Chapter 17

4 0 0
                                        


"Saigon!"

Ogan menghunus tongkatnya, melangkah mantap ke arah pria berkepala pelontos merah jambu. Wajah Saigon mengeras, kesal karena acaranya diganggu. Terlebih oleh pemilik pusaka yang terbuat dari permata itu.

"Unu berasal dari dimensi kegelapan. Kulitnya sekeras baja, kuku dan giginya setajam silet," ujar Saigon, lirih tapi tegas.

Saigon menyeringai dingin.

"Ternyata kau berhasil mempengaruhi Lematang untuk melawanku, prajurit tua."

Pandangan Saigon menyorot ke arah Lematang yang tengah bertarung dengan salah satu Unu. Sementara itu, Mauli bermain dengan lembaran-lembaran buku, melemparkan seperti batu—lemparan yang cukup kuat untuk menjatuhkan musuh.

"Apa pun rencanamu, tidak akan berhasil," lanjut Ogan. "Kau hanya dikendalikan nafsu. Berpikirlah sebelum semuanya hancur!"

"Betapa bodohnya aku, percaya pada adikku sendiri. Kini dia telah berkhianat." Tatapan Saigon kembali pada Lematang, kini dipenuhi dendam.

Saat ketegangan memuncak, Mauli, Lematang, dan Kerinci—mendekat. Saigon berdiri berhadapan dengan empat orang yang ingin menghentikannya.

"Setelah bertemu mereka, aku sadar, seharusnya aku menghentikanmu sejak dulu," ucap Lematang, menantang.

Nasi telah menjadi bubur.

Portal telah tertutup. Para Unu menyebar seperti wabah. Salah satu hendak menerkam Ogan, hendak melahap kepalanya. Tapi gagal.

Pukulan mutlak dari Ogan menghantam makhluk itu, membuat tubuhnya retak dan berdarah.

Tak lama, Unu itu roboh, tak berkutik.

"Aku bukan orang jahat!" teriak Saigon, matanya memerah. "Aku hanya ingin menghidupkan kembali orang tuaku!"

Dia melepaskan tinju. Serangan itu membelah udara, menghempaskan angin kencang yang membuat pandangan kabur. Mereka saling dorong. Saigon menekan dengan lengan kanan sedangkan Ogan menahan dengan Akuadron.

"Kau tidak mengerti, Ogan."

"Kalau kau benar, kenapa terus bertarung? Kenapa tidak menyerah saja?"

"Duniaku telah dirampas makhluk dari semesta lain!" Saigon meraung.

Wuss!

Akuadron terlepas, melesat lalu kembali menghantam tubuh Saigon. Tabrakan itu membuatnya terlempar ke udara. Ogan bangkit, menangkap pusakanya lalu menyerang. Saigon mampu menangkis.

Pertarungan berlangsung sengit bak dua dewa langit yang tak pernah mengalah.

Di sisi lain.

Mauli dan Lematang sibuk menahan gempuran para Unu.

"Awas!" seru Lematang, menghalau Unu yang menyerang Mauli. Ia mengendalikan gas—lemparan tak terlihat tapi mematikan.

"Terima kasih."

"You're welcome."

"Kau bisa bahasa Inggris?"

"Sedikit." Lematang tersenyum tipis.

Sementara.

Kerinci nyaris dimakan Unu. Ia melempar batu—besar dan berat—cukup untuk membuat kepala manusia pecah.

Tiba-tiba ada yang menyelamatkannya —Lematang. Ia mengendalikan batu besar seperti pusaran angin kemudian melemparkan ke arah Unu.

Bug!

Tepat mengenai kepala. Monster itu tumbang. Kerinci terselamatkan.

"Terima kasih."

"Senjata biasa tidak bisa membunuh mereka," jawab Lematang sambil mendarat.

"Aku tidak tertarik pada topik itu."

"Lalu?" Lematang mengernyit.

"Kau ini... avatar? Pengendali Angin?"

"Itu bukan angin. Itu metana."

Kerinci terpaku. "Gas... berbahaya itu? Bagaimana bisa kau mengendalikannya?"

"Aku adalah Evolus. Kami tersebar di seluruh semesta."

Lematang menatapnya, tajam dan memikat. "Jangan pernah menyalakan api di dekatku, jika tak ingin tubuhmu jadi abu."

Kerinci menelan ludah. "Mana mungkin aku membakar diriku sendiri... apalagi di depan orang yang aku... sukai."

"Apa kau bilang?"

"Ah, tidak ada. Lupakan!"

Langit mendadak mencekam. Pertarungan antara Ogan dan Saigon mengudara, memecah awan. Mereka bertarung bagaikan elang berebut langit.

"Kakakku takkan berhenti sampai rencananya berhasil."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mauli.

"Orang tua kami dibunuh makhluk dari semesta iblis. Dunia mereka tanpa kebaikan. Aku menerima takdir. Tapi Saigon... ia memilih dendam."

"Dia Evolus juga?" tanya Kerinci.

"Ya. Seorang pengendali bau—dari yang harum semerbak hingga busuk menyengat."

Belum sempat selesai bicara...

Bug!

Ogan terlempar, menghantam tanah hingga meninggalkan kawah. Saigon menyentuh tangan Ogan, namun hanya satu detik, Ogan langsung menendang perutnya hingga terhempas.

Ogan berdiri. Tongkatnya terangkat, namun tiba-tiba tubuhnya diserbu bau busuk. Ribuan lalat hijau menyerangnya, memenuhi wajah, lengan, dan tubuhnya bagai segerombolan kutukan hidup.

"Kenapa lalat-lalat itu menyerang Ogan?" tanya Mauli.

"Saigon memberinya aroma busuk," jawab Lematang, serius.

Ogan mulai kewalahan bahkan tubuhnya bagai bangkai berjalan. Tetapi ia belum menyerah...

Dengan tenaga terakhir, Ogan melesat ke langit lantas memukul bumi dengan keras.

Bum!

Ledakan dahsyat memusnahkan semua lalat. Tanah bergetar, angin berhembus kencang. Saat debu mengendap, Akuadron melesat.

Buag!

Saigon jatuh. Keningnya robek, darah menetes. Wajahnya lebam seperti anggur busuk meski matanya tetap membara.

"Ini belum seberapa!"

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang