Suasana sunyi.
Hanya suara dedaunan kering yang berdesir dibawa angin. Kerinci terbangun perlahan, tubuhnya penuh luka lebam dan debu yang menempel dari ujung kepala hingga tumit. Sekelompok semut tengah mencoba menggotong lengannya—seolah menyangka pria itu bangkai. Ia mengibaskan tangan lemah, tersadar dari pingsan panjang. Napasnya berat, matanya nanar menatap langit yang kelam.
"Ke mana mereka semua?" desisnya lirih. Hampa.
Kerinci bangkit terseok-seok, tubuhnya ringkih, tetapi tekadnya masih utuh. Ia mencari pedangnya. Area sekeliling seperti habis diluluhlantakkan perang besar. Debu, batu retak, darah kering. Aroma bau anyir dan tanah basah bercampur jadi satu. Tak ada satupun jejak sahabatnya. Hanya dirinya—dan... seekor harimau.
Harimau itu muncul di balik reruntuhan, matanya tajam, napasnya berat. Dua taring putih menonjol keluar, melengkung seperti pedang.
"Kau hendak apa?"
Kerinci mengangkat pedang. Kakinya sedikit gemetar. Ia belum pulih, tapi jika harus bertarung... lebih baik lari.
Namun harimau itu hanya mengendus. Ia mendekati bangkai Unu dan mulai melahapnya rakus. Kerinci tercekat. Baru sadar bahwa itu bukan musuh, melainkan korban selamat dari alam buas. Ia menyaksikan makhluk itu makan dengan lahap, mencabik daging dan tulang.
"Manusia bukan makananmu, Kawan," bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Selesai makan, harimau menatap Kerinci sejenak. Ada sesuatu di tatapannya—mungkin rasa hormat, mungkin salam. Ia mengaum pelan, kemudian berjalan menjauh, perutnya buncit, langkahnya lamban. Meninggalkan Kerinci dalam kebingungan yang semakin menjadi-jadi.
Ia duduk di atas batu datar, dagunya bertumpu di tangan. Saat itulah mendengar isakan pelan.
Tangisan.
Tangisan perempuan.
Kerinci menoleh cepat. Tidak ada siapa pun. Tetapi suara itu nyata, lembut, meresap. Lalu, tiga sosok muncul. Lematang. Ogan. Mauli.
"Lematang!" teriak Kerinci, bangkit dan memeluknya erat. Tapi wanita itu tidak membalas pelukan. Ia menggenggam selembar kain dengan erat, wajahnya basah oleh air mata.
"Ada apa?" tanya Kerinci, suara gemetar.
"Saigon... telah pergi." Jawaban Ogan bagai guntur di tengah keheningan.
Kerinci tak bertanya lebih lanjut. Dia paham. Duka Lematang bukan sekadar kehilangan. Itu adalah kehancuran atas harapan yang belum sempat terpenuhi.
Namun keheningan itu pecah oleh...
"Ehem, a-anu..."
Ogan mendadak gugup. Wajahnya berubah kaku.
"Apa?" tanya Mauli curiga.
"Itu... anu, Lematang..."
"Apa?" ulang Lematang tak mengerti.
"Dadamu... terbuka."
Sekejap semua membeku. Lematang menjerit kecil, menutup bagian bajunya yang robek. Mauli—dengan kecepatan kilat—mencubit lengan Ogan.
"Jeli sekali kau ini!" sembur Mauli.
"A-aw, harusnya kau lihat duluan..." elak Ogan.
"Tetap saja. Mesum!"
Momen itu sekilas konyol, tapi tak cukup menutup luka besar yang menganga di hati mereka semua. Perang telah usai, namun meninggalkan jejak luka yang tak terlihat. Tak ada lagi bangsa Unu. Tak ada lagi Portal Kematian. Tapi... bayangan tentang Saigon masih membayangi mereka seperti awan gelap di langit Bima Sakti.
Wadari membuka portal. Namun setelah masuk, Mauli maju, menatap tajam sang bidadari.
"Apa benar... Ogan pernah mencoba menidurimu?"
Pertanyaan itu tajam seperti belati. Wadari terdiam sesaat... lalu tertawa geli.
"Hanya bercanda. Tenang saja." Ia menutup portal dan menghilang.
Ogan menelan ludah. Mauli menatapnya tajam.
"Apa?" tanya Ogan gugup.
"Tidak."
Ogan mengikutinya dari belakang seperti anak sekolah ketahuan bolos.
Kerinci dan Lematang...
Mereka duduk berdampingan, di antara reruntuhan dan hawa duka. Lematang bersandar pada bahu sang kekasih.
"Kita sama-sama kehilangan keluarga," lirih Lematang. "Singkarak adalah orang baik. Saigon juga... hanya tersesat."
Kerinci membelai rambutnya. Pelukan itu terasa hangat. Damai. Tapi...
"Ya ampun!" Kerinci melepaskan pelukan seperti tersentak.
"Ada apa?" Lematang kaget.
"Dogi dan Jalu masih hidup."
Lematang menatap tajam. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku Kerinci. Aku bisa melihat detak kehidupan. Mereka masih bernapas."
***
Tempat yang sunyi. Di sana, dua binatang kesayangan Singkarak berada dalam kandang. Aman. Ceria. Dogi menggonggong pelan, Jalu keluarkan suara khas.
Air mata Lematang mengalir lagi, kini penuh keharuan.
Dalam kandang, mereka menemukan sepucuk surat. Kerinci membacanya dengan suara pelan, namun jelas.
"Jika ada yang menemukan hewan ini, tolong rawatlah mereka dengan suka hati. Dogi suka sekali makan ayam goreng, Jalu pun sama. Tapi jika kalian adalah kerabatku, berikan saja mereka pada Ogan."
Lematang memiringkan kepala. "Kenapa harus Ogan?"
Kerinci menyeringai. "Karena aku kurang telaten. Singkarak tahu itu."
Namun, langit berubah. Awan mendadak pekat. Tanah sedikit bergetar. Cahaya putih muncul sekejap... lalu hilang. Justru Lematang menangkap sesuatu dalam sekelebat. Sebuah bayangan. Seperti... Saigon.
"Kerinci," bisiknya. "Kau merasakannya?"
"Ya..." Kerinci berdiri. Matanya tajam.
Sesuatu belum selesai.
Sesuatu... akan kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
