Aguilar pernah melepaskan energi kelam, membuat tanah ini seperti disapu badai kiamat. Di tengah reruntuhan dan kepanikan, Ogan berdiri terpaku, memikirkan liontin itu. Napasnya berat, tapi tatapannya teguh.
"Aku akan mencobanya."
Mauli, menatap tajam. "Kau tidak ingat, Profesor Garung menggunakannya untuk melenyapkan umat manusia. Kau tahu itu!"
"Aku bukan Garung," Ogan menjawab tenang, menatap Mauli. "Jika aku bisa mengendalikan Aguilar, aku tetap waras. Mungkin... agak waras."
Mauli mendengus. "Agak waras bukanlah kata yang meyakinkan."
Sementara itu...
Lematang tiba-tiba muncul, wajahnya seperti baru saja menelan kabar duka.
"Kerinci," bisiknya pelan. "Aku... Aku minta maaf soal Singkarak."
Kerinci masih terduduk, gemetar. Matanya merah, namun suara tangisnya nyaris tanpa bunyi. "Ini bukan salahmu, Lematang. Dia mati karena menyelamatkanku. Dia pahlawan."
Suasana makin suram.
Tiba-tiba...
Ogan melempar Akuadron ke langit—cahaya menyilaukan membelah angkasa, dan makhluk-makhluk unu terhantam seperti dedaunan ditiup angin. Tapi seperti jamur usai hujan.
Mereka datang kembali... lebih banyak... lebih ganas.
"Aku akan bangkitkan Pasukan Bodem," ucap Ogan, tangannya mengepal. "Dan kita harus hentikan Saigon sebelum semuanya terlambat."
Mauli langsung menarik lengannya. "Kalau kau berubah jahat... kau tidak akan ingat aku."
"Percayalah... Ini bukan akhir. Kau adalah kekasihku, tidak mungkin melupakanmu begitu saja."
Ogan memeluknya. Lama. Hangat. Terlalu hangat hingga... melupakan sejenak ketegangan barang sejenak.
"Ini satu-satunya jalan," bisik Ogan.
Dan muncul pertanyaan paling waras di semesta ini:
"Bagaimana kita ke Bit?"
Ogan tersenyum. "Kau akan terkejut jika melihat ini."
***
Ogan membuka lemari kaca. Aguilar bersinar seperti tahu dirinya akan digunakan—mungkin untuk selamatkan dunia, atau sekadar bikin kekacauan babak dua.
"Semoga saja aku tidak mati!"
Begitu liontin dikenakan, tubuh Ogan langsung diselimuti aura magis. Paduan Akuadron dan Aguilar membuatnya tampak seperti dewa kematian.
"Pasukan Bodem, bangkitlah!"
"BANGKITLAH! Di bawah kekuasaanku!"
Bumi bergejolak. Langit mendung. Suasana mencekam.
Baja dan sihir menyatu. Satu per satu, pasukan Bodem muncul dari tanah, merobek sisi-sisi Bumi yang gelap. Siap bertempur.
BELUM SELESAI.
Ada hal harus Ogan lakukan. Meski Wajah Mauli tegang. Di sana, pasukan yang telah membuatnya gila waktu itu, kini menjadi aliansi. Dunia benar-benar gila!
Ogan, duduk bersila seraya memegang Akuadron. Melayang sambil membaca mantra. Menghubungkan energi telepati untuk seseorang.
Muncul sebuah portal misterius. Membuat Mauli kagum. Mungkin itu lubang neraka? Atau hanya gerbang kematian?
Tidak.
Itu adalah portal antar dimensi, semesta, dunia atau hanya antar wilayah. Melangkah seorang wanita cantik. Layak disebut Bidadari dari Surga—anggun, wangi serta menggoda.
Menatap Ogan seperti bertemu mantan yang belum bayar utang.
"Kenapa kau panggil aku?"
"Hem... Apa kabar, Wadari?" Ogan terlihat canggung. Sesekali menatap Mauli yang mematung.
"Tidak usah basa-basi. Aku tahu maksudmu mengundangku datang ke sini."
"Baik. Aku butuh bantuanmu. Aku sedang mengalami ke sulitan. Aku tahu kau bisa menciptakan pintu antar dunia, aku rasa aku butuh portal menuju ke Bit. Mungkin sebuah galaksi di luar Bima Sakti."
"Hanya butuh ketika perlu. Hampir seribu tahun menghilang. Astaga... klasik."
"Maafkan aku, Wadari. Asal kau tahu, selama itu aku tertidur dalam tapa panjang. Sehingga melupakan semuanya, dunia, dirimu hingga kerajaan yang agung lenyap seketika."
"Baiklah."
Wadari mengayunkan selendang. Dalam sekejap, segerombolan Unu terikat dan tercerai-berai.
"Luar biasa!"
"Aku pikir kau sudah melupakanku," ujar bidadari itu menatap meski bibirnya manis.
"Bukan kabur, itu... strategi evakuasi." Ogan membela diri.
"Sejujurnya aku rindu dengan selendangmu. Dia pandai meliuk-liuk, melilit musuh, melempar dan..."
"Aku ingat sekali terakhir kau bilang begitu hampir meniduriku."
Uups!
Gawat...
Ogan tersenyum kaku.
Wadari lanjut, "Bukankah kau—"
"CUKUP!" sentak Ogan. Tapi sudah terlambat.
Mauli tidak tahan lagi ingin marah. Bagaimana tidak? Seorang wanita, cantik lalu mengumbar aibnya sendiri bahkan itu menimbulkan petaka. Tak terima. Api cemburu menjilat. Membara. Berkobar.
"APA?! Kau berani hampir meniduri wanita lain?!"
Ogan gelagapan. "Itu tidak benar! Ups... itu hanya salah paham. Wadari terlalu berlebihan."
"Berlebihan pantatmu!" Mauli mengacungkan tangan. Wajahnya seperti singa lapar.
Namun... "Berhenti! Kita sedangkan dalam darurat. Singkirkan dulu masalah kalian. Setelah masalah ini selesai, kalian boleh baku hantam. Itu pun jika selamat." Lematang berdiri seolah menjadi wasit.
***
Di ambang keberangkatan... Kerinci menggenggam senjata. Rasa ingin ikut besar. Tak mungkin dia menghadapi para Unu lapar sendirian. "Aku ikut."
"Aku juga. Kau butuh pemandu," Lematang menimpali.
"Aku... belum selesai ngomel!" bentak Mauli, tapi ikut berdiri.
"Terserah kalian."
Sementara, pertempuran masih berlangsung. Pasukan Bodem masih gencar melawan, ribuan Unu kocar-kacir. Tetapi, belum cukup. Mati satu, tumbuh seribu. Bahkan saking banyaknya justru terlihat seperti pesta rakyat.
Portal mulai menutup.
Ogan menatap Wadari dan melempar komentar terakhir yang entah kenapa ingin menampar diri sendiri.
"Aku suka selendangmu..."
Wadari menoleh sambil menyeringai, "Benar. Tapi kau tetap hampir meniduriku, bukan?"
Suara portal menutup.
"OGAN!!!" suara Mauli menggema... dan petualangan pun dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
