Grrr!
Beberapa Unu mendesis garang. Tatapan mereka menusuk, seolah Ogan adalah santapan utama. Semakin lama, jumlah makhluk itu kian bertambah seperti semut yang keluar dari sarang. Ogan mundur perlahan, tubuhnya siaga, sepasang mata menyapu sekeliling.
Salah satu Unu menerkam lebih dulu. Ogan menyambutnya dengan gesit—meloncat, mengincar kepala lalu melambung. Dari udara lantas menancapkan Akuadron ke leher lawan. Dentuman keras terdengar saat tubuh makhluk itu ambruk.
Tanpa jeda, Ogan berputar, menghantam satu per satu. Puluhan Unu terpental, melibas pepohonan hingga tumbang seperti lidi tersapu angin. Dari belakang, seekor Unu menganga, siap menelan tubuhnya bulat-bulat. Ogan menahan rahang itu dengan kedua tangan. Suara tulang retak terdengar samar.
Tiba-tiba...
Akuadron melesat dari langit. Senjata sakti itu menghantam kepala Unu hingga terjerembab ke batu besar.
Lematang tak tinggal diam. Kedua tangan terbuka lalu gas metana menyembur seperti pusaran tornado. Tiga Unu melayang, tubuh mereka mencium langit sebelum terjun bebas.
"O o!" Ogan ternganga—di hadapannya, ratusan Unu datang seperti gelombang pasang. Tanpa pikir panjang, ia menambah semangat juang untuk bertarung. Sementara Lematang menyuntikkan gas hingga satu demi satu roboh. Namun musuh terus mengalir seperti tak berujung.
"Apakah kau membawa penekil?" tanya Lematang tiba-tiba, menyeka peluh di pelipis.
Ogan mengerutkan dahi. "Penekil?"
"Ya! Mancis, mancik, koset, atau korek!" Lematang melambaikan tangan, frustrasi.
"Aku bukan perokok," jawab Ogan, bingung.
Lematang mendecak, "Orang tidak merokok pun seharusnya punya korek. Tak perlu alasan untuk tidak menyulut api!"
Mereka kini berdiri saling membelakangi, dikelilingi oleh makhluk yang terus datang. Ogan bicara cepat, "Keluarkan saja semua metanamu! Buat mereka kehabisan napas!"
Lematang menuruti. Kedua telapak tangan menyalurkan gas bertenaga besar. Suaranya melengking seperti terompet perang. Namun justru tubuhnya goyah. Dalam sekejap, ia tumbang ke pelukan Ogan sehingga tak sadarkan diri.
"Lematang!" seru Ogan panik.
Dengan satu gerakan, Ogan melontarkan Akuadron ke udara. Senjata itu berputar cepat, menciptakan lingkaran pelindung, membentuk dinding tak terlihat. Unu yang mencoba mendekat terpental, seperti menabrak dinding cahaya.
Namun, jumlah mereka terus bertambah. Ogan tahu, waktunya habis. Ia menepuk-nepuk pipi Lematang, berharap membuka mata dengan harapan baru. Tetapi tubuh itu diam, lemah seperti daun jatuh.
Tidak punya pilihan, Ogan mengangkat tubuh Lematang kemudian melayang ke langit. Meninggalkan kawanan Unu yang hanya bisa mendongak ke atas, menatap mangsanya kabur dengan mulut ternganga.
***
Dok! Dok! Dok!
Terdengar ketukan panik di pintu. Sangkut, yang tengah duduk gelisah bersama Jira segera berdiri dan membukanya. Sangkut terperanjat ketika melihat Ogan telah menggendong wanita yang dikenalnya.
"Ya ampun! Apa yang terjadi?"
"Tidak usah banyak bicara, biarkan aku masuk dulu!" blas Ogan dengan napas berat, tubuhnya luka-luka.
Ogan masuk dengan terbata-bata, kemudian membaringkan Lematang ke ranjang. Kerinci langsung membantu, membenahi pakaian dan posisi tubuh wanita itu. Rasa panik menyelimuti ruangan.
"Kami menemukan sarang Unu... jumlah mereka ribuan. Lematang mengerahkan semua tenaganya, dan dia pingsan," jelas Ogan, matanya merah.
Singkarak segera memeriksa. Mengeluarkan stetoskop dan senter kecil, menyentuh leher Lematang, memeriksa pupil dan detak jantung.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk. "Dia akan baik-baik saja. Hanya butuh istirahat."
Semua menarik napas lega. Namun Kerinci, yang sejak tadi diam, akhirnya bertanya, "Apa yang sebenarnya kita hadapi?"
"Bencana." Ogan menatapnya. "Bangsa Unu berkembang dalam hitungan menit. Sekali lahir, bisa sepuluh-dua puluh, tiga puluh. Jika kita tak hentikan... Lamus akan berubah jadi kuburan."
Hening. Kata-kata itu menempel di udara seperti kabut dingin.
"Tenang dulu. Kita pasti bisa," ujar Kerinci menenangkan.
"Bisa?" Singkarak menyambar. "Kalian pikir aku tidak takut? Tetapi kalau kita menyerah sekarang, lebih baik kita telan bom saja."
Semua terdiam. Tidak ada yang melawan. Mereka hanya manusia. Tetapi manusia yang punya harapan.
Sangkut menggenggam tangan Jira. "Kalau kita dibantai Unu... semoga kita bertemu di surga."
Jira melirik lantas menatap tangannya. "Aku tidak berpikir sejauh itu. Aku cuma lapar." Tawa getir yang lebih mirip tangis yang tertahan.
"Selama ini aku baru sadar... ternyata bos kita seorang ksatria," kata Jira lirih.
"Apa bedanya dengan pahlawan?" tanya Sangkut.
"Entahlah. Tapi rasanya... dia tetap manusia."
Ogan duduk di sudut ruangan, tangannya menggenggam kepala. Frustrasi merayap ke seluruh tubuh. Ia prajurit. Ia telah melewati perang demi perang. Tetapi untuk pertama kalinya—ia merasa kalah.
Dan saat ia mengangkat wajah...
"Ke mana Mauli?"
Semuanya tersentak. Wajah-wajah panik saling berpandangan.
"Hah?" Sangkut celingukan. "Kau melihatnya?" tanya Jira.
Sangkut menggeleng. "Tidak."
"Kenapa tidak ada satu pun yang sadar Mauli menghilang?!"
Ogan berdiri, amarah dan cemas campur aduk di wajahnya. "Jangan bilang dia diculik..."
Tak ada yang menjawab. Hanya keheningan yang menelan pertanyaan itu.
Ke mana Mauli? ini permainan Saigon? Atau... ia memilih jalan sendiri?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historical Fiction"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
