Chapter 29

5 0 0
                                        


Gelagat Singkarak tampak mencurigakan. Ia berjalan di tengah rombongan, langkahnya berat, wajahnya tak menunjukkan emosi, dan pakaian serba hitam masih melekat di tubuhnya seperti bayangan masa lalu.

"Begini," katanya, memecah keheningan, "aku bukan pria pemberani. Tidak punya kekuatan super. Hanya mantan berandalan yang bahkan belum pernah berhadapan dengan makhluk aneh apa pun... dewa, batara, asura, atau iblis."

"Pernah. Saat melawan pasukan Bodem, dan itu kini berada di tangan Ogan," sela Mauli, menatap Ogan sejenak. Tatapan itu diikuti oleh tatapan orang-orang lain yang seolah mengamini pernyataannya.

"Ya, itu benar. Dua tahun lalu." Kerinci ikut bicara. "Maksud Singkarak... dia manusia biasa. Tapi sejak menghadapi Tentara Besi, dia tahu satu hal yakni ingin terus melindungi Lamus."

Singkarak mengangguk kecil. "Kau benar. Tapi kita harus pikirkan satu hal—bagaimana cara kita bisa ke Bit."

Hening kembali menguasai. Bukan debat. Bukan pemungutan suara Pilkada. Hanya kebingungan yang berputar-putar di antara mereka.

Sementara itu, Ogan menjauh dari kerumunan. Perasaan tak nyaman membuncah di dada. Ia melangkah sendirian menuju tempat di mana Saigon dahulu membuka portal menuju Angkara—nama itu kini jadi penanda kehancuran.

Namun setibanya di sana, langkahnya terhenti.

"Astaga..." bisiknya lirih. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Apa yang dilihatnya jauh lebih buruk dari dugaan. Tanah tampak hancur lebur, penuh luka dan arang. Seolah langit pernah mengutuk tempat itu dengan api dan amarah.

"Dugaanku tepat," suara Lematang tiba-tiba terdengar. Evolus itu muncul dari balik bayang, wajahnya murung. "Saigon telah berhasil membuka jalan. Dia sudah kembali ke Bit."

Mereka mendekat ke lubang besar yang menghitam. Tanah di sekitarnya gosong seperti bekas pembakaran surga yang gagal. Di sinilah semuanya bermula—portal pertama yang membelah batas antara dunia dan kematian.

"Aku yakin, bangsa Unu kini bersarang di planet ini," gumam Lematang. "Mereka berkelompok... melindungi anak-anaknya."

Ogan mengangguk, matanya menelusuri barisan perbukitan yang membentang seperti punggung naga tidur. "Berapa banyak menurutmu?"

Lematang menatapnya dalam-dalam lalu menjawab dengan satu kata:

"Ribuan."

"Cuma ribuan?" Ogan mendengus, setengah menertawakan. "Aku masih sanggup."

"Ini bukan soal sanggup atau tidak. Ini soal waktu," jawab Lematang tajam.

"Maksudmu?"

"Meski kau bisa memusnahkan seluruh Unu di semesta ini... jangan lupakan satu hal: kekuatan Saigon berasal dari dunia mereka. Kita harus mengatasi keduanya. Unu dan Saigon."

Kepala Ogan terasa berat. Urat-uratnya menegang. Semangatnya sempat menyala, tetapi ia sadar—pertarungan ini jauh dari sekedar pukul dan hancurkan. Ini soal strategi, waktu, dan... pengorbanan.

"Aku pernah lari dari ayahku," gumam Ogan. "Bukan karena takut, tapi karena kami berbeda."

Ia menatap tanah yang hitam, seperti ingin berbicara pada bayangannya sendiri.

"Dia raja dari Dinasti War. Asura terkuat di Pranal yang ingin menguasai dunia. Aku tak setuju. Maka aku melarikan diri, menjadi prajurit Kerajaan Sriwijaya. Usai perang, aku melakukan tapa panjang. Saat bangun, zaman telah berubah—kuda kini berkaki bundar."

Ia menoleh ke arah Lematang, wajahnya melembut. "Mauli... dia yang membangunkanku. Dia wanitaku."

Lematang tersenyum samar. "Aku juga punya kisah. Menjadi evolus bukan hal yang kami pilih. Dahulu kami manusia biasa. Tapi sebuah meteor jatuh, ledakannya menghasilkan cahaya aneh—kami pun berevolusi. Setiap kami berubah, satu kemampuan terlahir, satu kelemahan disingkapkan."

Ia menunduk sejenak. "Maaf... soal waktu itu aku menciummu. Aku merasa... kehadiranku malah membawa bencana."

"Tidak masalah." Ogan tersenyum tipis. "Hanya saja... aku masih belum sepenuhnya paham soal perempuan."

Percakapan itu menguap bersama angin. Di hadapan mereka, hutan terbentang—hijau, lebat, dan tampak tak tersentuh manusia. Namun ada sesuatu yang mengusik, sesuatu yang tak terlihat, tapi terasa.

Lematang mengaktifkan kekuatannya. Ogan memanggil Akuadron.

Mereka terbang, melayang menuju hutan perawan di kejauhan.

Sesampainya di sana, pepohonan menjulang seperti tiang langit. Rumput tumbuh setinggi kepala manusia dan tumbuhan paku menggantung seperti tangan makhluk purba.

Mereka melangkah pelan, waspada. Mata mengintai, telinga tajam.

Ngeekkkk!

Bunyi ranting. Ogan siaga. Lematang mengangkat tangan, mengeluarkan gas dari telapak. Tetapi itu hanya angin yang menyusup di antara dahan tua.

Mereka melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit kemudian...

Pemandangan mengerikan terbentang.

Di depan mereka—sarang Unu. Ribuan ekor, berkumpul, bersusun, berkoloni. Seperti semut neraka yang membangun kerajaan kematian. Beberapa terlihat membawa rumput dan batang pohon, menyusunnya menjadi gundukan seperti gunung kecil. Lalu mereka masuk... dan menghilang dalam kegelapan.

Bau busuk menyambar seperti cambuk petir. Bangkai berserakan. Rusa, sapi, gajah, harimau, bahkan manusia. Daging mereka tercabik-cabik, lalat hijau mengerumuni udara seperti kabut racun.

Lematang menutup mulut kemudian berlari menjauh. "Howek!" Ia nyaris muntah. Ogan tetap berdiri diam, wajahnya pucat, tapi mata tetap menatap lekat.

Satu Unu melahirkan.

Dari tubuhnya yang menggelembung, muncul sepuluh bayi—makhluk kecil berkulit keras, dengan cakar mungil dan mata yang sudah siap menyala.

"Dua puluh puting..." gumam Ogan. "Tak heran kalau sekali lahir mereka bisa mencapai puluhan."

Ia menarik napas panjang, suara tercekat di tenggorokan.

"Ini tidak benar. Ini... mimpi buruk yang lahir dari Bumi."

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang