Chapter 25

7 0 0
                                        

Seorang ibu-ibu berdiri di depan etalase, tampak mewah seperti ingin masuk undangan gala dinner—tas merah menyala tergantung di lengan, perhiasan bergemerlap menghiasi leher, telinga, dan pergelangan tangan. Bibirnya semerah delima, alisnya setebal parit sawah, dan raut wajahnya... terlalu serius untuk sekadar melihat-lihat barang.

Jira menyipitkan mata.

"Kenapa ibu itu berdiri bengong seperti Patung Ikan Belido?"

Sangkut yang sedang mengelap kaca ikut melirik.

"Mana aku tau. Coba kau tanya sendiri, kan kalian sama-sama ibu-ibu. Ups!"

"Sangkut!!" suara Jira meninggi. Wajahnya memerah.

Dua karyawan itu malah asyik bercanda di balik etalase. Untung si ibu belum dengar. Kalau sampai dengar, bisa-bisa mereka disemprot seperti wajan gosong. Sifat Jira memang meledak-ledak, apalagi kalau sudah dibilang ibu-ibu. Baginya, itu penghinaan level tinggi.

"Aku tuh masih muda, tahu! Mulus, glowing, unyu-unyu. Beda dong sama ibu-ibu yang sudah keriput," sentil Jira dengan nada ketus.

Sangkut cengar-cengir.

"Ya tapi, sama-sama perempuan, kan? Lagian kau kadang cerewet."

Seketika...

"He-em!"

Suara itu datang begitu saja. Tidak diundang, tidak dikode. Bukan pula suara jailangkung, tapi justru lebih lebih merinding.

Jira dan Sangkut langsung menoleh.

Ternyata, ibu-ibu berdandan menor tadi telah berdiri di hadapan mereka seperti utang yang tiba-tiba ditagih. Wajahnya kaku, tatapannya tajam, dan tubuhnya tak bergeming. Yang lebih ngeri, dia muncul tepat setelah kalimat "keriput" diluncurkan.

"Anda barusan bicara apa?" suaranya menusuk seperti pisau tumpul yang menyayat pelan.

"B-bukan, Bu. A-anu itu... itu... terong! Terong teman saya, Sangkut, sudah keriput," Jira gagap cari alasan. Bukan makin mulus, malah makin kusut.

Sangkut menoleh tajam.

"Apaan sih, Jira?! Terongku tuh masih mulus, glowing malah! Aku rawat tiap hari!"

"Sudahlah, diam. Ssssttt!" Jira mendesis seperti ular, berharap bisa menghapus suasana canggung.

Ibu-ibu itu mendengus pelan.

"Kalian aneh. Aku cuma mau beli batu akik buat suamiku. Besok dia ulang tahun. Dia suka koleksi batu, makanya aku datang ke sini."

Jira langsung pasang senyum paksa.

"Baik, Bu. Silakan pilih. Semua jenis tersedia—tinggal tunjuk."

Sang ibu bergerak, matanya tajam menyapu kaca. Jemarinya menunjuk sebuah cincin berhiaskan batu hijau lembut.

"Yang ini... berapa harganya? Dan ini batu apa? Kok kayak lumut di pinggir got."

"Itu giok, Bu. Konon dipercaya baik buat kesehatan."

"Hah? Emangnya ini batu apa, dokter?" tanyanya, curiga.

"Eeh... bukan, Bu. Itu hanya kepercayaan orang zaman dulu." Jira menjelaskan, masih dengan nada sabar.

"Suamiku sehat kok. Nggak perlu dokter batu-batuan."

Tiba-tiba tangannya menunjuk cincin lain.

"Kalau ini?"

"Itu bacan."

"Bacan? Bisa ngobatin juga?"

"Maaf, tidak bisa. Tapi bisa buat... touchscreen."

"Tokrin? Maksudnya... nyentuh layar HP?"

"Iya, Bu. Bisa gerakin layar HP."

Ibu itu mengernyit. "Aduh, jangan-jangan nanti HP-nya kena hack? Bahaya itu. Bisa-bisa video bo—"

Diam. Mulutnya refleks tertutup. Matanya celingukan, wajahnya memerah.

Jira dan Sangkut tertegun. Pikiran mereka langsung ke mana-mana.

"Maaf! Video apa, Bu?" tanya Sangkut polos.

"Hus!" Jira menyela cepat.

"A-anu... video bocah. Iya, video anak-anak. Kalo di-hack kan kasihan."

"Ooo, video bocah..." jawab mereka berbarengan.

"Kirain video bo—"

"HEH! Jangan diperjelas!" Jira menatap tajam, seakan laser keluar dari matanya.

"Maaf-maaf, Bu. Dia emang kadang galak buyan (suka bodoh)."

Alhasil. Ibu itu tidak jadi beli.

***

Sangkut, masih tercengang, menoleh ke arah Jira.

"Aku masih kepikiran, dia tadi berkata..."

Plak!

"Aduh! Sakit tahu!"

"Pikiranmu selalu jorok! Dasar laki-laki mesum!" sentak Jira judes.

"Lho, kau juga mikirnya sama, kan tadi ekspresimu kayak habis liat film larut malam."

"Huh, dasar kau!"

Jira ngambek. Tetapi entah kenapa, ia malah buka laci, ambil keripik jengkol lalu duduk di kursi kasir. Mulutnya mulai sibuk seperti tidak pernah berkata apa pun.

Sangkut menghela napas.

"Wajar saja namanya juga perempuan, mulutnya ada dua."

Kalimat itu meluncur seperti peluru nyasar—tanpa kendali, tanpa sensor. Jira langsung membeku. Wajahnya memerah, bukan karena marah, tetapi malu luar biasa. Dia sadar, kata-katanya barusan seperti jebakan yang dipasang sendiri.

Sangkut hanya diam.

Senyumnya hilang, digantikan oleh kesenyapan yang lebih nyaring dari teriakan.

Mereka berdua tahu... ke mana arah kalimat itu meluncur. Dan tak satu pun dari mereka berani membahasnya.

Dia tetap duduk. Tatapan ke depan. Berusaha santai dengan suara berisik seperti tikus makan tulang. Menyumpal mulutnya dengan keripik satu demi satu, seolah camilan itu bisa meredam keheningan yang canggung.

Sementara, Sangkut hanya menatap tanpa kata—tawa yang tadi lepas kini terkurung di ujung bibir.

Tidak ada yang bicara. Tapi keduanya tahu: kadang, kesalahan kecil lebih lucu daripada lelucon yang dipaksa.

Ogan | Kitab WalasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang