Chapter 40

9 0 0
                                        


Langit terbelah oleh cahaya dari lubang besar yang menjulang tinggi. Sebuah portal menganga, memancarkan cahaya mengerikan ke semesta. Di depannya berdiri Saigon, tubuhnya dikelilingi aura gelap yang berputar-putar seperti pusaran kematian.

Empat orang mendekat. Mereka datang bukan sebagai musuh, tapi sebagai teman yang ingin menyadarkan. Namun, bagi Saigon... mereka adalah penghalang. Pengkhianat.

Lematang berlari saat matanya langsung menangkap tubuh Idaba yang tergeletak.

Ia berlutut...

Mata Idaba yang masih melotot ke langit.

"Idaba... Bahkan sahabatmu sendiri kau bunuh, Saigon." Suaranya pelan tapi penuh kebencian. Ia menutup mata Idaba, perlahan.

Langkah Saigon menghentak keras seperti langkah iblis yang baru dibebaskan dari neraka. Getarannya sampai ke tulang.

"Dia hanya sampah... seperti kalian. Kalian semua suka mencampuri urusan orang lain." Ucapannya dingin, nadanya menggema di antara kehidupan dan kematian.

"Bukan begitu," sahut Ogan. "Aku tahu rasanya kehilangan. Aku juga pernah kehilangan segalanya. Tapi apa yang kau lakukan ini... bukan membangkitkan orang tuamu. Kau justru memanggil iblis."

"Kau tak paham!" bentak Saigon. "Kau terlalu tua, Ogan! Dunia telah berubah! Kau bersemedi ribuan tahun dan sekarang datang ingin mengajariku tentang hidup?!"

Ogan menunduk sejenak. "Mungkin aku tua... Tapi aku tahu, rasa kehilangan tidak bisa ditebus dengan keputusasaan. Kau sedang diperalat, Saigon."

"Kami semua kehilangan!" potong Mauli. "Tapi kau... kau membiarkan iblis menjelma dari cinta."

Namun hati Saigon telah menjadi batu hitam yang tak bisa dihancurkan. Tak ada ruang bagi logika. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk mengubah takdir. Ia masih ingat mimpi-mimpi itu—terang, nyata, merayunya dengan suara orang tuanya.

"Kami belum mati, Saigon..."

"Kau bisa menyelamatkan kami..."

"Carilah Kardu, dia punya alat lintas semesta..."

"Ambil Walas dari Bima Sakti..."

"Gunakan Trah Sriwijaya ... Buka Portal Unu ... dan bebaskan kami..."

Tiga malam berturut-turut...

Saigon bermimpi hal serupa. Seolah iblis berwajah orang tua itu mengikatnya dalam harapan palsu. Namun bagi Saigon, itu bukan mimpi—itu tanda.

Bersama Lematang, Saigon menyelinap ke kediaman Kardu, si jenius pencipta alat lintas dimensi. Mereka berhasil mengambil alat itu—Jagat Majemuk, perangkat seperti jam tangan dengan keyboard mungil dan layar yang menyimpan kekuatan galaksi.

Kardu memergoki mereka. Tapi Saigon tanpa ragu melepaskan bau maut. Kardu muntah darah. Badannya menggigil seperti diracuni tikus-tikus dari sampah. Tak lama, tergeletak. Tak berdaya.

Kini, di hadapan mereka, Saigon tak lagi ragu.

Ia mengangkat tangan, entah dari mana? Semacam gerbang dimensi lain muncul. Muncul makhluk-makhluk yang mengerikan—Unu.

"Kalian pasti rindu dengan mereka, bukan?" Saigon mengejek, wajahnya setengah gila.

"Kurang ajar!" teriak Mauli.

Mauli mengangkat tangannya ke langit. Sebuah pancaran cahaya neon melesat menghantam lawan.

Lematang dan Ogan melayang ke udara. Lematang membuka tangan. Gas metana menyebar, memicu kematian masal. Ogan melempar tongkatnya—Akuadron menancap ke kepala Unu, meledakkan isi kepalanya.

Medan perang berubah menjadi neraka terbuka. Semesta seolah memberi tanda bahwa mereka di ambang kematian.

Mata Ogan menyala. Tubuhnya dipenuhi cahaya merah dan biru. Ia bergerak secepat kilat, membelah udara, menghantam satu per satu Unu dengan tangan kosong.

Bag!

Bug!

Brakk!

Unu terlempar ke udara, tubuh mereka mencelat seperti boneka rusak. Ogan menjadi dewa perang, menggila bersama Akuadron dan Aguilar yang menyambar dari langit.

Kerinci... Mencabut sepasang pedang pemberian Lematang. Menahan pukulan dan membalas dengan tebasan melintang.

Satu Unu terbelah dua, tubuhnya jatuh seperti agar-agar. Darah menyemprot ke wajah Kerinci. Ia hanya mengedip lalu tersenyum.

"Pedang ini... tajam sekali, Lematang."

"Benar... mudah juga buat motong belut," sahut Lematang dengan nada dingin.

Kerinci pura-pura tak dengar. Ia terus menebas, berputar, menghindar. Dalam satu kesempatan, ia sempat terlempar menghantam batu besar. Ia bangkit dengan susah payah hingga...

Crasss!

Satu cakar Unu melayang ke wajahnya. "Iuw... lebih bagus ceker ayam," gerutunya, mual sambil berdiri.

Namun di matanya—ada kekaguman. Ia melihat Lematang bertarung seperti cahaya di tengah gelap. Gesit, tajam, mematikan.

"Kau gesit juga, Sayang..."

Alih-alih seekor Unu hampir menggigitnya, bruntung ia membalik badan, menusukkan pisau ke leher. Unu itu melolong kemudian lari sempoyongan.

Di atas langit. Ogan bersinar.

Ia mengendalikan dua entitas: Akuadron dan Aguilar. Mereka menjelma menjadi kekuatan langit—membasmi dengan kecepatan dan presisi seperti kilatan petir dari langit.

Portal Kematian terus terbuka. Di balik cahaya itu, sesuatu mulai bangkit. Lebih besar... lebih gelap... lebih haus jiwa.

Dan di sanalah Saigon berdiri, tersenyum. Matanya menyala, bukan karena kemenangan—tapi karena obsesi yang telah menelan akal sehatnya.

"Kalian belum lihat apa-apa..."

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang