Matanya terbelalak. Bukan karena cahaya, bukan pula karena luka—melainkan karena jumlah musuh yang tiba-tiba muncul begitu besar, seolah langit membukakan pintu neraka.
Mauli kehabisan tenaga. Lututnya nyaris rubuh, napas berat, dan tubuhnya gemetar tak kuasa. Dia hanya bisa memejam, pasrah, menanti kapan cakar pertama mencabik kulit.
Duak!
Ledakan keras menghantam udara. Angin menerpa. Sebuah bayangan meluncur cepat dan menghentikan gerakan Unu yang hendak menerkam. Mauli membuka mata—Akuadron menghujam tanah, memutar di udara seperti pusaran maut, menyapu enam Unu sekaligus. Tubuh-tubuh makhluk jahanam itu terpental. Dan dari balik debu yang terangkat, berdiri Ogan, wajahnya keras, matanya tajam, dan tubuhnya seperti dinding baja.
Dia menatap langsung ke mata Unu kemudian menunjuk kedua matanya sendiri. Sebuah isyarat peringatan. Mauli berdiri perlahan dan berdampingan dengan pria itu—kekasih sekaligus pelindungnya.
"Jangan lakukan ini lagi, Mauli," suara Ogan datar, namun dalam. "Aku tahu aku bukan laki-laki biasa. Tapi Lematang... dia hanya mencari tahu tentangmu, bukan karena dia menginginkanku."
Mauli mendengus. "Kenapa kau bahas Lematang sekarang?"
"Karena kau terlalu ceroboh. Kau tak bisa terus bertindak sendiri. Ini bukan hanya tentang dirimu, ini tentang kita, tentang Lamus."
Diam. Mauli tak menjawab. Tapi tangannya sudah menggenggam erat Walas, dan Ogan pun meraih kembali Akuadron yang berputar tenang di tangannya. Kini, dua kekuatan besar itu bersiap menghadapi kegelapan.
Mauli mendorong Ogan ke depan dengan kilatan cahaya dari Walas, membuat kecepatan lelaki itu meningkat tajam. Dalam sekejap, Ogan menghantam Unu pertama, mematahkan tulang lehernya. Tapi dia menoleh, heran.
"Kau marah padaku?"
"Tidak sengaja," jawab Mauli singkat.
Ogan melompat, menunggangi Unu satu ke Unu lain, membuat tubuh mereka menjadi pijakan hingga mendarat di leher salah satu—patah.
Dan ternyata...
"Singkarak! Kerinci!" seru Mauli.
Dua bayangan muncul dari reruntuhan, lengkap dengan senjata. Singkarak dengan Glock 17, dan Kerinci memanggul AK-47 dengan megazine penuh.
"Sepertinya aku ketinggalan pesta," kata Singkarak dengan nada enteng.
"Aku bawa banyak peluru, cukup untuk berpesta pora," ujar Kerinci.
Mauli memberi aba-aba cepat. "Bidik leher atau masukkan granat ke mulut mereka!"
Singkarak menembak lalu melempar peledak ke arah Mauli. Wanita itu menangkapnya di udara dan BOOM—leher Unu pecah, menjulur panjang seperti tali putus. Singkarak meringis. "Ya Tuhan, menjijikkan sekali... lebih menjijikkan dari Profesor yang kukalahkan waktu itu."
Di sisi lain.
Kerinci melontarkan peluru-peluru tajam di bagian sensitif. Dua dari mereka meraung keras, matanya pecah, berdarah, dan membabi buta menghantam udara.
Kesempatan itu tak disia-siakan. Singkarak menembak tepat di rongga mulut. Bum!
Satu per satu unu tumbang. Mereka kuat, tapi manusia punya keunggulan: kecerdasan dan strategi.
Ogan menghantam tanah. DOOM! Getaran dari tinjunya membuat tanah retak, dan para unu terjatuh seperti boneka kehabisan tenaga. Mauli menyusul dengan pancaran cahaya yang keluar dari Walas—menyakitkan bagi makhluk itu. Sentuhan sinarnya seperti racun.
Mereka kabur.
Unu lari, berantakan. Untuk pertama kalinya—mereka kalah.
"Lihat mereka," ujar Ogan, "Berlarian seperti kucing takut air."
"Lamus belum mati," kata Singkarak.
"Kau mulai banyak omong sekarang," goda Kerinci.
"Hanya mencoba terlihat keren saja," balas Singkarak santai.
Tapi suasana tawa itu terputus.
Grrrrrr...
Suara anjing marah terdengar. Ternyata Dogi menggigit bangkai Unu. Jalu, si ayam hutan berbulu eksotik, mengembangkan sayap dan bersiap ikut bertarung.
"Hei! Kalian hewan ternak! Masuk kandang, ini bukan urusan kalian," teriak Ogan, menggendong keduanya.
***
Ogan meletakkan Dogi dan Jalu di lantai. Dia membuka lemari, mencari makanan.
Kosong.
Di kulkas hanya ada air, tomat keriput, dan seledri tak bernyawa.
"Kau cari apa?" Suara Mauli lembut dari ambang pintu.
Tak seperti biasanya yang dingin dan cuek, kini dia terlihat perhatian. Rumah ini milik Ogan—tempat yang diam-diam sering dikunjungi untuk memasak, merawat, bahkan mengintip kebiasaan pria itu.
"Aku cari roti tawar. Terakhir kulihat, ada sisa untuk Dogi dan Jalu."
Mauli mendekat, mengulurkan plastik kecil. "Ini."
Ogan menerimanya. Seketika, dunia seakan melambat. Sentuhan kecil, senyuman kecil, tapi cukup untuk membuat detak jantung Ogan tak normal.
Dogi dan Jalu langsung menyantapnya. Tapi Ogan memperhatikan Jalu, penasaran.
"Kenapa ayam ini punya daun telinga?"
"Dia ayam hutan. Bisa terbang. Beda dari ayam kampung," jawab Singkarak pasti.
"Oh..." Ogan membelai kepala Jalu sambil tersenyum.
Tapi momen hangat itu terhenti oleh jeritan dari luar.
"Gawat!" Sangkut dan Jira muncul tergesa. Lematang tertatih di belakang mereka.
"Para Unu... mereka mengamuk di hutan atas. Jumlahnya... tak bisa dihitung!"
Ogan berdiri. Wajahnya berubah serius.
"Sebanyak itu?" bisiknya.
"Mereka bisa membuat kerajaan raksasa," jawab Sangkut.
Hening.
Singkarak terdiam. Kerinci mengatupkan bibir.
"Mustahil... kita bisa menang melawan itu semua," gumam Singkarak.
Lematang menatap Ogan, matanya berkaca-kaca.
"Tolong... tolong hentikan Unu dan Saigon. Tolong, Ogan."
Ogan tak menjawab.
"Sebenarnya... aku tidak ingin mendengar ini," katanya perlahan. "Karena aku tahu... inilah awalnya..."
Hening.
Kemudian...
Sangkut berkata pelan, "Inilah... hari kiamat itu."
Langit mendung. Angin berhenti berhembus. Dan di kejauhan, suara raungan menggetarkan udara seolah neraka mulai membuka pintunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
