Chapter 35

7 0 0
                                        


INI BELUM BERAKHIR.

Unu terus bermunculan—seolah langit menagis dengan tetesan yang tak terbatas. Menghantam dari segala penjuru dengan mata menyala, haus darah dan amarah.

Alih-alih...

Ogan dan Mauli sibuk berseteru seperti dua ekor kucing yang mempertahankan wilayahnya. Mereka tidak sadar bahwa maut sedang menjemput.

"Mauli... dengarkan aku... lihat sekelilingmu!"

"YA AMPUN..."

Mereka menyatukan punggung, menatap setiap gerak Unu kelaparan. Tidak ada debat, tidak ada adu mulut, semua fokus, badai ancaman hanya selangkah saja.

Dan mereka? Akan melahap apa pun yang dilihat.

Mauli menggigil, tubuhnya nyaris lunglai. Antara takut dan lelah, tak bisa dibedakan. Tapi satu yang pasti: Hanya ingin semua ini berakhir, menghirup udara segar sambil menikmati sup buah.

"Aku gugup... mereka begitu banyak. Adakah cara untuk melawan mereka?" bisik Mauli, suaranya nyaris lenyap ditelan gemuruh langkah para Unu.

"Kau kebanyakan marah, marah... dan marah..." Kalimat balasan yang nyelekit, tajam.

"Is dah!" Mauli menyikut keras. Tapi Ogan malah terkekeh.

"Jika mereka memakanku, pasti akan dimuntahkan. Dagingku pahit," ucap Ogan sambil senyum, senyum dendam.

Melangkah seraya mengacungkan tongkat seperti pahlawan terakhir dari zaman yang dilupakan. Dengan keberanian membatu, menghantam moncong Unu. Buak! Raungan menggetarkan langit.

Tapi itu belum cukup.

Dari sisi lain, Lematang tiba langsung mengendalikan elemen tak berwarna—seakan udara pun tunduk padanya. Unu terpental, seakan ditendang oleh Bumi.

"Terima kasih," ucap Ogan singkat.

Namun Mauli memicingkan mata.

"MAAF! Harus kukatakan... aku bukan ancaman bagi hubungan kalian," gumam Lematang.

"Aku hanya mencari keadilan, Mauli."

Lematang melayang seperti bayang-bayang memutus napas dua Unu.

Sepertinya pemanasan telah usai. Saatnya Mauli bertindak setelah Lematang unjuk gigi. Dengan wajah geram ke sisi Unu yang lain. Ogan, seolah mengerti, menyelesaikan sisanya.

Akuadron melesat seperti petir, satu demi satu membasmi predator. Dan dari semua itu, satu hal tak terduga terjadi.

Ogan mendekat.

Tanpa aba-aba, tanpa kata pengantar, ia mencium kening Mauli. Romantis. Sederhana. Tapi tidak semua bisa. Cukup mengguncang jiwa. Senyum Ogan itu tulus dan sederhana.

Mauli menatap tak percaya.

"Kau dengar? Lematang itu hanya teman... seperti Kerinci, dan Singkarak."

"A-apa? Aku tidak tahu apa yang kau katakan..." jawab Mauli, pura-pura tak paham. Tapi hatinya? Meledak dalam diam.

"Kau jangan coba-coba merayu, Ogan."

Pergi dengan senyum yang coba disembunyikan, tetapi terlalu lebar untuk disangkal. Langkahnya salah, seperti pertama kali mendapatkan kejutan.

***

Lematang dan Kerinci bahu membahu. Lematang melambungkan Unu ke langit, Kerinci mengincar leher—titik lemah. Kerinci berkelit dari serangan, jatuh, tapi tembakannya tepat. Ia menghela napas, menempelkan kepala ke tanah, lelah tapi belum selesai.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang