Chapter 18

4 0 0
                                        


Keadaan berubah drastis. Udara di sekeliling mereka terasa lebih berat, seolah ikut menanggung beban dari pertempuran yang belum tuntas. Saigon, dengan napas terengah dan wajah penuh amarah yang ditahan mulai kehilangan kendali atas medan. Tongkat permata yang dipegang Ogan terlalu kuat untuk dilawan. Setiap kali Saigon mencoba menekan, justru kekuatannya mental balik seperti badai yang memantul dari dinding baja.

Keringat mengucur di pelipisnya. Tatapannya mulai panik. Dia tahu, jika memaksakan diri, hanya kehancuran yang akan didapat.

Dengan satu gerakan cepat, tubuhnya menghilang dalam kilatan cahaya keunguan yang berdesing tajam—menyisakan kepulan debu tipis dan aroma logam yang menyengat.

"Saigon kabur!"

Ogan segera siaga.

Matanya tajam menelusuri sekitar. Ia bergerak, mencoba membaca arah angin, jejak langkah, bahkan perubahan suhu. Langkahnya berputar mengelilingi area pertempuran, setiap sudut diteliti. Hatinya tak tenang bahkan tidak ingin kehilangan jejak.

Namun, semua sia-sia. Jejak itu bersih. Seolah Saigon memang lenyap bak ditelan Bumi.

"Dia pergi," ucap Lematang pelan, berdiri di sampingnya. Sorot matanya tampak menyimpan sesuatu—entah rasa kecewa, khawatir, atau mungkin luka masa lalu yang kembali terbuka. "Dia pasti sedang menyusun rencana baru."

Ogan berbalik. Suaranya datar, tapi penuh tekanan. "Ke mana dia? Ke mana dia pergi?"

Lematang menghela napas panjang. "Dia licin, Ogan. Sejak dulu, dia selalu punya tempat-tempat persembunyian yang mustahil dijangkau oleh manusia biasa. Tempat gelap, sunyi, dan jauh dari keramaian."

"Seperti hutan yang tak berpeta, goa dalam perut Bumi, atau gunung sunyi yang tak pernah dijamah?" tebak Kerinci dari belakang. Nadanya ragu, namun penuh perhatian.

Lematang mengangguk perlahan. "Benar. Tapi melacaknya sekarang nyaris mustahil. Karena sejak kami memilih jalan berbeda... aku kehilangan semuanya."

Suasana mendadak hening. Angin sepoi berhembus membawa aroma debu dan tanah yang terbakar dari medan bentrokan sebelumnya.

Ogan terdiam.

Matanya tertuju pada tempat Saigon terakhir berdiri. Kini menghilang, menyisakan teka-teki yang semakin rumit. Wajah Ogan terlihat muram. Ada rasa gagal yang menyelinap diam-diam ke dalam hatinya.

Namun kemudian, tatapannya beralih.

Di sana, Mauli berdiri tegak sambil memeluk Walas—senjata suci itu. Matanya tenang, tetapi tubuhnya masih sedikit bergetar akibat sisa ketegangan.

Ogan segera menghampiri. Suara hangat yang penuh kekhawatiran.

"Kau baik-baik saja?"

Mauli mengangguk kecil. Senyumnya tipis, tetapi cukup meyakinkan. "Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir... aku kuat."

Ogan memandangnya lekat. Ia tahu, kekuatan Mauli bukan sekadar fisik—tapi hati yang besar dan tekad yang tak tergoyahkan.

Ia menarik napas lega kemudian mengangguk pelan. "Syukurlah... aku takut sesuatu terjadi padamu. Kau satu-satunya alasan aku tetap bertahan di tengah semua kekacauan ini."

Mauli tersenyum lagi, sedikit lebih lebar. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu ini baru permulaan. Saigon belum selesai. Dan semesta masih menyimpan banyak rahasia.

***

Ogan duduk berhadapan dengan Lematang. Di sudut ruangan, Mauli duduk di kursi, ditemani Akuadron. Kerinci hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan.

Ogan bertanya, "Ceritakan dari awal. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Lematang menunduk sejenak lalu membuka suara. "Dulu... ada seseorang dari Semesta Angkara. Dia membantai keluargaku. Waktu itu aku dan Saigon sedang pergi. Saat pulang, kami menemukan ayah dan ibu... sudah tidak bernyawa. Dibunuh oleh seorang pria dengan kekuatan kosmik."

"Semesta Angkara?" Ogan menyipitkan mata.

"Kita berada di Bima Sakti, semesta utama yang dihuni oleh triliunan makhluk hidup. Tapi sebenarnya ada tujuh semesta. Salah satunya adalah Angkara," jelas Lematang.

"Hem... aku seperti pernah dengar semua ini. Tapi ingatanku hilang. Mungkin karena terlalu lama bertapa. Kadang aku merasa... aku bukan berasal dari semesta ini."

Mendengar itu, Mauli tersentak. Dia yang sedari tadi diam langsung mendekat.

"Kau yakin? Dari mana kau sebenarnya berasal?" tanya Mauli penasaran.

"Aku ingat... sebelum jadi prajurit, seseorang membawaku ke semesta ini."

"Siapa?" nada Mauli tiba-tiba meninggi. Ada nada cemburu yang menyelinap dalam suaranya.

Hening sejenak.

Ogan menarik Akuadron di sudut ruangan. Dia menatap Akuadron. "Bantu aku mengingat."

Akuadron dipegang erat-erat kemudian ditempelkan ke keningnya. Cahaya terang memancar. Proses itu berlangsung cepat, dan Ogan tiba-tiba menarik napas panjang.

"Aku ingat," katanya sambil melirik Mauli. "Namanya Wadari. Seorang bidadari. Dia bisa keluar masuk antardimensi. Tapi—"

Mauli langsung menatap curiga.

"Tapi dia hanya teman," Ogan buru-buru melanjutkan. "Aku tinggal di sini karena jatuh cinta dengan semesta ini. Dan... denganmu."

Mauli menunduk, suaranya pelan. "Aku paham..."

Ogan meraih tangannya. "Jangan cemburu. Jangan biarkan itu menghancurkan kita."

Namun Mauli malah menatap Lematang. Ada sorot ketegangan dalam matanya. Masih terbayang—bagaimana Lematang pernah mencium Ogan. Sementara dia sendiri...

"Aku butuh udara segar," katanya singkat kemudian melangkah pergi. Akuadron setia mengikuti dari belakang.

Ogan hanya memandangi punggung kekasihnya yang menjauh.

***

Di bawah pohon besar, Kerinci duduk melamun. Memperhatikan Mauli yang pergi. Sedangkan Lematang hanya diam di dalam bersama Ogan yang tampak bimbang.

"Apakah ini... cinta segiempat?" bisik Kerinci pada dirinya sendiri. Mengepalkan tangan, menatap ke langit seakan mencari jawaban.

Tiba-tiba sebuah mobil tua muncul di kejauhan. Suaranya berisik, memekakkan telinga.

"Parabot! Parabot!"

"Tiga sepuluh! Tiga sepuluh!" suara nyaring itu menggema.

Mobil itu penuh sesak dengan barang-barang: panci, kuali, ember, sapu, sendok, dan alat-alat rumah tangga berwarna-warni. Semua dijejal sampai tumpah ke bak belakang.

Kerinci melongo.

"Dari cinta segiempat ke tukang parabot?" gumamnya. "Dunia ini benar-benar aneh..."

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang