Senyum tipis penuh kemenangan.
Bagi perempuan itu...
Melihat keretakan hubungan Ogan dan Mauli adalah kepuasan—misi yang berjalan mulus. Entah apa di jalan pikiran Lematang sehingga tega merusak keharmonisan orang lain.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, cinta yang telah dibangun selama dua tahun kini dirusak oleh kehadiran orang ketiga.
Rahang Jira menegang, jemarinya mencengkeram kain pel yang masih basah. Bibirnya mengerucut seperti baru saja meminum sambal. Sementara Sangkut menahan amarah, rahangnya bergemeretak.
Dia begitu kesal...
Jira.
Sangkut.
Dan semua hal yang mencintai Ogan dan Mauli.
Ruang toko sepi, hanya menyisakan amarah yang menggantung di udara.
Ogan? Muncul dengan perasaan resah. Ia tak berhasil membujuk Mauli—hatinya terlanjur mendidih.
Ia merogoh saku—mengambil ponsel.
GILA!
Menatap layar: nama Mauli terpampang jelas. Berkali-kali mencoba menelepon, tapi tak ada jawaban. Barisan pesan hanya dianggurkan oleh Ogan.
Seolah Ogan dalam dunia ilusi, melupakan Mauli tanpa sadar.
Sangkut dan Jira hanya memperhatikan. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain diam. Sedangkan Ogan, mondar-mandir dengan ponsel masih menempel di telinga. Harapan demi harapan kandas di ujung nada sambung.
"Jika bukan karena dia, Bos Cantik tidak akan sakit hati. Kau juga suka dia kan?" tuding Jira ke arah Sangkut.
"Siapa juga yang mau dengan perebut laki orang?" sahut Sangkut membuang muka.
Di ujung ruangan. Langkah Ogan terhenti. Napasnya berat. Tangannya menggenggam ponsel tua seolah memegang masa lalu yang mulai rapuh. Tak hanya kehilangan Mauli, kini juga kehilangan jejak Lematang.
Hilang bak ditelan Bumi.
***
Saigon berdiri tegak laksana patung penjaga gerbang zaman, sorot matanya tajam menembus keraguan.
Walas.
Kitab itu disodorkan kepada Lematang seperti seorang pemimpin yang mewariskan rahasia paling purba pada penerusnya. Sampul kitab itu tampak kusam dimakan usia, namun menyimpan aura misterius yang membuat udara seakan lebih berat. Ukiran-ukiran kuno menghiasi permukaannya, seolah setiap lekuk menyimpan suara masa silam yang ingin kembali berbicara.
"Ambillah," ujar Saigon, suaranya dalam, nyaris seperti gema dari lorong waktu. "Kitab ini akan membimbingmu, menjadi kompas bagi perjalanan besar yang telah menantimu."
Saigon baru saja menemukan catatan kuno dari Walas—kitab itu bisa menuntun kepada Trah Sriwijaya.
"Aku baru menemukan bahwa kitab ini bisa memberitahu pada orang yang kita cari."
Lematang menyambutnya dengan ragu meski jemarinya tak kuasa menolak. Di hadapannya bukan sekadar buku, melainkan nasib yang terlipat di antara lembar-lembar rahasia sejarah.
"Bagaimana jika Walas salah?"
"Tidak mungkin. Walas tak pernah keliru," jawab Saigon sambil menatap tajam. "Kitab itu akan membawamu pada sang pembuka simbol."
Namun jalan mereka masih panjang. Masih banyak portal yang harus dilewati. Saigon mencurigai bahwa Ogan bukan sekadar prajurit biasa—mungkin darah kedatuan masih mengalir dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
