"Sebaiknya kami pamit, ada urusan yang tak bisa ditunda."
Ogan tiba-tiba!
Ia meraih tangan Mauli. Meski tatapan Mauli menyiratkan keheranan seolah pikirannya masih tertinggal di halaman terakhir. Mula-mula hanya diam, tapi ketika Ogan menyenggol lututnya, Mauli pun berdiri dengan enggan. Buku yang tadinya memeluk matanya ditaruh kembali, wajahnya menegang, separuh masam karena jalinan ceritanya harus terputus di tengah alur.
"Kenapa buru-buru? Ayam gorengnya masih ada," celetuk Singkarak sembari menunjuk piring yang masih menyisakan tiga potong terakhir.
"Ada ukiran yang harus diselesaikan. Kalau tidak sekarang, bisa-bisa besok pun tak rampung," jawab Ogan, senyumnya tipis namun sarat makna.
Jari telunjuknya menyapu pelipis. Raut wajahnya gelisah yang dipoles tekad. Mauli berdiri di belakang, perlahan menarik lengan Ogan seolah berkata, "Ayo, waktumu bukan hanya untuk mereka saja."
"Kapan-kapan kami akan mampir lagi," ucap Mauli, suaranya lembut.
"Tapi aku bisa mengunyah sambil jalan," timpal Ogan, menyambar potongan ayam terakhir. Ia menggigitnya penuh kenikmatan tanpa rasa rikuh, seakan malu telah disimpan di laci paling bawah.
Bak air mengalir tak tahu malu, rasa lapar memang kerap datang tanpa mengetuk.
***
"Kau memang menjengkelkan."
"Memangnya aku salah? Lagipula, sebentar lagi malam turun. Kau tak ingin melihat kembang api?"
Mauli spontan menghentikan langkah...
Menatap langit.
Raut gusar di wajahnya berubah menjadi cerah seketika. Ternyata ajakan Ogan bukan tanpa maksud—tepat seperti yang diharapkan. Senyum mengembang, mencubit lengan Ogan dengan riang.
Mereka melangkah menuju Taman Sehijang, tempat yang sering menjadi saksi bisu kasih muda-mudi.
Mereka terhenti ketika menangkap sosok kecil di pinggir jalan. Seorang anak laki-laki berwajah lusuh berdiri di bawah cahaya lampu toko, memanggul kotak kayu berisi tisu. Wajahnya kusam oleh debu jalanan, namun sorot matanya menyala seperti bara yang enggan padam. Bocah itu tampak masih SD, namun pundaknya sudah menanggung beban seperti orang dewasa.
"Dek, berapa harga tisunya?" tanya Mauli dengan suara lembut, sambil mengambil satu bungkus dari kotak dagangannya.
"Sepuluh ribu," jawab si bocah pelan, nyaris seperti bisikan angin sore.
Mauli mengangguk lalu merogoh isi tasnya. Tapi pencarian dompet di antara tumpukan barang-barang kecil itu menjadi semacam drama dalam kantong ajaib.
Ogan hanya tersenyum geli lalu mengusap daun telinganya sambil menahan tawa yang hampir lolos.
"Sudah, biar aku saja," ucap Ogan seraya menyodorkan uang pas.
Transaksi sederhana itu selesai. Tetapi...
Tatapan bocah itu penuh terima kasih—sebuah bahasa sunyi yang tak butuh kata.
***
"Tunggu sebentar. Duduk dulu," pintanya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Ogan sambil menatap heran, namun tetap menurut. Dalam hatinya, ia tahu, ada kalanya hati butuh jeda, meski tubuh belum lelah. Seperti peribahasa, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, ia tahu, momen kecil seperti ini kadang membuka jalan bagi percakapan yang lebih dalam.
Mauli mengeluarkan tisu. Dengan lembut mengusap sisa minyak yang masih menempel di mulut Ogan. Sinar lampu taman memantulkan kilau dari bibir lelaki itu.
"Kau memang tak pernah berubah," gumam Mauli, penuh kasih.
Ogan hanya menyeringai, menyadari kekonyolannya. Tatapan mereka bertaut sesaat. Mauli mulai menjauhkan wajah, tapi Ogan tidak.
Lelaki itu justru mencondongkan wajah. Jantung Mauli berdetak tak karuan. Tatapan Mauli seperti menangkap ancaman, napas juga tiba-tiba tersengal.
Tiba-tiba...
"Kau kira aku mau menciummu kan?" katanya terkekeh.
"Kau membuat jantungku kacau, huh!"
Mauli memukul bahu Ogan pelan, kesal tapi senang. Mereka pun duduk bersisian. Menyandarkan kepala di bahu lelaki itu.
"Kau tahu? Ini tempat kedua kita saat pertama kali kencan," ucap Ogan.
"Kau masih ingat?"
"Ingatanku masih tajam. Aku selalu menyimpan rapi semua kenangan."
Tak lama...
Syuuuutt.....
Suara letupan terdengar. Menggema seperti denting kejutan dari langit yang sedang bersenandung.
Sebuah kembang api melesat menembus gelap kemudian mekar di udara seperti bunga surga yang sedang menari. Warnanya berpijar—merah, emas, dan ungu—menghias malam seperti lukisan para dewa di atas kanvas langit.
"Lihat!" seru Mauli girang. Matanya berbinar bagaikan bintang kecil yang mendadak jatuh ke bumi.
Mereka menatap langit yang kini berselimut cahaya dan kilau keajaiban. Mauli mengepalkan tangan seolah ingin menggenggam percikan keindahan itu, lalu berbisik, "Indah sekali."
Untuk beberapa saat... Dunia seakan membeku. Tidak ada suara selain gema cahaya, dan tidak ada waktu selain detik yang berdetak pelan di dada mereka.
Namun...
Mauli berkata pelan, "Ayo, kita pulang."
Ia menggamit lengan Ogan dengan hangat seperti akar yang mencari tempat berlabuh. Mereka melangkah pergi, meninggalkan taman dan kembang api, namun membawa pulang secuil kebahagiaan.
***
Langkah mendadak terhenti oleh sosok berjubah safron yang berjalan perlahan dari arah berlawanan. Cahaya lampu jalan menyinari wajahnya yang tenang, seperti danau di pagi hari.
"Jangan terlalu larut dalam dunia," ucap sang biksu, suaranya lembut namun dalam, "Terlena itu ibarat air yang tenang, tak bersuara, tapi bisa menenggelamkan jiwa."
Ogan dan Mauli saling pandang sejenak lantas mengangguk penuh hormat. Sang biksu melangkah pergi, membiarkan kata-katanya tinggal seperti dupa yang perlahan memudar namun tetap meninggalkan wangi dalam dada.
"Siapa dia tadi?"
"Namanya Biksu Tan," jawab Mauli lirih. "Kami pernah beberapa kali bertemu di kuil. Ia tak banyak bicara, tapi sekali berkata... seperti membuka jendela batin."
Mauli menatap punggung sang biksu yang makin menjauh.
"Bijak sekali... seolah kata-katanya punya sayap dan terbang langsung ke hati," ujar Ogan.
Tak seperti pasangan kekinian yang berkendara, mereka hanya berjalan kaki. Namun bagi Mauli, yang sederhana justru lebih bermakna. Sampai di depan rumah, Ogan berkata lembut, "Sebaiknya kau cepat tidur. Besok kau harus bangun pagi."
"Aku pasti bangun lebih awal," janji Mauli.
Mauli menggenggam tangan Ogan, menempelkannya lembut ke keningnya—sebuah isyarat penuh hormat dan kasih, tradisi kuno masyarakat Lamus yang masih lestari di antara waktu yang terus berubah.
Ogan pergi. Ia menyusuri gang-gang sempit yang dibingkai lampu remang, menyeberangi jalan yang mulai lengang hingga akhirnya tiba di sisi jalan utama yang terbentang sunyi di bawah langit malam.
Di kejauhan...
Matanya menangkap siluet seorang wanita bertopi merah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang terasa akrab—lekuk tubuh, cara berdiri, bahkan cara angin memainkan helaian rambut dari balik topi itu.
Semakin dekat... keraguannya sirna... keyakinan tumbuh seiring langkah.
Itu dia.
Wajah yang tak asing, benar! Wajah itu pernah membuat Ogan terpana seketika. Sosok yang pernah pergi... sosok yang sempat menghilang... kini tiba-tiba muncul seperti bab cerita yang belum usai.
"Cika!"
Suara itu memecah malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
أدب تاريخي"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
