Benar.
Di hadapannya, berdiri seorang pria—dirinya. Tidak, itu hanya ilusi.
Tapi Ogan tahu, itu hanyalah tipuan.
"Dia hanya sihir, tidak lebih."
Tatapan tajam. Seperti pemburu yang mencium aroma mangsa, Saigon mengangkat batu sebesar pelukan manusia dan...
Bruakk!
Menghantam Ogan telak. Tubuh sang prajurit terpental dan terdampar di luar goa, terguling di antara puing-puing dan debu-debu.
Akuadron masih tergenggam erat seakan tak rela berpisah.
Belum sempat Ogan mengatur napas... Seseorang melompat dari langit—Lematang. Mendarat tepat di atas perut. Lantas duduk seperti seorang ratu yang baru saja menangkap mangsanya.
"Apakah kau tidak sadar, kau itu tampan?" gumamnya sambil menyusuri garis otot perut Ogan dengan jari.
"Wanita jalang? Kau datang hanya untuk mengacau," sahut Ogan datar, menahan diri. Matanya awas, tapi tak bergerak. Ia mengikuti gerakan tangan wanita itu yang kini menyentuh dadanya.
Gerayangan halus namun beracun.
"Sejak awal aku jatuh cinta padamu, prajurit."
"Lepaskan!"
Ogan menyingkirkan tangan Lematang dengan tegas, membuang muka. "Kau merusak hubungan kami." Ia bangkit, merangkak lalu berdiri, menjauh untuk menjaga jarak dari godaan dan ancaman. Tapi sebelum melangkah...
Pukulan telak mengenai Lematang. Pukulan dengan amarah besar, lepas, serta menyakitkan.
"Ughh..." Lematang, tak berdaya, tubuh itu tak bisa lagi menerima serangan. Namun...
"Apa tujuan kalian datang ke sini?"
Ogan, mencekik lehernya hingga tak bernapasan. Hanya suara tahan, berat dan susah bernapas. "O-Ogann, M-maafkan a... aku... Aku terpaksa melakukan... itu kare... na..."
"KARENA APA? JAWAAABBB..."
Ogan semakin kuat menahan leher itu, semenit lebih lama maka, leher itu akan putur.
Tetapi.
"Aku... terpaksa... karena kakakku... S-Saigoonnn.."
Ucapan itu bagai racun berbalut madu. Meski terdengar tulus, Ogan tak goyah.
Entah mengapa... cengkeraman itu lepas. Ada sesuatu yang menyadarkan Ogan. Lematang... wanita seperti terkena karma. Dia bukan lagi wanita sekuat herkules, bukan juga sekuat odin. Dia hanya lematang, wanita kesepian, menyedihkan.
"Orang tua kami telah mati bertahun-tahun lalu. Tetapi Saigon selalu diikuti oleh bayang-bayang orang tua kali seolah mereka masih hidup. Saigon selalu bilang ada cara untuk mengembalikan kehidupan mereka. Rencana ini adalah idenya, dan aku... terpaksa melakukannya," terang Lematang.
Tanpa aba-aba. Tanpa perintah. Tiba-tiba Akuadron justru menyerang Lematang lagi. Tubuh wanita itu terlempar.
Dan...
Secara kebetulan menabrak Kerinci. Lelaki itu merangkul Lematang. Syok. Seolah dipeluk bidadari dari langit.
Huak!
Lematang batuk darah, sementara Kerinci bergeming dengan pipi memerah. "Cika, kau... kau baik-baik saja?" tanyanya, sembari membersihkan bokongnya dari lumpur.
"Kerinci..."
"Kenapa kau di sini?"
"Aku tak sengaja ke sini," jawab Kerinci datar, meski jantungnya masih berdetak seperti lari kuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Historyczne"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
