Kegaduhan pecah.
Sejumlah Unu mengamuk di tengah kota. Mereka mencabik tatanan, mengganggu warga yang tengah beraktivitas. Suara keributan memanggil tiga manusia di lokasi sekitar. Ancaman telah datang.
Dan kali ini... Lematang tak mungkin tinggal diam.
"Kali ini, aku tidak akan mundur," ucapnya lantang, suara bagai kobaran api.
Namun belum sempat langkahnya mantap, Mauli dan Lematang melongo. Kerinci kabur.
Ya, lelaki itu melesat pergi begitu saja, meninggalkan mereka di hadapan kawanan Unu. Sungguh... konyol.
"Baru juga kita jadian, sekarang kau tinggalin aku sama makhluk-makhluk busuk ini?" ceplos Lematang, setengah muak setengah bingung.
Orang-orang berlari kalang kabut. Wajah mereka pucat disertai sorot mata ketakutan. Kawanan Unu kian mendekat. Lematang tahu, waktunya tidak banyak. Ia menghirup dalam lalu memancarkan gas dari tubuhnya ke arah sebuah warung sate.
Sekejap kemudian... fwoosh!
Lidah api menjilat udara. Api itu kini dalam kendali Lematang. Ia menjadikannya pedang sekaligus perisai.
"Astaga..."
Mauli terpana. Sosok Lematang tampak seperti dewi api, evolus dari semesta Bit yang kini malah membela manusia.
Grrr!
Tiga ekor Unu menggeram ganas. Lematang tak gentar. Ia menghimpun tenaga kemudian menyemburkan nyala api. Tubuh makhluk itu membatu, diam ketakutan. Kobaran api menyala hebat, cukup menjadi tameng pelindung.
Namun ancaman belum usai. Lima Unu lainnya mengepung. Walau sedikit takut, makhluk-makhluk itu terlalu keras kepala untuk mundur.
Suara keras melengking dari tenggorokan. Sekuat tenaga, Lematang memuntahkan gas—dan terbentuklah lautan api. Namun sayang, tenaga itu membuat tubuhnya goyang. Meski api menyala hebat, Unu tetap melaju. Mereka lapar. Mereka pemburu. Mereka haus daging manusia.
Seperti disambar petir, tubuh Lematang terpental—menabrak dinding ruko dengan keras. Terkapar, suara rintihnya lirih. Luka menghiasi, namun matanya tetap nyala. Ia berusaha bangkit, meski langkahnya gontai.
Tiba-tiba...
Dor! Dor!
Boom!
Langit seolah runtuh. Sosok seragam hitam muncul dari balik asap—Kerinci, kini tampil serba hitam. Tangannya menggenggam senjata, matanya menyala.
"Jangan panik, Mauli. Aku kembali," ucapnya dengan suara mantap.
Di belakangnya, pasukan berseragam datang—Komandan Bram dan anak buahnya. Peluru panas menghujani udara. Letusan demi letusan mengguncang jalanan. Unu terkejut, mereka tergagap. Tapi pertarungan belum selesai.
Lematang tertegun.
"Dari mana kau dapat semua itu?"
"Inilah aku yang sebenarnya," jawab Kerinci, maju tanpa ragu.
Kerinci, Lematang, dan Mauli—bahu-membahu menghadapi makhluk-makhluk buas itu.
Lematang menggunakan strategi. Ia menyuntikkan gas metana ke tubuh salah satu Unu. Ini bukan serangan biasa. Ini adalah bom berjalan. Bram tak menyia-nyiakan peluang. Ia menembakkan bazoka—peluru mengarah tepat mengenai.
Boom!
Satu Unu hancur lebur. Dua lainnya terpental, menabrak deretan ruko hingga roboh. Ledakan menyapu jalanan sehingga menyebabkan kerugian yang tak terhitung. Tetapi ini satu-satunya cara.
Kerinci berlari ke sisi kiri, mengarahkan senapan ke leher Unu. DOR!
Tepat sasaran. Makhluk itu tumbang, darah mengalir deras.
"Awas!"
Lematang berteriak ketika Unu lain menerjang Kerinci. Pria itu melompat, berbalik kemudian melepaskan tembakan. Lematang pun menyembur gas, meledakkan angin kuat yang membuat makhluk itu terangkat.
Kerinci tak menyia-nyiakan momen. Ia melempar granat. Ledakan terjadi saat Unu menyentuh tanah. Lehernya robek, darah dan daging mentah berserakan.
Namun di sisi lain...
Seorang polisi tak seberuntung itu. Ia tersedot ke dalam mulut Unu. Tapi sebelum benar-benar ditelan, ia menarik pin granat di sabuknya.
Brakk!
Unu itu roboh dengan asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
"Kau mati sebagai pejuang," ucap Bram, menatap jenazah anak buahnya dengan sorot sendu.
Di sisi lain, Mauli menembak tanpa arah. Tubuh Unu terlalu besar, langkah Mauli terlalu lamban. Ia hanya membuang peluru. Tatapan Unu tajam—membara dengan dendam. Kini Mauli jadi buruan.
Unu menerjang, menendang segala yang menghalangi: kursi, motor, bahkan mobil. Lematang mencoba memberi tekanan, tapi makhluk itu lincah. Kerinci ikut menembak, tapi Unu terus berkelit dengan bagian tubuhnya yang keras seperti baja.
"Mauli, lari!"
"Kau pikir aku sedang jongkok?!"
Mauli kesal. Keringat membasahi wajah dengan napas tak teratur. Namun ia terus berlari meski kekuatannya menipis.
Unu mendekat. Napasnya di tengkuk. Beberapa kali wanita itu hampir tergigit.
Jreng!
Langit terbelah.
Sosok berotot meluncur dari langit seperti dewa petir. Tongkat pendek di tangannya menghantam tanah. Energi memancar bagai badai.
Ogan telah tiba.
Ia berdiri di hadapan Mauli—yang kini kehabisan tenaga, rambut awut-awutan, tubuh gemetar.
"Tenang saja. Aku tak akan biarkan kau disentuh oleh keong racun itu," ucapnya.
Ogan melangkah maju sebagai benteng terakhir. Suara geraman Unu menggema. Ogan melompat tinggi ke langit. Tongkat saktinya—yang konon bisa membelah gunung—diayunkan ke arah makhluk itu.
DUAARRR!
Satu pukulan menghancurkan kepala Unu. Tidak tersisa apa-apa selain darah dan daging. Dalam radius 20 meter, angin besar berputar seperti topan. Mauli, Kerinci, Lematang, dan Bram menutup mata, terlindung dari semburan energi.
Ogan mendarat seperti pendekar turun dari gunung.
Ia telah kembali. Dan pertempuran... baru saja dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
