Chapter 37

8 0 0
                                        


Langit jingga membentang luas di atas kepala mereka—seolah senja tak pernah usai. Angin Bit terasa ringan namun asing, membawa aroma tanah yang tak pernah mereka kenal.

"Tempat ini... aneh." Kerinci memicingkan mata.

"Selamat datang di Bit. Rumah para Evolus," ujar Lematang sambil tersenyum miring. "Di sini, manusia bukan sekadar manusia. Kami adalah hasil dari ledakan besar—dari evolusi tanpa kendali."

"Kita mau ke mana?" tanya Mauli.

"Ke rumahku," jawab Lematang santai. "Tenang, atmosfer di galaksi ini lebih sejuk daripada Bima Sakti."

***

Kereta terbang—mirip bus, tapi lebih lebar, lebih cepat, dan... lebih aneh. Di dalam, Evolus dengan berbagai bentuk kekuatan duduk berdampingan. Tampak biasa. Sama seperti wujud manusia biasa.

Mauli masih belum selesai dengan masalah yang sangat personal.

"Kenapa kau hendak meniduri wanita itu?" bisiknya, nada tajam menusuk.

"Dia hanya bercanda, Mauli. Wadari punya selera humor yang... mengerikan," bela Ogan, meski peluh di pelipis membantah ketenangan wajahnya.

"Jika kau bohong, aku akan paksa Aguilar masuk ke perutmu lewat lubang anus." Nada ancamannya lembut—itulah yang justru membuatnya makin mengerikan.

Ogan tertawa kaku. "Ha... ha... noted."

Tiba-tiba... seekor lalat muncul entah dari mana. Ternyata bentuk lalat di dunia ini tidak berbeda dengan dunia mereka.

Suaranya mengganggu, menari-nari di udara seperti DJ setan tanpa irama. Lalat itu hinggap di wajah Mauli—Plek!—dia menepuk tapi meleset. Justru melompat ke bibir Kerinci. Matanya melotot nyaris lepas.

Lematang mencoba menepuknya... PLAAK! Hanya membuat pipi Kerinci merah, pedas... sampai ke tulang sum-sum.

Seorang nenek tua, mungkin berumur 90 tahun. Justru membidik serangga itu dengan telunjuk.

Crasz! Kilatan listrik muncul.

"Busyet!"

Lalat terbakar, hangus, dan ruangan jadi sangit mendadak. "Kau telah mengganggu perjalananku, lalat bodoh." Nenek itu tersenyum seolah habis membakar lilin ulang tahun.

"Nyaris rambutku jadi sate," gerutu Mauli.

"Belutku aman," Kerinci mengelus dada. Semua terdiam, kecuali Mauli yang menatap penuh curiga.

"Belut?" tanyanya.

"Eh, bukan... itu... metafora, ya metafora."

***

Rumah yang megah, bertingkat, dikelilingi lapangan hijau dan patung-patung batu misterius. Tapi tidak ada waktu untuk kagum.

"Saigon tidak di sini," Lematang menatap tajam. "Dia menuju tempat yang kami sebut... Gerbang Kematian."

"Aku yakin dia tahu kita datang," ujar Ogan.

"Bagaimana bisa?" tanya Mauli.

Jawaban itu tak langsung keluar. Karena sementara mereka membahas strategi, Kerinci sedang jatuh cinta pada sebuah cangkir. Cairan merah di dalamnya wangi dan menggoda. Di sebelahnya ada botol kecil dengan cahaya biru yang berdenyut seperti jantung.

Tanpa pikir panjang—ya, Kerinci meminum isi cangkir itu.

"Hmm... agak manis. Seperti sirup sudah kadaluarsa."

Lematang langsung tersentak. "KENAPA KAU MINUM ITU?!"

Kerinci menoleh polos. "Loh, haus... kenapa?"

"Itu... mungkin racun. Sudah empat bulan tidak disentuh siapa pun. Mungkin Saigon sengaja menaruhnya sebagai jebakan."

"Matilah aku." Kerinci langsung duduk, tangan di jidat, tatapan menerawang ke masa depan yang suram.

"Ya Tuhan, beri Hamba umur yang panjang, aku belum sukses... belum... kawin... belum sunat..."

"Apaaa?" Mauli terpana.

"Iya... karena... aku belum siap, takut sama gunting," cakap Kerinci ragu.

"Mungkin belutmu sudah berakar, Kerinci. Hahaha...." Ogan meledek.

"Hai... kau jangan begitu ya. Kau pikir aku saja yang belum sunat. Kau pun belum juga kan? Zamanmu mana ada tukang potong kulit!"

"Oh... ya, karena sudah alot. Senjata dewa pun tidak akan mempan," kata Ogan seperti menyesal.

"CUKUP!"

Lima menit, sepuluh menit... satu jam... Kerinci tidak mati.

Sebaliknya, alih-alih mulai merasa aneh. "Aku... aku melihat banyak gambar. Wajah-wajah. Simbol. Lokasi. Aku seperti... melihat peta hidup."

"Tapi benda ini unik, bercahaya. Apa ini?"

Lematang menatapnya penuh syok. "Itu... Itu Napas Dewa. Koleksi Saigon. Konon itu adalah Gas Urip atau biasa disebut Napas Dewa. Barang siapa menghirupnya bakal memberikan kekuatan luar biasa."

"Dari mana mendapatkan benda ini?"

"Di Bumi kalian, semesta Bima Sakti, benda itu sudah berumur 230 tahun."

Tapi, diam-diam Kerinci memasukkan tabung itu ke saku.

"Dan... cairan itu, Bulor. Konon, itu membuat peminumnya bisa mendeteksi siapa pun di mana pun. Bahkan tanpa teknologi."

Kerinci mematung.

"Cairan itu milik Saigon. Mungkin Saigon telah meminum Bulor. Dan jika benar... dia tahu kita ada di sini."

Diam. Mencekam.

Tak ada angin, tak ada hujan...

"Saigon... dia di dua batu. Seperti makam... tapi bukan. Dia... sedang... menyentuh tanah. Menghidupkan sesuatu."

Suara Kerinci lirih, seperti dalam trance.

"Bagaimana kau tahu?" Mauli tak percaya.

Kerinci menoleh, pupil matanya bersinar. "Aku melihatnya."

Lematang menghela napas. "Efek dari cairan itu telah aktif. Sekarang kau punya kemampuan."

"Di mana dia?" tanya Ogan.

Kerinci menjawab, satu kata:

"Aku melihatnya."

Semua menoleh.

"Apa?"

Kerinci menatap horizon langit oren yang kini mulai meredup. Jauh di kejauhan, dua bayangan batu besar berdiri tegak—dan dari baliknya...

Saigon sedang melakukan ritual terakhir.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang