit kemudian...

Saigon berlutut. Pucat. Wajahnya kehilangan cahaya. Dada naik turun seperti orang sekarat.

"Kenapa... kalian begitu keras kepala...?"

Tiga orang itu berdiri di hadapannya. Diam.

"Apa pun yang kau rencanakan... hanya bisikan iblis belaka," kata Ogan.

"Tak ada kebangkitan dari kematian. Itu semua tipu daya."

"Aku menyayangimu, Saigon. Kau satu-satunya kakak yang kupunya... tidakkah kau lihat? Aku melakukan ini karena aku ingin kau kembali." Lematang bergetar, air matanya menetes.

Saigon memejam mata. Senyum pahit menyungging.

"Tapi kau tak pernah mendukungku."

"Karena aku ingin kau tetap hidup!"

Tak ada yang tahu apakah Saigon menyesal atau tidak. Ia berdiri perlahan seperti lelaki tua. Langkahnya lunglai. Tangan menggantung. Namun, tidak ada yang bergerak menahannya. Mereka hanya menatap. Lematang masih menangis. Saigon berbicara pelan, suaranya serak:

"Seandainya aku tidak memaksamu... aku pasti bisa membawa mereka pulang."

Ia berjalan... menuju sebuah lubang. Di belakangnya, tak disadari oleh siapa pun—Portal misteri terbuka, kecil, samar, tapi aktif.

"Kalian tidak akan pernah paham menjadi orang yang kesepian."

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Bayangkan kalian di posisiku... pasti kalian akan melakukan hal yang sama, bukan...?"

"Tidak, Saigon. Jalan yang benar adalah kembali kepada Tuhan." sahut Mauli.

Saigon berhenti.

"Bangsa manusia... melakukan apa pun demi keinginan mereka. Apa bedanya denganku?"

Lematang mendekat, mengulurkan tangan. "Tolong jangan lakukan itu. Kita bisa membuka lembaran baru. Kita bisa tinggalkan Bit... tinggal di Bima Sakti... bersama."

Saigon menoleh sebentar. Senyumnya lembut. Tapi juga perpisahan.

"Aku belum selesai."

Srek.

Tubuhnya jatuh ke dalam lubang.

Menghilang.

"Kakak!!"

Lematang berteriak. Dia melompat, mencoba meraih tangan Saigon—tapi terlambat. Lubang mengatup. Portal tertutup.

"LEMATANG!"

Ogan menarik tubuhnya. Mata Lematang kosong. Isakannya lirih.

Mauli memeluknya. "Kita akan mencari dia. Kau tidak sendirian."

Ogan hanya diam. Hanya menatap. Seperti tiang tak bernyawa. Angin panas berembus, membawa suara gemuruh gunung dari dimensi lain. Langit menjadi kelam. Petir berkilat di kejauhan.

Tiba-tiba Lematang berdiri.

"Benar. Kau benar, Mauli. Kita bisa menemukannya."

"Kau mencari apa?" tanya Ogan.

Lematang tak menjawab. Tangannya menyibak semak, mencari-cari sesuatu. Lalu matanya tertumbuk pada sebuah benda logam berbentuk segi empat.

"Ini dia... Jama."

Dia memasang benda itu di lengan kirinya. Jari-jarinya menari di atas keyboard kecil yang muncul di layar hologram.

"Pencarian Saigon."

Cahaya muncul. Mesin mengeluarkan suara:

"Pencarian berhasil. Saigon terdeteksi di Semesta Angkara. Portal akan terbuka dalam 10... 9... 8..."

Tiga makhluk itu diam.

5... 4... 3...

Cahaya bulat terbuka. Di dalamnya... pemandangan gunung menyala, lava, dan udara bergemuruh.

SREK!

Lematang masuk terlebih dahulu. Disusul Mauli. Ogan terakhir, ragu, tapi melangkah.

Mereka berdiri di tepi kawah api. Asap dan petir membelah langit.

Secarik kain terbakar perlahan di dekat batu lava. Lematang berlutut, memeluk kain itu. Sehelai pakaian... Saigon?

Mauli menunduk. Matanya berkaca-kaca.

Ogan menatap langit gelap.

Suara petir, suara dentuman gunung, dan... suara... tawa samar terdengar di kejauhan.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang