Kerinci mencoba menggenggam tangan wanita itu, namun tanpa diduga, Lematang merentangkan tangan. Kerinci ternganga. Seketika tubuh Lematang terangkat dari tanah, melayang seperti dibawa angin langit. Bahkan sebuah energi gaib meraih tubuh Kerinci ke dalam pusaran udara yang membawanya ikut terbang.
"Lihat!" seru Mauli, menunjuk ke atas. "Aku ingin seperti mereka!" Ia menatap Ogan penuh harap.
Prajurit itu mengangkat tongkatnya kemudian meraih tubuh Mauli dengan tangan kirinya. Dalam hitungan detik, keduanya ikut terangkat ke langit, melesat menembus awan, jauh melampaui kecepatan Lematang dan Kerinci.
"Bisakah kita menyusul mereka?" tanya Kerinci cemas.
Lematang hanya tersenyum kecut. "Maaf, aku tidak secepat itu."
Mereka melaju di antara langit dan bumi, bersama awan putih, ditemani bisik angin dan sorot mentari. Di jauh telah terlihat cahaya besar menjulang ke langit.
"Itu dia," kata Ogan lantang. "Portalnya telah dibuka!"
Begitu mereka mendarat, dua pasang mata menatap takjum.
Angin berhembus liar di sekitar mereka. Disusul Lematang dan Kerinci yang mendarat.
"Ya ampun..." desis Kerinci, matanya membelalak. "Makhluk apa itu, Lematang?"
"Unu. Makhluk langka berkulit sekeras tempurung," jawab Lematang lirih.
Di hadapan mereka.
Muncul sekumpulan makhluk berkaki empat. Kepalanya mirip kura-kura, namun dengan cakar tajam dan gerakan mengerikan. Makhluk-makhluk itu tampak seperti persilangan antara hewan purba dan monster dari dimensi lain.
Salah satu dari mereka melesat ke arah Ogan. Dengan sigap, Akuadron terayun lantas menghantam makhluk itu hingga terpental.
Tetapi itu belum cukup.
Unu itu bangkit dan menyerang lagi.
Kali ini, Ogan melesat. Dengan satu ayunan telak, tongkatnya mengenai bagian leher bawah makhluk itu. Unu tersebut terangkat ke udara sebelum jatuh terhempas ke tanah.
Bug! Tubuhnya tak bernyawa.
Alih-alih Kerinci sembunyi di balik Lematang. "Aku tak punya senjata untuk melawan mereka," desisnya.
Sementara itu... Saigon berdiri kokoh di depan portal. Tubuhnya perlahan membesar lantaran menyerap energi dari dimensi gelap. Dari balik portal, muncul makhluk-makhluk buas lain, menyerupai macan, matanya menyala.
Tiba-tiba.
Seekor unu menyerang. Mauli spontan mengarahkan tangannya, dan anehnya... Sebuah keajaiban muncul Entah tehnik dari mana sehingga tanpa sengaja keluar sinar mematikan.
Unu itu sempat bergetar lalu terkapar lemas.
"Aku... bisa menyerang dengan ini," bisik Mauli, kaget.
Ogan mendekat. "Kau mengendalikan kitab itu?" tanyanya kagum.
Mauli mengangguk, wajahnya bingung tapi yakin. "Entahlah... Mungkin Walas telah memberiku kekuatan."
Kerinci panik. "Tapi aku? Tidak punya kekuatan. Tidak punya senjata. Tidak ada yang bisa aku lakukan."
Ogan menatapnya lekat-lekat. "Kau menghancurkan raksasa berbadan besi tanpa kekuatan apa pun. Jangan remehkan dirimu hanya karena ketakutan."
Kerinci terdiam.
Ingatannya melayang pada pertempuran tempo dulu. Mungkin terlalu lama hidup di dunia arkeologi hingga lupa bahwa dirinya pernah menjadi pahlawan.
"Apa aku lupa bahwa aku adalah pahlawan. Melawan pasukan besi anti mati pun aku bisa... kenapa tidak?"
"Iya, aku tidak takut!"
Ogan, Mauli, Lematang, dan Kerinci berdiri saling membelakangi. Siap menyongsong serangan makhluk-makhluk yang perusak kota. Kota itu kini jadi ladang kehancuran: mobil terbalik, gerobak cilok terjungkal, tenda es doger hancur, bahkan puluhan orang di taman ketakutan.
Unu-unu menyerbu seperti badai tanpa kendali. Polisi berusaha melawan, namun peluru hanya memantul begitu saja. Lima aparat jadi korban—diterjang, dicabik, dilempar seperti boneka.
Hal tak terduga terjadi... di kala tiga orang rekannya mulai sibuk bertempur dengan kekuatan masing-masih, juastru Kerinci putar badan.
Napas tersengal disertai tubuh menggigil. Ia berlindung di balik mobil untuk mencuri tempat di antara kegelapan.
"Aku harus... mencari cara untuk mengalahkan makhluk itu," gumamnya lirih.
Namun pikirannya masih kacau.
Entah sedang merenung, mencari strategi, atau sekadar berharap bisa tetap hidup untuk satu hari lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
