Senja belum benar-benar tenggelam, tetapi langit sudah gelap oleh awan ancaman. Di tengah kehancuran, Kerinci, Singkarak, Lematang, Sangkut, dan Jira berkumpul dalam diam. Mereka berdiri dalam lingkaran cemas, menanti kehadiran dua sosok yang kini dianggap harapan terakhir.
Tak lama, Ogan datang. Wajahnya kusut, tubuhnya berdebu. Akuadron terlepas begitu saja dari tangannya—melayang pelan, diam di antara Dogi dan Jalu. Seolah tahu dirinya sedang tak ingin bicara, benda itu tidak berpendar sedikit pun.
"Ke mana Mauli?" tanya Ogan datar, napasnya masih berat.
Kerinci menjawab singkat, "Dia sedang mengambil Walas."
Tak ada suara setelah itu. Hanya detak waktu yang mengalun seperti genderang kematian. Ogan menunduk, memandangi tanah, seolah mencari jawaban di antara retakan aspal.
"Bangsa Unu semakin banyak," gumamnya pelan. "Sebenarnya... dari mana asal mereka?"
"Aku tidak yakin," Lematang menjawab. "Tapi aku pernah membaca... mereka berasal dari Semesta Angkara—tempat di mana kebaikan telah lama mati. Dipimpin oleh makhluk yang bahkan tak disebut namanya. Karena siapa pun yang menyebutnya... tak akan hidup lama."
"Lalu kenapa Saigon membuka portal di sini?" tanya Ogan lagi, kali ini lebih tajam.
"Karena dia harus menemukan Trah Sriwijaya. Dan hanya Mauli yang bisa membuka Walas. Di semesta ini... hanya dia satu-satunya kunci." Lematang menatapnya dengan sorot muram. "Tapi dia juga bisa membuka di Semesta Bit."
"Setelah Saigon mengisi kekuatan dari Angkara, dia pasti kembali ke Bit..."
"Untuk apa?" Singkarak menyela, penasaran sekaligus takut pada jawabannya.
"Untuk membangkitkan... kedua orang tuaku." Suara Lematang berubah lirih, seperti luka yang menganga kembali terbuka. "Mereka dikuburkan di sana... dan Saigon tahu itu."
Langkah pelan terdengar. Mauli datang seraya menggenggam Walas erat dalam pelukannya. Semua mata tertuju padanya.
"Maaf... aku hanya ingin mengamankannya." Mauli bergabung dalam lingkaran, wajahnya pucat dengan tekat yang kuat.
"Begini," Lematang menjelaskan, "Saigon butuh kekuatan Walas untuk membuka portal bagi bangsa Unu. Tapi... tubuhnya tidak akan mampu menahan proses itu tanpa bantuan Mauli. Itulah mengapa Mauli sangat penting. Jika dia berhasil... portal kematian akan terbuka."
Mauli mengangkat wajah, matanya menatap tajam. "Bagaimana kalian bisa berpindah antar semesta dengan mudah? Bukankah itu mustahil?"
"Kami mencuri alat buatan Evolus. Ciptaan ras canggih. Benda itu bentuknya seperti jam tangan... dibawa oleh kakakku."
"Sedikit rumit," gumam Kerinci.
"Tapi yang jelas, selama energi Saigon belum habis, para Unu tak akan berhenti. Mereka akan terus berkembang... dan kita semua akan jadi korban."
"Jadi... kita harus ke semestamu?" tanya Singkarak ragu.
"Benar. Tapi... Saigon satu-satunya jalan ke sana. Dan dia membawa ancaman." Suara Ogan mulai melemah. Harapan mulai sirna seperti nyala api yang kehabisan udara.
"Apa gunanya kita di sini," desis Mauli, "jika makhluk-makhluk itu bebas berkeliaran di luar sana?"
"Kita harus pikirkan keluar dari bencana ini."
Sementara itu, di Hutan Akasia...
Pasukan tentara dan polisi telah berkumpul. Mata mereka menatap gelisah pada dua Unu yang berkeliaran seperti iblis di antara pepohonan.
Satu orang memikul senjata RPG. Napasnya tertahan.
"Tembak!"
Buum!
Roket itu melesat dan menghantam satu Unu.
Ledakan mengguncang tanah. Asap membubung. Tapi...
Makhluk itu hanya batuk-batuk.
Darah hijau menetes dari tubuhnya meski tetap berdiri. Bergerak dan haus kehancuran.
Tembakan meletus serentak. Ribuan pelor menghujani tubuh makhluk itu. Tapi gerakannya tak terhenti. Dia menerjang. Dengan cakar tajam dan kelincahan mematikan, pasukan mulai rontok satu per satu.
Jeritan. Teriakan. Tubuh-tubuh jatuh bersimbah darah.
Kekacauan pecah.
Mereka mengerahkan satu teng. Bidikan pertama membuat Unu terpelanting. Bidikan kedua, lebih tepat sasaran—membuat satu Unu mati dengan leher patah.
Namun masih ada satu lagi. Terluka serta belum kalah.
Makhluk itu berlari—cepat, liar, penuh dendam. Menerkam ke arah kendaraan lapis baja itu.
Naas, saat teng menembakkan peluru lagi, Unu itu sedang membuka mulutnya lebar-lebar—seperti ingin menelan dunia.
Duar!
Peluru masuk langsung ke perutnya.
Bum!
Tubuhnya hancur dari dalam. Usus, darah, dan serpihan keras beterbangan seperti hujan mimpi buruk.
Kemenangan. Sorak-sorai membahana. Foto-foto selfie bersama bangkai Unu memenuhi layar ponsel. Mereka merasa menang. Mereka merasa aman.
Tapi mereka tak tahu...
Itu baru permulaan.
Di balik senyapnya tanah, ribuan telur Unu tersembunyi. Mereka berkembang cepat, lahir dari induk yang baru saja kenyang.
Satu Unu bisa melahirkan 15—bahkan 30 ekor—dalam waktu kurang dari lima menit.
Makhluk ini bukan sekadar pemangsa.
Mereka adalah wabah.
Dan saat mereka merasa kenyang...
Mereka berkembang.
Negeri ini belum menyadari... bahwa petaka yang sebenarnya baru saja dimulai.
Bisakah Ogan dan tim menghentikan Saigon sebelum portal kematian terbuka? Ataukah Lamus hanya awal dari kehancuran semesta?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
