Chapter 21

5 0 0
                                        

Langkah Kerinci terdengar pelan, seolah-olah berat untuk melangkah. Ia menuju warung Nek Sowah—tempat langganan membeli kemplang, makanan renyah yang seakan mampu meredam riuh di kepalanya. Entah angin dari mana yang berhembus, tiba-tiba saja keinginan menggigit kemplang itu datang tanpa permisi.

"Nek, aku beli kemplang satu," ujarnya pelan.

Alih-alih langsung meraih pesanan, Nek Sowah justru menyipitkan mata, alisnya terangkat tinggi seakan membaca isi kepala Kerinci. Ada yang janggal. Benar. Baginya, kemunculan Kerinci kali ini tidak biasa.

"Nek!" ulang Kerinci, nadanya mendesak. "Aku mau beli kemplang, satu saja, Nek."

"Perempuan mana yang membuat hatimu gelisah?" sahut Nek Sowah, nada suaranya tajam tapi lembut, seperti embun yang menyimpan mata pisau.

"Lho? Maksud Nenek apa? Aku cuma mau beli kemplang, bukan rebutan warisan," Kerinci membela diri.

Plak! Sebuah centong kayu mendarat tepat di kepalanya.

Kerinci meringis sambil mengusap kepala. Sorot mata Nek Sowah kini tajam seakan bisa menembus tulang rusuk.

"Kalau sudah begini, pasti karena perempuan. Betul?" tanyanya, gerak tubuhnya maju setapak.

"Betul," jawab Kerinci, pelan, nyaris seperti gumaman. Ia tak berani melawan. Takut kualat.

Dengan helaan napas berat, Nek Sowah meraih satu plastik kemplang, menyerahkan tanpa banyak bicara. Kerinci memberikan selembar uang dan melangkah pergi, tanpa menoleh ke belakang.

Dua sejoli yang sedari tadi menunggu hanya bisa saling pandang. Si perempuan, memakai bandana merah muda, bertanya penasaran, "Dia anakmu?"

"Memangnya dia mirip denganku?" timpal Nek Sowah seakan tak percaya.

"Cucumu?" Perempuan itu tidak puas atas jawaban Nek Sowah yang sepontan.

"Dari mana kalian berpikir jika Kerinci adalah anakku? Cucuku? Aku hanya bertanya apakah dia mirip denganku, kau tidak menjawab."

"Maaf! Aku tidak tahu. Aku hanya bertanya karena kalian begitu akrab."

"Bukan. Dia cuma pelanggan," tegas Nek Sowah, sambil menata dagangan.

"Baiklah." Mereka pergi membawa ketidakpuasan.

***

Kerinci berjalan sambil membuka plastik kemplang kemudian mematahkan satu—lingkaran putih dengan bercak cokelat yang dipanggang sempurna. Ia mengunyah pelan seraya memperpanjang rasa. Saat bungkus itu kosong, lantas dibuang ke tong sampah. Begitu ia berbalik, sesosok berdiri di sana.

Lematang.

Tampak seperti malaikat yang turun dari langit sore: rambut panjang tergerai diterpa angin, wajah kerincing tak tersentuh duka, senyum tipis di bibir mungilnya.

"Sedang apa kau?" tanyanya.

Namun Kerinci justru menjawab dengan nada getir, "Pertanyaanmu salah. Harusnya: telah melakukan apa kau dengan Ogan?"

"Hah?" dahi Lematang mengerut.

Kerinci membeku. Ia sadar ucapannya tak ubahnya seperti cermin dari kecemburuan. Tatapannya masam, dan itu tak bisa disembunyikan. Padahal, Lematang hanya ingin mengenal Ogan lebih jauh—atau setidaknya, itulah yang dikira.

"Hai, kau mau ke mana? Mungkin... kita bisa makan siang bersama?" tawar Lematang, menarik lengan Kerinci yang hendak menjauh.

"Mungkin kita harus bicara," ujar Kerinci, lirih.

"Aku juga," jawab Lematang. Tatapannya jujur.

Mereka berjalan berdampingan, langkah mereka sejajar seperti dua hati yang pelan-pelan menemukan ritmenya.

***

Mereka tiba di restoran Rumah Makan Padang.

Pelayan perempuan datang. Rambutnya pendek, wajahnya oval, kulitnya cerah bersih. Dengan sopan ia menyapa.

"Selamat sore, Kak. Selamat datang di Restoran Siang-Malam."

"Iya." Jawab mereka serantak. Lematang melebarkan senyum sedangkan Kerinci hanya mengangguk. Dua orang pelayan laki-laki sedang menghidangkan dua porsi nasi putih serta berbagai menu masakan khas Kota Padang.

"Minumnya apa?" tanya pelayan perempuan itu dengan ramah, bersiap mencatat.

"Es teh saja, dua," jawab mereka serempak. Setelah itu pelayan itu hengkang.

Sekilas, mata mereka bertemu. Sekilas pula, dunia terasa aneh dan janggal. Lematang mengelap wajah dengan tisu sedangkan Kerinci mengetuk-ngetuk meja, pura-pura sibuk.

Tak lama. Seorang pelayan laki-laki membawa dua gelas es teh manis yang siap melepas dahaga. Mereka langsung menyantap, dalam diam, tanpa basa-basi.

Tiba-tiba, di sela kunyahan, Kerinci bersuara, "Rendang ini enak. Sejak kapan kau suka makanan seperti ini?"

"Sejak pindah ke sini. Duniamu... indah dan menarik."

Kerinci menoleh. "Kau ini sebenarnya supraloka, ya? Dari dunia mana kau berasal?"

Lematang tersenyum samar. Kepalanya tertunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia menyapu rambut dengan jari, duduk tegak, menatap Kerinci.

"Kau serius sekali. Tidak takut jika ternyata aku makhluk supraloka sungguhan?"

Kerinci menelan ludah. Lalu dengan lantang dan berani, ia berdiri.

"Lematang, aku suka padamu! Aku tak peduli kau siapa, dari mana asalmu. Aku hanya butuh seseorang yang bisa melengkapi hidupku!"

Kalimat itu melayang ke udara, menghentak ruang makan. Beberapa pengunjung menoleh, pelayan menahan napas. Lematang tergagap, buru-buru menarik Kerinci duduk kembali.

"Husssh! Jangan keras-keras. Orang-orang melihat kita," bisiknya, malu.

"Apa maksudmu, Kerinci? Kita bahkan belum lama kenal."

"Tapi aku tidak yakin... kau jadi kekasihku."

"Kenapa alasannya?" Lematang mengernyit.

"Bukankah kau lebih suka Ogan? Dia prajurit gagah. Sedangkan aku bukan siapa-siapa."

Lematang akhirnya menghela napas panjang. Wajahnya menegang. Ia pun mengungkapkan segalanya—tentang misi Trah Sriwijaya, tentang kedekatannya dengan Ogan, dan alasannya mendekat: demi informasi, demi memenuhi keinginan kakaknya, bukan karena cinta.

"Aku butuh bantuanmu, Kerinci. Kita semua harus kerja sama."

Kerinci menatapnya, mencoba memahami.

Seperti petir menyambar langit cerah, seseorang muncul. Sosok perempuan yang dikenal baik oleh keduanya. Mauli.

Ia berdiri tegak, tangan melipat, wajahnya datar tapi matanya tajam. Dan dengan nada datar yang menusuk lebih dari belati, ia berkata:

"Dia pernah mencium Ogan."

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang