Chapter 15

4 0 0
                                        

Chapter 15

"Tapi sayang sekali... Menghadapimu sama saja buang-buang waktu."

Blip!

Saigon lenyap.

Entah melarikan diri karena gentar...

Atau tengah menata langkah untuk rencana berikutnya—yang jelas, kepergiannya membuat udara di sekeliling terasa sedikit lebih lapang. Seperti kabut pekat yang baru saja terbelah cahaya pagi, sesaat saja.

Kerinci menghampiri Lematang yang bersandar pada batang pohon tua, napasnya masih berat, wajahnya penuh luka, namun tatapannya tak kehilangan cahaya.

Ogan melihat sang kekasih di ujung sana. Tak berdaya.

"Mauli!"

Ogan mendekat. Menyakasikan bahwa Mauli seperti gelandangan. Wajahnya dipenuhi debu dan darah kering—seperti mayat yang tertidur lama di bawah tanah yang dingin.

"Mauli, kau tidak apa-apa?"

"Iya, aku baik-baik saja," sahut Mauli dengan nada iba.

Ogan mendudukkan diri, menopang kepala Mauli di atas paha. Napasnya tercekat ketika menyentuh pipi kekasihnya yang dingin. Namun nadi di leher Mauli masih berdenyut pelan bagai bisikan harapan di tengah sunyi.

Namun... Ogan menangkap pergerakan ganjil.

Dia...Akuadron meluncur hebat bagaikan peluru. Ia, seperti dendam belum usai, sehingga ingin mencelakai Lematang lagi.

"Jangan!"

"Akuadron, jangan!"

"Akuadron... Aku minta sekali saja dalam hidupku, berhenti! Dia bukan musuhmu!"

Mendadak Akuadron berhenti bak waktu telah mati seketika.

"Tidak apa-apa, Ogan. Akuadron merasa dia masih ancaman. Dia sudah berhenti," kata Mauli.

Mauli mengangguk lemah, duduk perlahan, tangannya memegang kepala yang terasa berat seperti membawa beban kesalahan. Air isak menyembur dari sudut matanya.

"Maafkan aku... aku... seharusnya tidak menyerahkan energi itu padanya. Aku... aku telah membuka simbol itu, jalan baginya..."

Ogan menatapnya lembut. "Dia hanya memperdayamu dengan sihir. Itu bukan salahmu."

Lematang mendekat. "Saigon akan menuju pusat kota... membuka portal untuk menyerap kekuatan yang lebih dahsyat. Energi yang barusan hanyalah penguat. Kekuatan sebenarnya ada di balik Kandang Unu."

"Portal?" tanya Kerinci dengan dahi berkerut.

"Portal kematian. Tapi bukan hanya pintu... itu adalah kunci bencana," sahut Lematang dengan nada pahit. "Jika itu terbuka, makhluk-makhluk dari dimensi gelap akan keluar dan membantai siapa pun yang mereka temui. Saigon akan menyerap energi dari mereka. Dia tidak akan lagi menjadi evolus. Dia akan menjadi... sesuatu yang tak bisa dikalahkan oleh apa pun."

Semua terdiam.

Angin lewat membawa bau darah dan tanah hangus.

"Kitabnya!"

Mauli. Ia berdiri tergopoh, menoleh ke segala arah.

"Cari Walas! Cepat!" teriaknya.

Ogan dan Kerinci segera membantu, membongkar puing demi puing. Mauli menatap sesuatu—kilauan kecil yang tak serupa batu. Ia mengorek dengan tangannya yang berdarah. Dari kedalaman tanah, ia menarik Walas yang masih utuh.

Ia membawa kitab itu ke Lematang. "Bagaimana menggunakannya?"

"Bacalah mantra di bawah simbolnya. Tapi... lakukan sebaliknya dari saat kau mentransfer energi." Lematang menatap Mauli dalam-dalam. "Hati-hati. Salah langkah... bisa membuatmu terserap ke dalamnya."

Ogan dan Kerinci saling pandang. "Kau ikut?" tanya Ogan.

"Aku takkan pergi sebelum ini selesai," ujarnya "Lagian... aku kan sudah terlanjur ikut sejauh ini."

"Baik," Ogan mengangguk kemudian bertanya pada Lematang. "Apa yang akan terjadi jika kita gagal menghentikan pembukaan portal itu?"

"Lamus akan menjadi lautan darah. Kota itu akan menjadi gerbang neraka."

Diam.

Semua terdiam.

Mauli menggenggam kitab erat bagai menggenggam nasib seluruh negeri.

Langkah mereka terbata-bata. Namun, sebelum benar-benar pegi...

"Tunggu... bolehkah aku ikut bersama kalian?"

Langkah Ogan terhenti. Ia menoleh dengan mata sempit.

Kerinci lebih dulu menjawab. "Tentu! Kita harus lakukan ini bersama-sama."

"Jangan!" Ogan membentak. "Dia yang membuat Saigon menjadi monster! Dia bisa saja membunuh kita di belakang!"

"Tetapi aku tak ingin ini terjadi. Aku tak pernah benar-benar setuju sejak awal. Aku sadar dan menyesal."

Ogan tetap diam. Tetapi Mauli menatap Lematang, matanya menyipit, menahan bara cemburu yang samar namun tak bisa disembunyikan.

"Aku cuma minta satu kesempatan," ucap Lematang tulus. "Jika aku jahat, aku sudah membunuh Kerinci tadi."

Kerinci mengangguk. "Dia bantu kita. Dia bahkan beri tahu cara menghentikannya."

Ogan menghela napas panjang. Diam sejenak. Lalu berkata pelan, "Baiklah."

Kerinci tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Lematang menunduk seraya mengucap terima kasih lirih.

"Sebelum kita melangkah," ucap Lematang, "aku ingin jujur. Namaku bukan Cika. Nama asliku... Lematang."

"Sudah aku duga," bisik Ogan.

"Iyah... tentu saja kau bukan Cika," balas Mauli sedikit kesal.

Ogan dan Kerinci saling menatap. "Itu bisa kita bicarakan nanti. Tetapi bencana sudah menanti," ucap Ogan dingin.

Ogan tak berkata apa-apa. Tetapi dari wajahnya jelas—belum sepenuhnya memaafkan. Bukan hanya karena Lematang, tetapi karena situasi ini... adalah perang antara cinta, dendam, dan kebenaran yang tak lagi bisa dibedakan.

Mereka melangkah ke arah takdir. Ke arah api yang belum padam.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang