Chapter 2

21 1 0
                                        

Di bagian belakang toko, Ogan berada di ruang produksi. Senyap hanya terdengar suara alat pemotong mesin yang "sreeet!" ketika membelah bongkahan batu hitam. Di meja kerja, berbagai jenis batu tersusun rapi: tak hanya lokal, tetapi juga batu dari India, Jepang, dan China. Koleksi yang semakin beragam, semakin terbuka peluang cuan bagi Ogan.

Dengan mata setengah terpejam, meriksa sketsa di hadapannya—acuan bentuk lempengan batu yang tergolong rumit. Dengan sabar ia mengetahinya, menyulap bongkahan besar menjadi lempeng yang halus. Untuk ukiran detil, kacamata pembesar menjadi teman setia agar setiap garis terlihat jelas.

Beberapa jam kemudian, Sangkut menyusup masuk. Bahkan tidak ada rasa segan, seolah datang ke tongkrongan, bukan menghadiri atasan. Ogan memang meminta agar Sangkut tak terlalu formal—bagi Ogan, bukan sekadar karyawan, melainkan sahabat.

Mulut Sangkut berbisik, "Bos, ada 'Bos Cantik'!"

"Suruh saja masuk! Biasanya langsung ke sini," jawab Ogan sambil membereskan peralatan.

Tak berapa lama, Mauli muncul—memukau dengan gaun hitam dan riasan ala Korea. Sebuah kejutan manis yang membuat Ogan tersipu.

"Hai, prajurit!" sapa Mauli penuh kasih.

"Hai," balas Ogan, hatinya seketika meleleh. Ia meletakkan sarung tangan, mengambil Mauli dalam pelukan hangat.

"Kau bawa apa?" tanyanya.

"Nasi goreng," jawab Mauli sambil membawa kotak hijau. "Buat makan siangmu sebelum kita pergi bersama."

Ogan membuka kotak, mengambil sendok, lalu mencicipi. "Hmm... enak. Kau memasak sendiri?"

"Tentu saja, mana pernah aku beli makanan." Mauli tersenyum bangga.

Matanya beralih pada karya Ogan di meja: semakin mirip piramida, dengan patung Budha kecil berdiri bak penjaga sejarah.

"Jangan-jangan ini Borobudur?" tanya Mauli.

"Benar, masih perlu proses panjang agar sempurna," jawab Ogan, mulutnya masih penuh nasi.

Biasanya Mauli hanya melihat bongkahan batu atau deretan cincin, namun kali ini terbius keindahan karya besar. Ia mencuri pandang, lalu meletakkan tangan lembut di bahu Ogan—aduh senyum femininnya membuat ruangan seketika hangat.

"Kau pandai sekali. Pantas tokomu cepat dikenal," pujinya lirih.

"Semua berkatmu. Tanpamu, tak ada semua ini. Setuju?"

"Benar juga," sahut Mauli sambil menyentuh bibir Ogan dengan lembut seperti embun pagi. Lantas duduk di atas meja di samping karya Borobudur itu. Dia mengayun kaki santai sambil memandang sekitar.

"Singkarak sekarang buka praktik di samping Pengadilan Agama Lamus," ucapnya tiba-tiba.

"Sejak kapan?" tanya Ogan ragu.

"Dua bulan lalu," jawab Mauli.

"Kita ke sana nanti, ya?"

"Pasti!"

Tak lama kemudian, Sangkut datang tanpa permisi, langsung nyelonong.

"Hei, kurang ajar! Bos sedang mesra, kau malah mengganggu," tegur Mauli sambil tersenyum.

"Maaf Bos, saya profesional kok. Tetap kerja tanpa ragu meskipun Bos lagi mesra," jawab Sangkut sok keren sambil membawa dua patung Budha.

"Kok tinggal dua? Yang lain mana?" tanya Mauli penasaran.

"Yang lain sudah dibeli walikota minggu lalu, satu sudah dipajang di kantor," jelas Sangkut.

"Dasar, karyawanmu unik. Kelakuannya bikin betah," ujar Mauli saat Sangkut berjalan keluar.

Ogan menaruh kotak nasi kosong, mengambil botol minuman setengah isi, dan menghirup segarnya.

"Hehehe..." Mauli menertawakan celotehan Ogan.

"Kau juga aneh, ya?"

"Aneh apanya? Bisa-bisanya kau bicara kayak orang aki‑aki penjual akik," balas Mauli sambil tersenyum tertahan.

"Ups!" Pupus sudah keseriusan Mauli—ketawa kecilnya terdengar merdu.

Ogan merapatkan tubuh di sampingnya. "Ciye!" goda Mauli. Suasana mendadak penuh kehangatan.

Tiba-tiba...

Dari luar: "Brak!" —suara itu hanya sekali, tapi cukup membuat keduanya terkejut. Matanya bertemu seiring tubuh menegang. Dengan langkah pelan, mereka turun dan mendekati pintu. Ada cahaya samar yang menanti untuk diungkap.

Apa gerangan yang terjadi di luar? Siapa atau apa yang membuat suara itu? Toko itu, kini menjadi panggung bagi kisah baru—antara percintaan, keramahan, dan misteri tersembunyi.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang