Chapter 38

7 0 0
                                        


Bram menyeka keringat yang mengalir di pelipis. Dari balik reruntuhan, ia muncul perlahan, menatap medan yang telah luluh lantak diserang pasukan besi berkekuatan sihir. Bangsa Unu—makhluk yang nyaris menguasai Lamus—akhirnya terpukul mundur.

Dengan napas lega, Bram menyadari satu hal: keajaiban telah terjadi. Ia menyaksikan sendiri sekutu yang tak disangka—makhluk yang dulu mengerikan, kini berpihak pada kebenaran.

Mata mereka terpaku pada sosok yang mendarat perlahan dari langit. Seorang wanita, berambut panjang berkilau, panjang sekali nan lebat, mengenakan selendang hitam yang melayang anggun. Dia melangkah menuju Bram.

"Bidadari turun dari langit... Siapa namamu, Nona?" tanya Bram terpesona.

Namun sang wanita tak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan. Selendang itu meluncur cepat, membelit leher seekor Unu yang mengendap dari belakang. Sekejap, tubuh makhluk itu terguncang—lehernya terputus. Kepalanya melayang dan mendarat di depan Bram.

"Busheettttt!"

Bram menahan mual. Lidah makhluk itu terjulur, darah menetes, dan aroma anyir menusuk hidung. "Menjijikkan... makhluk macam apa dia?" gumamnya, menutup mulut.

"Nawang Ayu."

Diam. Semua hanya mampu menatap. Wanita itu... bukan manusia biasa. Sekali libas, selendangnya bisa memutus tubuh makhluk sekuat Unu. Cantik, sekaligus mematikan.

"Kalau dia manusia, sudah lama aku pacari."

"Dia lebih dari manusia... dia seperti bidadari," Bram ikut bergumam.

"Kalau dia mau, aku bersedia jadi suaminya!" timpal polisi lainnya.

Bram melirik sinis. "Huh, dia tidak akan mau denganmu. Muka pas-pasan, dekil, pelit, bau, hidup pula."

"Tapi dia pahlawan..."

Alih-alih...

TENG! seperti logam membentur batu.

Keributan lain muncul. Seekor Unu menabrak Bodem. Tubuh baja itu bergeming kemudian membalas dengan kepalan tangan hingga berakhir kemenangan.

Hal ajaib terjadi... tiga bersaudara itu masih selamat.

"Itu dia... pemimpin pasukan itu," ujar Sangkut sambil menunjuk langit.

"Bidadari? Malaikat? Atau... iblis?" Karot mengerutkan kening, masih tak percaya.

Bodem itu menghajar Unu. Kepalanya diremas selanjutnya dibanting. Dua kakinya menghentak seperti gunung meletus. Tapi dari balik pepohonan, empat ekor Unu lainnya menyerbu. Satu naik ke punggung, dua menggigit lengan, satu mencoba menggigit kaki.

DUAK!

Satu Unu terlempar, tapi Bodem itu tertekan. Lengannya terlepas... dan satu Unu langsung melompat, memenggal kepala Bodem lainnya.

PLUK!

Badem jatuh. Kini...

Muncullah satu Unu yang berbeda. Tubuhnya lebih besar, wajahnya garang, dan di kepala terdapat semacam jengger—seperti mahkota raja.

Puluhan Bodem telah bergelimpangan. Wadari—melayang, menatap makhluk itu. Selendangnya kembali bergerak, membelit leher Unu. Namun, berkali-kali dibanting, makhluk itu tetap berdiri. Bahkan mulai menyemburkan zat asam.

Wadari menghindar. "Makhluk ini... bisa menyemburkan zat berbahaya!" gumamnya.

Selendang itu kini memanjang, mengikat seluruh tubuh Unu. Semakin lama, ikatan makin erat, makin kuat. Makhluk itu meraung, semburan membumbung ke langit. Tapi Wadari tak gentar. Selendangnya menjerat leher, menekan... makin keras... sampai akhirnya—

KRUK!

Leher Unu remuk. Kepalanya terlepas dan meluncur seperti bola ke arah Karot dan Sangkut.

"Ya ampun, baunya kayak babi guling!" seru Pengot yang tiba-tiba siuman.

"Gulai kepala kambing!" sambut Karot sambil menutup hidung.

Sangkut melotot. "Kalian ini... Itu aroma bangkai, bukan makanan! Besok kalian harus periksa hidung!"

Namun ada yang aneh terjadi pada Pengot.

Seperti anak kecil yang baru saja menyaksikan film perang favorit. "Wuahahaha!" teriaknya saat sejumlah Bodem lain menghajar Unu hingga hancur.

Bangkai Unu dilempar.

"Awas!" teriak Sangkut.

Tiga orang itu melarikan diri dari maut. Lari pontang-panting.

BUG!

Karot terjatuh. Darah menetes dari bibir, tapi hanya goresan. Pengot memaki, "Robot sialan! Tidak lihat ada orang!"

Bodem yang sempat hancur, kini bangkit. Bagian-bagiannya yang terlepas bersatu kembali. Hidup lagi. Perang pun berlanjut.

Namun di seberang, dari hutan lebat, para Unu terus bermunculan. Seolah tak pernah habis.

Wadari mulai menyadari sesuatu. Ada keganjilan. Maka, dia mengeluarkan senjata rahasia—yang hanya ia miliki. Kedua tangannya terbuka, dan dari situ muncullah butiran kecil berkilau kekuningan.

Mode Mengerikan.

Bukan logam. Bukan peluru. Tetapi sinar merah yang meledak cepat, lebih tajam dari peluru, lebih mematikan dari timah panas.

TRRRRRRR!

Mata-mata mereka buta. Kulit mereka koyak. Puluhan jatuh berserakan, seketika rata dengan tanah.

Dan... dia... Menggunakan kekuatan mustika terkuat di Bumi. Cahaya merah terpancar dari titik yang terletak antara kedua alis. Kedua mata berubah kuning, tajam seperti mata harimau yang lapar.

"Komandan... Wanita itu... membunuh ratusan Unu dengan... sinar merah!" seru polisi itu tercengang.

"Bidadari... Makhluk Kahyangan... Makhluk abadi..." Bram bergumam.

"Apakah dia benar-benar bidadari?"

"Entahlah... tapi dia bukan manusia," ujar Bram.

Wadari melayang di udara, seolah menyambut perang...

Selendangnya berputar-putar, cahaya merah mendominasi, mata tajam—menatap barisan musuh yang tak habis-habis. Kengerian, dari kedalaman hutan, suara-suara liar kembali menggema. Dentuman kaki para Unu mengguncang bumi...

Perang belum selesai.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang