Mauli berjalan tergesa-gesa. Langkahnya cepat, napasnya teratur meski dalam dada, bara amarah masih menyala. Puluhan orang menyapanya ramah, tetapi tidak satu pun dibalas selain dengan seulas senyum kecut.
Ia sedang kesal. Sangat kesal.
Manusia itu—yang dikenal seorang Penyelamat Lamus—kini lebih terkenal daripada dirinya. Ogan, lelaki itu, dan tentu saja dia, adalah pendekar yang bertarung melawan Profesor Garung. Mereka tidak mengenakan topeng dan todak menyembunyikan jati diri. Wajah-wajah mereka terekam dalam ingatan warga Lamus, tercetak dalam benak sebagai para penyelamat kota.
Ogan bahkan menjadikan ketenaran itu sebagai batu loncatan untuk bisnisnya. Namun, lebih dari itu, dia dicintai—karena dirinya adalah perisai. Dan saat ancaman baru datang, bangsa Unu yang buas mulai mengusik ketenangan, Ogan kembali turun tangan.
Namun satu hal yang menarik: Ogan betah di Lamus. Lelaki itu sudah tinggal di Bumi selama ribuan tahun, menyaksikan zaman demi zaman berganti. Tetapi yang mengikatnya kini bukan sekadar tugas... melainkan keberadaan Mauli.
Pintu toko terbuka.
"Bu Bos!" seru Jira terkejut melihat sosok yang muncul dengan wajah masam.
Sangkut yang sedang membersihkan etalase ikut menoleh, alisnya langsung berkerut. Untung toko sedang sepi. Mauli duduk tanpa berkata-kata lalu tanpa permisi menarik camilan dari tangan Jira.
Kretuk-kretuk!
Suara keripik jengkol dikunyah beringas. Sangkut mendekat sambil mengelus leher, menyaksikan Mauli mengunyah seperti orang yang tak makan selama seminggu. Satu per satu makanan di meja raib dalam sekejap.
"Mana lagi?" desak Mauli, matanya merah seperti habis menangis, tetapi bukan air mata yang membuatnya begitu—melainkan sambal pedas yang menempel di ujung jari.
Jira, dengan sigap, mengeluarkan isi tasnya. Ada keripik lain, cokelat, dan stik kentang. Mauli menyikat semuanya.
"Pak Bos ke mana, Bu?" tanya Jira, membuka pembicaraan dengan hati-hati.
"Mungkin lagi dugem dengan perempuan lain," gumam Mauli, mulutnya masih penuh, suaranya samar seperti suara monyet kelaparan.
"Aduh, kepalaran..." celetuk Sangkut.
"Bukan. Kelarapan," bantah Jira.
"Hush!"
"Maksudku... kelaparan," ucap Sangkut lirih sambil menutup mulut. Jira melotot.
"Minum!" bentak Mauli tiba-tiba.
Jira mencubit lengan Sangkut, memberi isyarat. Lelaki itu pun bergegas ke belakang dan kembali dengan sebotol air mineral. Mereka hanya bisa jadi saksi, menyaksikan transformasi Mauli dari perempuan tenang menjadi 'monster' pemakan segalanya.
Jira menarik Sangkut menjauh. Mereka berbisik di balik rak.
"Ada apa dengan Bu Bos?"
"Mana aku tahu. Sesama perempuan, kau harusnya lebih tahu."
"Kalau aku tahu, aku tidak bertanya!" sahut Jira tajam.
Tiba-tiba...
Suara gaduh. Sekelompok orang menyerbu toko. Mauli memuntahkan makanan di mulutnya karena terkejut. Dia batuk-batuk, buru-buru menenggak air. Jira langsung maju ke depan, refleks menyambut tamu.
"Selamat datang di toko kami..." suaranya terdengar ramah.
Namun tak ada yang menggubris. Wajah-wajah pucat, peluh bercucuran, napas terengah seakan baru saja melarikan diri dari maut.
Ruangan mendadak padat.
Jira mencoba lagi, "Ada yang bisa kami bantu?"
Tak ada jawaban. Ketakutan mereka begitu nyata hingga merambat ke ubun-ubun. Mauli menyentuh lengan Jira, firasatnya tak enak.
Sangkut dengan polos menyapa seorang nenek, "Nenek mau beli apa?"
Nenek itu membentak, "Aku tak ingin beli apa-apa! Aku hanya ingin berlindung dari binatang buas di luar sana!"
Sangkut bungkam. Hening.
"Monster?" bisik Mauli, bulu kuduknya meremang.
Jira langsung memeluknya erat. "Ada apa, Bu Bos?"
"Unu. Binatang berkulit sekeras baja, cakar setajam pedang, dan gigi seperti silet," jawab Mauli dengan suara berat.
"Busyet... aku belum nikah. Tuhan, kasih aku waktu lebih lama," rengek Sangkut.
"Masuk semua!" seru Mauli.
Ia membuka pintu, mengisyaratkan warga untuk masuk. Dari kejauhan—sekitar 200 meter—seekor unu raksasa mengamuk. Tubuhnya hitam legam, mata bersinar, mengobrak-abrik jalanan.
"Ya Tuhan..." Mauli menutup mulutnya. Napas tercekat.
Sangkut berdiri di belakangnya. Saat melihat makhluk itu...
Blek!
Lelaki itu jatuh pingsan.
Mauli dan Jira saling pandang, kalut. Dengan susah payah, mereka seret tubuh Sangkut ke dalam. Sekelompok orang itu hanya terpaku ketika dua gadis mandi keringat karena menyeret seorang laki-laki lemah. Meletakkan tubuh Sangkut seperti meletakkan kantong semen. Jira menutup pintu rapat-rapat. Karena pintu terbuat dari kaca, Mauli langsung memberi isyarat. Jira berlari ke belakang, membawa buntalan kain biru dan memasangnya sebagai tirai.
Baru hampir selesai, gerakannya terhenti.
Matanya terpaku pada sesuatu di luar.
Mauli menyusul. Matanya membulat saat melihat apa yang dilihat Jira.
"O o..."
Sosok makhluk hitam berdiri di luar.
Tatapannya menembus kaca, tajam dan kelaparan.
Suara geraman keluar dari mulutnya—parau, serak seperti lolongan anjing yang murka.
Namun tak ada keraguan di sorot mata itu.
Ia siap menerkam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
