Mauli datang sendiri. Hanya berbekal Walas—buku tua yang bisa memancarkan sinar mematikan dari kehendaknya. Tidak ada pengawalan. Tanpa Ogan, tanpa Kerinci bahkan tanpa Singkarak. Tak ada teman, satu pun. Hanya keberanian yang nyaris seperti keputusasaan.
Pasar yang dulu riuh kini luluh lantak. Sayur-mayur berserakan, buah-buahan tergilas, dan tangis seorang ibu menjadi musik tragis yang menggema di antara puing. Air matanya jatuh bersama dagangan. Dia berlari, terisak, tak sempat menoleh pada Mauli yang berdiri di tengah kekacauan.
Lorong pasar yang dulu ramai kini sunyi. Hanya satu unu—makhluk haus kehancuran—tengah mengacak-ngacak lapak ikan. Ia rakus, beringas, dan menebar ketakutan.
"Hai!" suara Mauli memecah keheningan.
Unu itu menoleh. Mata menyala. Tubuh besar itu berlari, menghantam lapak demi lapak. Tapi, sesaat sebelum mencapai Mauli, makhluk itu terpental mundur, tubuhnya terseret menghancurkan beberapa meja. Namun, belum sempat Mauli bernapas lega, suara raungan terdengar dari berbagai arah.
Sekelompok Unu muncul dari balik reruntuhan.
Mauli menggertakkan gigi. "Bodoh. Aku terlalu gegabah."
Dia mengangkat tangan. Walas memancarkan sinar dari telapak tangannya, namun tak cukup kuat. Sinar itu hanya menyambar dua atau tiga makhluk. Sisanya mengepung. Seekor Unu menerkam dan melemparkannya sejauh lima meter. Tubuh Mauli menghantam keranjang dan pecahan kayu. Walas terlepas dari genggaman.
Dengan tubuh gemetar dan penuh luka, Mauli merangkak mencari Walas. Begitu menemukannya, dia mengangkat tangan—membebaskan ledakan cahaya.
Pasar jadi lebih hancur. Bangunan runtuh. Atap-atap ambruk. Tapi para Unu kian menggganas. Mereka hanya menghindar.
"Aku menyesal... kenapa aku datang sendiri?"
Mauli berlari dari kejaran para Unu. Napasnya tak beraturan. Tubuhnya bermandikan peluh. Jantungnya berdetak liar.
WUSHHH!
Unu yang paling cepat melompat, hampir mencabik wajah Mauli. Tapi dia menghindar. Matanya merah karena kelelahan. Dia melawan terus, meski tahu, tak banyak yang bisa dilakukan lagi.
Tiba-tiba...
Pluk!
Asap membumbung. Gas putih mengepul. Beberapa Unu terhuyung.
Bram muncul di balik reruntuhan bersama pasukannya.
"Kenapa tidak meledak?" tanya Mauli curiga.
"Itu gas air mata. Bukan granat."
"Kenapa mereka seperti mabuk? Kalian cekokin alkohol?"
"Bius. Tapi stok kami tipis. Sisanya serahkan pada Tuhan."
Mauli mendengus, mengambil langkah mundur. Beberapa Unu masih mengejar. Mereka limbung, tapi tetap buas.
"Aku sudah banyak membuang peluru," ujar Bram putus asa.
"Beri aku granat!"
Dua granat dilemparkan. Mauli menangkapnya seperti atlet. Mereka berlari memencar, memancing ke arah mereka. Tapi makhluk itu malah menghancurkan kios semangka.
Darah semangka membanjiri lantai. Bau manisnya ironis.
"Biarkan dia mengejarku!" seru Mauli.
Dia merayap naik ke bangunan kecil yang setengah runtuh. Walas ia selipkan di tas. Granat digenggam erat. Unu mengikuti, naik ke atas, mendekatkan mulut besarnya.
Saat itu, Mauli menatap musuhnya lurus. Detik yang mematung.
Lalu...
Duar!
Granat itu meledak di dalam mulut Unu. Bangunan separuh hancur. Debu mengaburkan pandangan. Ledakan itu mengakhiri segalanya.
Saat asap menghilang, tidak ada gerakan lagi. Mauli berdiri perlahan, tubuhnya penuh debu, pakaian compang-camping, tapi matanya bersinar.
Dia menang.
Pasar hancur, iya. Tapi kehancuran lebih besar telah dicegah. Dia menarik napas panjang, mengangkat alis, menatap reruntuhan di depannya.
"Setidaknya... aku masih hidup."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficción histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
