Hari itu seperti akhir zaman. Bukan gemuruh petir yang membelah langit tetapi suara langkah ribuan makhluk dari neraka—bangsa Unu, keluar dari sarang mereka.
Dari atas bukit, mereka terlihat seperti kabut tebal yang menyapu hutan dan menyelimuti perumahan. Tapi itu bukan kabut. Itu gelombang kehancuran. Mereka datang bagaikan tsunami daging dan amarah, mengisi udara dengan suara raungan yang menggema di lembah.
Di bawah.
Para pahlawan telah berkumpul. Wajah-wajah yang biasanya teguh kini menegang. Ucapan Lematang terbukti: ini lebih dari perang. Ini adalah awal dari perang dunia.
"Mereka... terlalu banyak," desis Kerinci, menggenggam senjatanya.
"Berapa pun jumlahnya, aku tidak akan mundur," balas Ogan, matanya tak berkedip sedikit pun.
Singkarak sudah lebih dulu menyembunyikan Dogi dan Jalu. Dia lebih rela kehilangan nyawa ketimbang kehilangan mereka.
Di tangan Ogan, senjata khusus bersinar—senjata yang mampu membutakan para Unu.
Lematang berdiri tegap, telapak tangannya mengalirkan pusaran gas yang siap mencekik makhluk-makhluk itu.
Sementara Mauli, dengan sorot mata tajam, mengangkat dua jari, siap melesatkan sinar maut dari tubuhnya.
"Aku tak akan kalah dari makhluk jijik itu."
Tiba-tiba—Ogan bergerak.
Tanpa aba-aba, dia melompat, mengambil tumpuan dari batu besar, dan mengayunkan Akuadron.
DUARR!!
Sekali gerakan menghantam bukit tempat para Unu turun, bumi bergetar. Sebuah suara seperti letusan gunung berapi mengguncang langit. Bukit itu... retak. Tanah terbelah, bebatuan beterbangan, debu melambung tinggi.
Kekacauan tercipta. Para Unu terpental. Koloni terpecah. Mereka terjerembab, tubuh-tubuh mereka tergilas reruntuhan.
"Gila! Apa yang dia lakukan?!" Singkarak menutup wajah dengan tangannya.
"Dia selalu seperti itu..." ujar Kerinci, menghindari hujan batu.
Di tengah badai puing...
Ogan berdiri tegak. Napasnya teratur. Wajahnya tenang. Dia yakin pukulannya sudah mengakhiri mereka semua.
Tapi...
Gerakan mulai muncul dari balik debu. Kepala Unu yang terpenggal... tubuhnya masih bergerak. Kakinya berusaha bangkit.
KRAK!
Ogan menghantamnya hingga benar-benar diam.
Tapi itu baru satu.
Makhluk-makhluk itu masih banyak. Dan sebagian dari mereka... sudah mencapai pemukiman.
"Jangan biarkan mereka masuk ke desa! Apalagi ke kota!" seru Lematang.
Dia mendorong tangannya ke depan. Aliran gas seperti kabut hijau menyebar cepat, menyesakkan napas belasan Unu. Mereka terhuyung, menggosok mata dan wajah dengan cakarnya.
Saat itulah Kerinci bergerak. Ia melempar benda kecil—bukan granat biasa, tapi bom api.
FWOOM!
Api menjalar cepat, membungkus tubuh para Unu yang terjebak. Mereka menggelepar, mengerang, tubuh-tubuh mereka menyala seperti obor malapetaka.
"Itu yang aku butuhkan," kata Lematang, tersenyum tipis.
Kerinci datang menghampiri, menggenggam tangannya. "Jika perang ini selesai... aku ingin mengajakmu ke tempat indah."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang bisa disebut... surga dunia."
Mereka menatap satu sama lain. Di tengah medan perang, di tengah darah dan api, dua hati menemukan momen untuk saling bicara.
Namun...
"AWAS!!" teriak Singkarak.
Peluru meluncur cepat, menghantam mata kanan seekor Unu yang nyaris menerkam pasangan itu. Hewan itu terdiam, tumbang, napasnya berat.
Lematang menutup mulut. Kerinci mematung. Canggung. Nyawa mereka hampir hilang karena sesaat terlena.
"Begitulah cinta... Tahi ayam pun bisa terasa pahit," sindir Singkarak sambil berjalan pergi. "Aku pernah makan, jadi tahu rasanya."
Pasangan itu saling pandang. Tak sempat membalas, mereka langsung kembali siaga.
Ini bukan tempat untuk cinta. Ini tempat untuk bertahan hidup.
Kerinci melepaskan tembakan ke arah barisan Unu, peluru-peluru besar menghantam bagian mata dan tenggorokan. Sementara Lematang memaksa musuh menghirup gas metana yang dia ciptakan. Mereka tercekik, membabi buta, tubuh besar mereka jadi lumpuh hanya karena satu napas.
Seekor Unu melompat. Lematang melesat ke udara, terbang dengan dorongan gas dari tangan.
Di atas.
Menebar racun lalu mendarat berguling.
"Kerinci! Sekarang!"
Kerinci melempar bom percikan. Api menyambar gas yang sudah mengendap. Ledakan memanjang seperti naga api. Sembilan Unu tersungkur, tubuh mereka dilalap kobaran.
Lematang berdiri, menatap kejauhan. Kerinci ada 25 meter darinya, memberikan isyarat. Lalu kembali mencari target.
Lematang bukan hanya cantik dan anggun, tapi juga tajam dan mematikan. Dia mulai memahami medan. Gerakannya lebih cepat. Ledakannya lebih akurat.
Kerinci pun tak kalah. Saat seekor Unu menganga ingin mencabik, Kerinci menjatuhkan diri, merayap di bawah perut makhluk itu dan berlari ke belakang. Saat Unu melihat ke bawah, Kerinci menyumpalkan peluru besar ke lubang anus.
"Rasakan! Pantat hitam."
DUARR!
Ledakan dari dalam membuat Unu itu terlempar ke depan. Kerinci terpental, tubuhnya terendam lumpur dan tanah.
Bruk!
Dia bangkit perlahan, tubuhnya penuh kotoran. Tapi pandangannya jatuh pada satu titik: Mauli.
Sedang bertarung. Kedua tangan bersinar. Setiap kilatan yang keluar, satu Unu tumbang. Cahaya itu bukan hanya kekuatan, tapi kemarahan, dendam, dan cinta pada dunia yang ingin dia lindungi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Narrativa Storica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
