Belum lama Ogan meratapi takdir yang memeluk luka, Akuadron mendadak berputar-putar di udara lalu melesat.
Entah ke mana?
Yang jelas lagak burung baja yang kehilangan arah pulang.
"Ke mana kau, Akuadron?"
Sejak kemunculan Mauli, Akuadron memang lebih condong pada sang pujaan hati dibanding pemilik aslinya. Sejarah mencatatnya bahwa Akuadron pernah memilih menyelamatkan Mauli bahkan saat Ogan sedang terkurung.
Tidak ada pilihan lain.
Ogan melesat, tubuhnya memantul dari satu atap ke atap lain seperti bayangan yang menolak tunduk pada gravitasi. Di angkasa cerah yang membentang, Akuadron meluncur seperti pesawat tak berawak menjauh ke luar kota. Langkah-langkah Ogan semakin cepat.
Melintasi kebun sawit.
Melewati kebun karet.
Melintasi ladang padi.
Membuat para petani melongo.
Seorang lelaki bertubuh gempal sedang menikmati mi campur nasi di atas daun pisang sampai tersedak dan menumpahkan makanannya. "Itu orang atau nau?" gumamnya tercekat.
Hup!
Mendarat di tanah becek. Tatkala seorang ibu dan anak sedang menenteng ember berisi karet mentah. Bau menyengat menyeruak ke udara—tajam dan asam.
"Tidak seperti biasanya. Baunya seperti tahi dinosaurus"
Tetapi—bau busuk yang bermakna emas bagi para petani. Ogan tersenyum hangat seolah kedatangannya bukan berasal dari langit, tapi dari halaman belakang rumah.
"Karet itu akan membeku kalau kalian melamun di situ," ucap Ogan.
Dua perempuan itu tertegun. "Makhluk dari mana dia, Bu? Turun dari langit seperti tukang sayur turun dari becak."
"Sepertinya tukang sayur naik helikopter."
***
Mauli berdiri bimbang di depan Walas—kitab kuno yang memancar cahaya keemasan, seperti nyala dari dunia purba. Saigon berdiri di sampingnya dengan mulut menyeringai licik, tatapan mata menyelinap hingga ke sumsum tulang belakang.
"Siapa sangka, darah raja mengalir dalam tubuhmu," katanya datar, seolah menyampaikan berita kematian.
"Kau adalah keturunan ke-30 dari Raja terakhir Sriwijaya. Ironis, bukan? Kau sendiri tak tahu siapa dirimu."
Mauli menggeleng pelan, gemetar, bukan oleh dingin goa, tapi oleh bayangan penderitaan Ogan yang sedang disiksa. Saigon memutar tipuan sihirnya—menciptakan Ogan palsu, tubuh penuh luka, darah menetes seolah hidupnya dicabik-cabik di depan mata Mauli.
"Arrrgh..."
"Ogannn!" jeritnya lirih, gemetar, seolah jeritan itu bisa menembus batas realita.
"Jika kau tidak menurut, dia mati," ujar Saigon, menusukkan belati partikel ke tubuh ilusi.
"Arrrgggh! Mauli.... Tolong..."
Mauli gemetar.
air matanya jatuh, bukan karena takut—tapi karena cinta. Bagaimana dunia begitu kejam setelah merusak hubungan mereka, kini harus disiksa tanpa iba.
"Tolong, jangan sakiti Ogan!"
Ia tahu.
jika itu satu-satunya cara menyelamatkan kekasihnya, maka harus rela membuka gerbang petaka.
"BAIK! AKU AKAN TURUTI KEMAUANMU!"
"Hahaha... kau memang cerdas, Mauli."
Mantra, mantra itu telah disiapkan. Mauli hanya tinggal membaca seraya menyentuh Walas.
Begitu saja?
Benar. Simpel tapi sangat mematikan.
Seketika.
Petir meraung di langit, angin menggila di goa. Walas melayang, menyemburkan cahaya seolah membuka pusaran dunia lain.
Lematang yang semula tenang kini goyah, sorot matanya waspada. Bahkan baginya, energi Walas terlalu asing dan agung.
"Hahaha... Semua akan bangkit pada waktunya."
Angin kencang membuat pakaiannya berkibar seperti layar kapal perang. Ia membuka kedua tangan seakan bersiap menerima anugerah dari para leluhur.
"Akhirnya... kekuatan yang kucari selama ini!"
***
Ogan berhenti.
Berdiri beberapa meter dari mulut goa, napasnya tersengal, tapi sorot matanya tak redup. Di atasnya, Akuadron jatuh ke telapak tangannya seperti anak panah yang menemukan busur. Ogan mengepalkan tangan, pusaka itu menyala—merespons bahaya yang tak bisa lagi ditunda.
"Aku datang, Mauli... dan aku tidak akan gagal lagi."
Langkahnya bergema pelan, menyusup di antara bisikan angin purba dan bau tanah yang menyimpan sejarah ribuan tahun. Dinding batu yang dingin tampak bergetar, seolah ikut merasakan detak jantungnya yang memacu cepat. Cahaya Akuadron menerangi jalan di depannya—biru seperti cahaya rembulan yang menyelinap ke dunia tersembunyi.
Tiba-tiba...
Kelelawar beterbangan dari langit-langit, membuat pandangannya terganggu. Namun Ogan tetap maju, matanya tajam penuh siaga. Akar-akar besar menjuntai seperti lengan manusia purba, tetapi ia menyingkirkannya satu per satu, tetap fokus pada suara mantra yang menggema dari dalam.
LANGKAH BERHENTI, OGAN TERTEGUN.
Mauli berdiri di tengah pusaran cahaya, tubuhnya diliputi aura keemasan dari Walas yang melayang. Bibirnya masih melantunkan sisa-sisa mantra kuno, dan tangannya menempel pada simbol bunga yang menyala. Di depannya—Saigon membuka tangan lebar seperti menyambut kekuatan yang hendak berpindah.
"MAULI!"
Suaranya menggema hingga ke langit-langit batu.
Mauli tersentak. Sejenak, cahaya Walas meredup. Saigon menoleh dan dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi perang.
"Terlambat, prajurit lapuk!" Saigon melompat
"Mantra sudah selesai dan... portal akan segera terbuka."
Dan pertempuran pun pecah.
Ogan mengayunkan Akuadron dan menangkis serangan.
TENG...!
Suara logam dan batu beradu keras, membuat dinding goa bergetar. Lematang yang tadinya diam, kini ikut terjun, menyerang dari samping dengan tendangan. Ogan menangkis lalu menghantam tanah dengan tongkatnya.
Gelombang energi meletup mementalkan Lematang ke dinding.
"Mauli! Lepaskan tanganmu dari kitab itu!" seru Ogan.
"Tapi Ogan, kau... kau berdarah..."
"Itu ilusi! Dia hanya mempermainkanmu!"
Walas kembali menyala terang, namun kali ini bukan karena mantra Mauli. Simbol melati berdenyut, dan bayangan raja-raja kuno muncul dalam bentuk cahaya di sekeliling ruangan.
Saigon menggeram. "Jangan lakukan itu!"
Tapi sudah terlambat...
Cahaya Walas menembus dada Mauli dan Ogan bersamaan, menghubungkan dua garis nasab yang berbeda, namun terikat satu sumpah kuno.
"Aku tahu siapa aku sekarang..." bisik Mauli, matanya membara. "Dan aku tahu siapa yang harus dilenyapkan dari sejarah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
