Bukannya menjauh, alih-alih mereka malah ikut menatap ke arah sosok gelap di balik kaca. Tatapan terpaku, antara tak percaya dan ngeri, seolah waktu berhenti berdetak. Makhluk itu berdiri tegak, matanya menyala penebar ketakutan, suaranya menggeram dalam nada kematian.
Grrr!
Unu itu menggeram makin keras kemudian menubruk pintu kaca dengan buas.
Brak!
Pintu bergetar hebat, retak, tetapi masih kokoh. Semua orang menjerit tertahan. Suara itu cukup keras untuk membangunkan Sangkut dari pingsannya. Kesadarannya baru setengah, dan yang pertama dilihat adalah teror.
"Aaaak!" jerit Sangkut, menggeliat seperti cacing kepanasan dan menjauh sambil menyeret tubuhnya sendiri ke belakang. Ruangan berubah kacau. Barang-barang jatuh, debu beterbangan, dan udara mengandung ketakutan yang mengeras.
"Tenang! Kalian harus tetap tenang, jangan panik... itu bisa memancingnya!" seru Mauli dengan suara keras namun gemetar, berusaha meredam kekacauan yang meledak dari setiap dada yang ketakutan.
Namun terlambat.
Brakkk!
Pintu kaca akhirnya pecah. Suara ledakan serpihan memecah ruangan. Unu itu berhasil masuk. Meski sebesar kerbau, namun gerakannya cepat seperti singa lapar. Ia melompat, siap menerkam.
Jeritan pecah ke segala arah.
Namun, anehnya, makhluk itu tak bergerak lebih jauh. Tubuhnya seperti terseret ke belakang. Ia berusaha maju, mencakar lantai, melolong, tetapi tak bisa. Semua mata menatap bingung.
Ekor makhluk itu tersangkut sesuatu.
Tidak! Bukan tersangkut. Ditahan.
Seseorang mencengkeram ekor itu dengan tangan kosong. Sosok itu berdiri gagah di balik kabut debu seperti dewa perang yang baru turun dari langit.
Ogan.
Ototnya menegang, matanya tajam, seolah waktu tak berlaku baginya. Hanya satu gerakan, ia melempar makhluk itu keluar toko seperti melempar karung. Tubuh Unu menghantam aspal, terguling hebat.
"Pak Bos!" Sangkut berseru sambil mengelus dadanya lega. Jira terpana, matanya berkaca-kaca melihat bos mereka seperti pahlawan dalam cerita silat.
Ogan menghampiri Mauli. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut namun tegas.
"Aku baik-baik saja." Mauli mengangguk pelan.
Tanpa menunggu lama, Ogan mengomando, "Semua keluar! Tempat ini sudah tidak aman."
Mereka bergerak cepat. Seisi toko digiring keluar seperti kawanan domba menghindari serigala. Ogan menoleh pada Sangkut.
"Ke mana Borobudurnya?"
Sangkut tergagap. "Sudah dibeli... sama ibu-ibu arisan."
Ogan hanya mendesah panjang. "Cepat, kita bergerak ke arah kiri."
Namun, Unu yang tadi bangkit lagi. Matanya menyala dengan amarah. Dari arah berlawanan, muncul Akuadron—senjata hidup yang menyatu dengan kekuatan Ogan.
Puluhan mata terpaku melihat kedatangan tongkat bercahaya itu. Seperti peluru melesat, Akuadron menuju tuannya.
Ogan menggenggamnya erat.
"Bangsa Unu... makhluk menyebalkan," gumamnya.
Hap!
Ia mengayun Akuadron keras. Unu itu terpental, menghantam deretan kios, merobohkan bangunan kecil. Tetap saja, makhluk itu belum mati. Ia bangkit membawa dendam, lebih buas dari sebelumnya.
Ogan tak tinggal diam. Ia berlari, mengambil ancang-ancang. Dengan tumpuan kaki kanan, tubuhnya melesat ke udara. Namun, di tengah lompatan, Unu lain menyambar dari samping!
Braakkk!
Tubuh Ogan terlempar ke kios kecil bertuliskan Pempek Kapal Terbang Wak Pengot.
"Ugh!" desahnya tertahan, menahan sakit.
Saat bangkit, dua Unu lainnya menghadapinya. Lalu dua lagi muncul dari sisi lain. Empat Unu mengepungnya.
Mauli, menyaksikan dengan menahan napas. Namun dia punya tugas yang lebih diutamakan daripada menolong Ogan—harus menuntun warga menjauh.
Di tengah kepungan.
Ogan dan Akuadron seperti menari di antara bayang maut. Ia menarik kepala Unu, menghantamkan dengkul ke wajahnya. Yang satu tumbang kemudian melompat ke Unu lain, mengayun Akuadron.
Krak!
Tubuh keras itu retak, darah kehijauan muncrat seperti cairan air pandan.
Unu lain mencoba menerkamnya, tetapi Ogan membalik arah dan menghantam kepala. Makhluk itu terhempas ke bangunan setengah jadi.
Ogan melesat, bertumpu di punggung Unu kemudian menarik ekornya, dan melempar tinggi—ke arah Akuadron yang melayang seperti bintang jatuh.
Duar!
Tongkat sakti itu menghantam leher Unu. Bunyi retak terdengar jelas. Lehernya bolong. Tubuhnya jatuh dengan suara berat.
"Rasakan itu!" seru Ogan.
Berdiri gagah, tubuhnya terdapat goresan dengan darah hitam yang kental. Namun, sorot matanya tak berubah: panas dan penuh tekad.
Kini tinggal satu. Unu terakhir berhadapan langsung dengan Ogan. Tatapan mereka saling mengiris. Mata merah melawan cahaya permata yang menyilaukan.
Langit berpendar.
Angin menari di sekitar mereka, seolah dunia tahu: ini adalah pertarungan maut.
Ogan mengangkat Akuadron tinggi-tinggi. Cahayanya menyala seperti matahari kecil.
"Kau akan merasakan pukulan terhebat di semesta ini. Kekuatan yang bisa membelah gunung!" serunya.
Ia menghantam tanah di hadapan Unu.
BOOOM!
Tanah berguncang. Energi membelah udara. Ledakan tak terlihat menghantam tubuh makhluk itu.
Unu terbelah dua—seperti bolu yang dipotong pisau baja. Tubuhnya terjatuh tanpa nyawa. Hening.
Empat Unu mati, tubuh mereka berserakan.
Namun Ogan tidak tersenyum. Ia menatap kehancuran yang ditinggalkannya. Bangunan rusak, jalan hancur, toko berantakan. Tangannya mengepal.
"Maaf, Pak Walikota..." gumamnya lirih. "Aku hancurkan kotamu demi menyelamatkan rakyatmu."
Langkahnya mantap, tapi di dadanya—tersisa beban yang belum selesai.
Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah Unu hanyalah awal dari ancaman yang lebih besar?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficción Histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
