Dua porsi Sate Lamus siap santap. Dua gelas es jeruk peras menggoda dengan warna kuning dan butiran es yang mengapung, memantulkan cahaya siang yang terik.
Dua pasang mata saling berhadapan dengan syahdu. Lematang, terus menatap—tanpa kedip. Seperti ingin menyelami isi pikirannya. Ogan salah tingkah, senyum-senyum sendiri sambil terus mengaduk minuman. Bunyi denting es kristal di dalam gelas menjadi musik latar pembicaraan mereka.
"Kenapa kau menatap seperti itu?" tanya Ogan, heran tapi mencoba tetap tenang.
"Hem... tidak ada. Boleh aku tanya satu hal?" balas Lematang.
"Apa itu?"
"Apa benar kau prajurit terakhir Sriwijaya? Aku sempat bertemu Kerinci, dia bilang kau punya hubungan dengan Sriwijaya. Aku pikir... kau tahu soal trah Sriwijaya."
"Trah Sriwijaya?" Ogan menyipitkan mata.
Wajah berbunga itu melamban hilang. Diam. Penuh teka-teki. Justru seperti orang yang tengah memilih kata-kata, layaknya aktor di panggung drama.
"Baiklah. Aku memang prajurit terakhir Sriwijaya. Aku bangun setelah zaman berubah. Setelah badai perang besar, aku memutuskan bertapa. Namun, justru membuatku tidur selama bertahun-tahun. Kami berlima, aku, Yaraja, Nalanda, Cudamani, dan Lagiri adalah garda terdepan di masa kejayaan Sriwijaya," katanya lirih.
"Kau pasti prajurit andalan di masa itu. Jika boleh, apakah kau tahu di mana keturunan raja-raja Sriwijaya yang masih tersisa?" kata Lematang, terus mengupas informasi.
Pertanyaan itu mengguncang dasar ingatannya. Ogan menunduk. Diam. Jawabannya berat. Pandangannya? Kosong seperti menembus ribuan tahun silam yang telah terkubur waktu.
"Maafkan aku. Sejujurnya aku tidak tahu-menahu soal raja-raja, keturunan di masa kini. Karena ketika aku bangun, zaman telah berubah, kedatuan telah runtuh, lontar-lontar, pusaka, harta benda hanya jadi artefak.
"Aku lahir kembali menjadi seseorang yang kehilangan arah. Sriwijaya sudah tinggal nama. Hanya tersisa prasasti, reruntuhan, dan benda-benda tua," tambah Ogan, wajahnya penuh penyesalan.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya balik.
"Tidak. Aku hanya kagum dengan ceritamu saja."
Lematang tersenyum. Ia meneguk minuman, menyisakan seperempat. Membiarkan kesejukan meredam panasnya siang.
***
Tiba di toko.
Mauli membawa senyum cerah dan sebuah rantang makan siang. Namun saat masuk, kasir yang biasa ramah justru terlihat gugup.
"Ke mana bosmu?"
Jira gelagapan. Mencoba menyembunyikan kebenaran demi menjaga perasaan. "Bos... sedang keluar beli susu," jawabnya dengan senyum dipaksakan.
"Susu? Sejak kapan orang tua itu suka susu?"
"Kurang tahu, Bos. K-kalau tidak salah mau beli susu beruang atau susu harimau..."
"Hah!"
Mauli semakin curiga. Penuh. Wajahnya berubah masam. Benar-benar dunia yang tak diinginkan.
Mauli melangkah ke ruang produksi. "Gawat!" Jira panik bukan main. Seakan-akan hendak terjadi perang dunia selanjutnya.
***
Hanya ada satu makhluk, Sangkut.
Sangkut yang sedang menyelesaikan karya mirip piramida mini.
"Karya baru?" tanya Mauli. Wajahnya masih curiga.
"Ya. Ini orgonit. Benda ini bisa menghalau radiasi elektromagnetik."
"Oh, ya. Berarti bagus. Kalian semakin berkembang."
Mauli mengambil satu pecahan batu warna hijau. Memperhatikan warna-warni batu yang disusun rapi.
"Ogan ke mana?"
Sangkut mengangkat bahu. "Tadi masih di sini."
"Tidak ada. Dia pergi, katanya."
"Aku tidak tahu, Bos. Aku sejak pagi sibuk sendiri," kata Sangkut, polos.
"Baiklah. Aku akan menunggunya di luar."
***
Mauli menanti dengan sabar.
Menatap layar ponselnya, mengetik pesan. Beberapa panggilan tidak diangkat, puluhan pesan tak dibalas.
Mauli tetap menunggu.
Tetap menunggu...
Meski waktu merayap pelan seperti siput kehujanan. Mauli—merias diri hingga dua jam lebih. Berharap hari ini menemukan momen spesial.
Namun...
Matanya menangkap Ogan sedang bergandengan tangan dengan wanita lain—wanita itu? Seolah firasatnya tidak pernah meleset sebagai wanita.
"OGANN!"
Mendadak suasana mencekam. Sangkut yang baru tiba tersentak hingga miniatur itu jatuh.
Kelontang!
Seperti waktu berhenti. Seketika rantang itu terasa berat. Mata berkaca-kaca seakan semua tipuan telah terbongkar.
"Astaga!"
"M-Mauli... ini tidak seperti yang kau lihat..." seru Ogan panik, langsung melepaskan genggaman.
Entah mengapa? Kenapa Ogan tahu-tahu bisa memegang tangan wanita itu?
"Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas sejak pertama kali kalian bertemu kau sudah menaruh hati bukan?"
"Kurang ajar!"
"Bodohnya aku... kenapa begitu percaya dengan laki-laki..." kata Mauli penuh sesal. Sangat menyesal karena membiarkan hatinya terluka.
Sedu, mengalir membasahi polesan yang ditata sejak pagi. Riasan itu pudar seketika.
"Mauli... Maafkan aku. Aku tidak sengaja memegang tangannya, bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa bisa terjadi."
"Aku sudah sibuk sejak pagi, memasak untukmu, merias diri berjam-jam hanya ingin tampil cantik di depanmu. Tapi apa? Kau kencan bersama perempuan lain. Kalian tadi habis makan apa? Pasti sudah makan kan? Pempek... Sate Lamus... Mustahil belum jika sudah jalan berdua," pungkasnya.
Ia melempar rantang itu.
Prak!
Nasi... Ikan... dan kuah tempoyak tumpah. Menyebar di lantai seperti lava yang mengalir dari gunung amarah. Aroma khas tempoyak memenuhi ruangan, tajam dan menusuk.
Tiba-tiba saja. Lematang menutup hidung. "Bau apa ini?" ucapnya tak nyaman.
"Mauli... Tunggu!"
Adegan itu berlanjut keluar. Ogan mengejar Mauli yang tengah kecewa.
Sedangkan Lematang? Dia pergi begitu saja karena tidak tahan dengan aroma itu.
Sangkut mengambil pengepel.
Jira memungut sisa makanan.
Setelah itu. Sangkut menggerutu sambil mengepel lantai.
"Dasar pengganggu," celetuknya dingin.
Ia menghapus jejak kekacauan di lantai putih itu, namun tak ada alat yang mampu menghapus luka di hati Mauli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficção Histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
