Mauli tak mengucap sepatah kata. Ia kembali ke tempat duduk semula, menarik napas panjang seolah ingin menenangkan badai yang berkecamuk di dada. Bahkan masih sempat melihat pria gendut itu berlari tertatih, meski langkahnya lambat.
Singkarak datang mendekat, diiringi dua hewan kesayangannya yang setia: Dogi dan Jalu.
Duduk di samping, menatapnya dalam-dalam, seolah ingin mengupas seluruh isi pikirannya. "Kenapa?" tanyanya pelan, namun penuh tekanan.
Hanya tatapan tajam, penuh misteri. Tanpa sepatah pun Mauli justru kembali pada tatapan murung.
"Mauli, kau kenapa?" ucap Singkarak menyentuh lengannya.
Akhirnya...
"Unu. Makhluk yang dibangkitkan oleh Saigon."
"Saigon siapa?"
"Dia adalah ancaman baru bagi Lamus. Seseorang dengan kekuatan luar biasa yang berambisi membangkitkan orang tuanya dari kematian."
Kalimat itu langsung memancing dugaan Singkarak.
"Jangan-jangan... dia Profesor Garung yang baru?"
Singkarak semakin bersemangat seperti wartawan haus berita di hadapan narasumber penting.
"Bahkan dengan Kitab Walas ini, dia mengungkap jati diriku—aku adalah seorang keturunan dari raja-raja Sriwijaya, bahkan aku sendiri tidak tahu. Dan dia memanfaatkan itu, menjadikan darahku kunci untuk membuka simbol kekuatan kuno."
Singkarak tersentak. "Gawat! Aku harus kasih tahu Kerinci."
"Tidak perlu," ucap Mauli cepat.
Singkarak mengernyit, bingung. "Kenapa?"
"Karena Kerinci sudah tahu. Dia dan Lematang sedang berusaha menghentikan Saigon."
"Lematang? Siapa lagi?"
Pertanyaan demi pertanyaan dari Singkarak mulai membuat Mauli lelah. Namun ia tetap menahan diri, mencoba menjelaskan meski nada suaranya berat.
"Lematang adalah adik Saigon. Dia membelot dari kakaknya karena tahu rencana Saigon salah. Makanya, sekarang dia bersama kami."
Mauli hendak melanjutkan, namun tiba-tiba diam. Dua sosok muncul dari kejauhan—Ogan dan seorang perempuan.
Mauli menunjuk ke arah perempuan itu. "Itu... Lematang."
Singkarak akhirnya mengerti.
Namun Ogan langsung merasa ada yang janggal. Ia menatap sekitar saat melihat bangkai unu yang tergeletak.
Mauli menjelaskan singkat tentang makhluk itu. Bagaimana ia muncul tiba-tiba, dan berhasil dibunuh setelah pertarungan sengit.
"Bahaya!"
Satu kata—singkat, padat, namun mengguncang suasana.
Ogan menatap bangkai Unu yang tergeletak di tanah. Namun bukan bangkai itu yang membuatnya resah, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap yang berputar-putar dalam pikirannya.
"Apa yang terjadi?" bisiknya dalam hati, sambil memicingkan mata.
Prajurit tua itu akhirnya bersuara, nada rendah namun penuh keyakinan.
"Jika masih ada Unu yang tersisa... kota ini bisa hancur berkeping-keping. Makhluk itu bukan sekadar binatang buas—ia seperti wabah yang berjalan. Sekali lepas, kehancuran hanya soal waktu."
Gurat cemas terlihat di wajahnya. Aura khawatir memancar jelas seolah bisa mencium bau bahaya.
Lematang, berdiri tak jauh darinya, mengangguk pelan. Tatapannya menajam seolah sedang menembus kabut masa depan.
"Aku punya firasat yang sama," ucapnya. "Bisa jadi... masih ada Unu lain yang berkeliaran di luar sana, bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang lagi."
Namun percakapan mereka terasa seperti badai yang belum sempat pecah. Dalam diam, mereka semua tahu—pertarungan belum usai.
Ini baru awal.
Singkarak, sempat hampir tewas dua tahun lalu kini justru tampak lebih berani. Bersama mereka—Dogi dan Jalu, ia merasa punya kekuatan baru. Dua makhluk itu sudah seperti keluarga—selain Kerinci, tentu saja.
Namun di tengah ketegangan itu, Mauli membuang pandangan. Ia tak tahan melihat Ogan bersama Lematang. Kebaradaan Lematang membuat suasana gerah, bak berdiam di ruangan yang pengap. Hatinya berkecamuk. Seperti luka lama yang kembali menganga.
"Aku kurang enak badan... aku pulang saja," ucapnya, dingin.
Mauli melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia berharap Ogan menahannya, memanggilnya, setidaknya menunjukkan sedikit rasa. Tetapi tidak akan pernah. Harapan itu gugur di jalan setapak bak daun patah di musim kering.
Ogan tetap diam.
Bahkan mengajak Lematang pergi bersama seolah tidak terjadi apa-apa. Mauli menahan air mata, tetapi langkahnya mantap.
"Aneh," gumam Singkarak.
Singkarak memperhatikan dengan seksama. Ia tahu Mauli cemburu, hanya Ogan yang tampaknya buta perasaan bahka tampak bukan lelaki sejati. "Tidak semua luka terlihat," gumam Singkarak. "Karena butuh kepekaan untuk memahami hati seorang perempuan," katanya pelan penuh makna.
"Ayo, tunggu apa lagi? Kita harus cari habitat Unu dan Saigon," kata Ogan tiba-tiba.
"Baiklah," jawab Singkarak. Geleng-geleng karena tidak mengerti dengan sikap Ogan yang tak peka.
Dogi dan Jalu mengikuti di belakang. Jalu, hanya diam dengan mata plarak-plirik. Sementara Dogi, penuh semangat, menggonggong kecil, mengibaskan ekor, dan menjulurkan lidah.
"Jalu, ayo!" panggil Singkarak.
Ayam itu melangkah hening, kakinya menjingjit, jari-jarinya empat seperti penari bayangan. Dogi melompat-lompat kecil, seolah ikut menari di jalan aspal.
Di pertigaan jalan yang sepi, mereka melewati penjual jagung. Singkarak membeli beberapa tongkol kemudian memberikan pada hewan-hewan kesayangannya. Dogi menggigit dengan penuh semangat, sementara Jalu mematuk biji-biji jagung satu per satu, mengikuti irama Dogi.
Di balik semua itu, bahaya masih mengintai. Namun Singkarak, Ogan, dan Lematang justru belum siap menghadapi badai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficção Histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
